
Aqua kembali melakukan pekerjaannya. Melakukan syuting drama seperti biasa. Meskipun rasa bersalah tidak berhenti menghantuinya. Waktu satu bulan akhirnya berlalu. Namun, Arima belum juga ditemukan, tidak ada kejelasan tentangnya juga.
Aqua duduk di samping meja sutradara Gotanda. Sebuah topi baret berwarna hitam dengan pita di belakangnya jatuh ke bawah meja. Aqua mencoba meraihnya. Sebuah tangan ikut mengambil topi baret tersebut.
"Arigatou, senpai. Aku khawatir ini kotor, tapi kau mengambilnya." Seorang gadis dengan gaun sepaha berdiri di depan Aqua. Ia memakai topi baretnya dan segera melangkah pergi.
"Arima…" bisik Aqua setelah melihat gadis dengan rambut hitam tadi pergi.
Sutradara Gotanda menatap Aqua, memukul kepala Aqua keras dengan skrip drama miliknya. Aqua yang sudah seperti anak laki-lakinya itu terlihat menyedihkan. Ia sering melamun, jarang tersenyum, dan tidak seperti memiliki ambisi.
"Kau seperti orang mati." Gotanda mengingatkan. "Terlihat seperti zombie."
Aqua hanya bergeming, ia menyadari keanehan dirinya setelah kepergian Arima. Bahkan dia sudah berkali-kali untuk bersemangat dan ceria. Namun, semua terasa mustahil. Aqua seperti kehilangan semangat hidupnya.
"Arima…" Aqua membuka mulutnya. Gotanda duduk di sevlahnya, memerhatikan. "Dia selalu memintaku untuk berhenti balas dendam. Sebelum kejadian ini, aku berniat membuat Hikaru Kamiki mati dengan tanganku sendiri." Aqua menatap kedua tangannya yang bergetar.
Gotanda memerhatikan wajah Aqua yang sudah memerah, dia hanya menundukkan kepalanya dalam.
"Dia bahkan mengatakan akan tetap menjadi temanku meskipun aku akan dicap sebagai penjahat." Air mata akhirnya keluar dari mata Aqua. "Tapi, kenapa justru Arima yang mati? Kenapa justru dia yang membuat sialan Hikaru Kamiki masuk penjara dan sekarang dia sudah mati!!!" Aqua menahan sesak di dadanya.
Wajah Arima yang tersenyum kini memenuhi bayang-bayang Aqua. Percakapannya dengan Kana malam itu di apartemen Kana, semua kenangan bersama Kana muncul, membuat semakin sesak dada Aqua.
"Sialan Hikaru bahkan tidak menyesal seperti kata Arima." Aqua menutup mulutnya, menahan isakannya yang terdengar keras. "Orang yang tidak ingin aku libatkan justru dia yang mati. Rasanya…. Rasanya…."
Gotanda mengelus kepala Aqua lembut. "Kau tidak membunuhnya. Kau masih melindunginya, hanya saja semua diluar kendalimu."
Aqua kembali menangis. Ia merasa rasa sesak itu berkurang, meskipun hanya sedikit. Aqua tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa tentang perasaannya saat ini selain dengan Gotanda, yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Aku merasa seperti pembunuh Arima sekarang!"
Gotanda menatap Aqua. "Kau kenal Arima-san bukan? Kira-kira kalimat apa yang akan dia berikan padamu saat kau mengatakan itu."
"Mati sana! Sudah kubilang kau tidak akan melakukan hal gila!"
Aqua seolah mendengar suara Kana dalam pikirannya. Kana hanya akan mengutuknya dengan kata yang sama. Atau dia akan mengatakan bahwa Aqua selalu membohongi dirinya sendiri.
"Dia hanya akan memaki dirimu dan tertawa jahat, meski aslinya dia gadis yang sangat baik." Gotanda duduk di kursinya. "Dia gadis yang memberikan segala cintanya dengan tulus, meski akhirnya seperti ini. Kau terlambat menyadari itu. Dia yang membuatmu keluar dari zona nyaman belakang panggung hingga kau muncul di atas panggung dan terkenal seperti sekarang. Bahkan aku merasakan kebaikan dan mulut kasarnya untuk membentuk dirimu agar jujur dan setulus dirinya."
Aqua bergeming mencerna kalimat Sutradara Gotanda.
"Membohongi diri sendiri juga ada batasnya. Kau sudah lama memendam rasa itu padanya. Kalau kau lebih jujur dan tidak menolak rasa yang bersemayam itu, kurasa kau tidak akan semenyesal ini." Sutradara Gotanda berdiri, menatap Aqua yang masih menundukkan kepalanya. "Cepatlah kembali bersemangat karena ada banyak proyek baru untukmu."
...****************...
Akane menemui Mem di sebuah kafe. Mereka membahas tentang pekerjaan mereka akhir-akhir ini.
"Lagu yang kalian rilis sangat bagus." Akane tersenyum menatap Mem. "Itu lagu untuk Kana-chan ya?"
"Aku sangat merindukannya. Sangat…" Mem mulai menangis. "Kalau bisa memutar waktu, aku akan menghalangi dia pergi malam itu."
"Sudahlah Mem… Semua terjadi di luar kendali kita." Akane menenangkan. "Lalu apa ada kabar tentang Kana-chan dari kepolisian?"
Mem menggeleng. "Belum, tapi kami tidak berhenti berharap untuk segera menemukan Kana-chan baik dia masih hidup atau sudah mati."
Akane terdiam beberapa saat. "Apa Aqua-kun baik-baik saja?"
"Dia orang yang paling terluka. Setiap hari terlihat seperti zombie. Dia sibuk dengan syuting, tapi juga terganggu pikirannya dengan Kana-chan."
"Aqua-kun masih membohongi perasaannya pada Kana-chan. Padahal sejak awal berpacaran denganku dia sudah menyukai Kana-chan," komentar Akane.
"Dia pernah mengatakan padaku, jika Kana-chan mati itu akan menghancurkannya sepenuhnya." Mem mengingat kalimat Aqua waktu itu.
"Aqu-tan masih menganggap bahwa Kana-chan masih hidup. Entah apa alasannya. Di hari Kamiki Hikaru mati bunuh diri, Aqu-tan sempat bertemu dengannya. Sepertinya mereka membahas Kana-chan." Mem menyeruput minumannya. "Aku juga masih berharap Kana-chan baik-baik saja dan dia kembali menemui kita."
"Bagaimana jika Kana-chan benar-benar terbunuh?" tanya Akane pada Mem.
"Aku tidak akan menolak fakta itu, tapi aku tetap berharap dia masih hidup," jawab Mem dengan nada sedih. "Dia memang bermulut kasar, tidak percaya diri. Tapi dia pekerja keras dan sangat menyayangi teman-temannya."
"Aku akan mencoba mencari Kana-chan semampuku," ucap Akane.
...****************...
Dua bulan sudah Kana menghilang, tidak ada kabar tentangnya. Aqua kembali ke psikiater untuk membuat dirinya kembali normal. Ruby semakin bersinar bersama Mem karena lagu mereka untuk mengenang Kana.
"Kita dapat proyek film bersama lagi ya…." Akane tersenyum saat ia bertemu dengan Aqua di ruang tunggu gedung.
"Iya, semoga film ini sukses." Aqua segera berdiri menjauhi Akane.
"Soal Kana-chan…." Akane menghentikan langkah Aqua. "Aku mau membantumu mencarinya."
Aqua melanjutkan langkahnya. Dirinya sudah ingin melupakan Kana, meskipun rasa bersalah ini tidak kunjung hilang. Bukan rasa bersalah, tapi rasa yang tumbuh seperti kata Gotanda beberapa waktu lalu pada Aqua. Ia tidak mengerti perasaan apa itu, hingga ia selalu membohongi dirinya sendiri. Mengubur perasaannya pada Kana hingga ia tidak tahu bahwa itu bom waktu.
...****************...
Akane menatap Aqua yang sibuk membaca naskah. Interaksi antara dirinya dengan Aqua benar-benar tidak ada selain pada saat memerankan peran mereka di film terbaru.
Akane melangkah menuju kamar mandi setelah melakukan beberapa scene. Hari sudah sangat malam, managernya menunggu di pelataran parkir. Akane menatap Aqua yang masih duduk di kursi panjang menunggu Miyako menjemputnya. Kepalanya menengadah ke langit, tatapannya kosong.
Tangan kanan Aqua terangkat, seperti membelai angin. Air mata keluar dari matanya. Ia menahan tangisnya.
"Gomen…." bisik Aqua. "Gomen!" teriak Aqua seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Gomen… Gomen… Gomen…."
Akane memalingkan wajahnya, melangkah menjauhi Aqua. Sama seperti Aqua yang menangis, Akane juga menangis. Sudah tidak ada harapan untuknya mengemis cinta dari Aqua. Pria itu hanya memikirkan Kana, bahkan sampai menangis di tempat sepi seperti ini.
"Aku tidak bisa membantumu…." Akane menghapus beberapa artikel yang sempat ia baca.
Rasa cemburu membakar rasa kasihannya. Dia sudah tidak peduli berita tentang Kana. Akane merasa selalu kalah dari Kana, bahkan soal percintaan juga. Akane kalah telak. Salahnya yang sudah membuka hati untuk Aqua dan membiarkan rasanya semakin besar meskipun ia tahu, Aqua tidak tertarik padanya.
...****************...
Ruby menatap Aqua yang baru pulang dari syutingnya malam itu. Ia duduk di sebelah Aqua, menyodorkan segelas teh hangat. Aqua meraihnya, tersenyum dan meminumnya.
"Bagaimana harimu, onii-chan?" tanya Ruby dengan senyum yang terus mengembang.
"Melelahkan…." jawab Aqua seraya menatap gelas berisi teh. "Gomen ne Ruby, aku tidak pernah memerhatikanmu lagi."
"Kau pasti terpukul. Tapi cepatlah bangkit, onii-chan. Ah bukan tapi sensei." Ruby tersenyum menatap Aqua.
Melihat senyum Ruby, Aqua tersadar jika hidupnya belum berakhir. Masih ada yang harus ia lindungi. Meskipun rasanya dia sangat terpukul dengan kepergian Kana. Tapi, Aqua merasa ia punya tujuan lain sekarang. Dia masih memiliki Ruby, gadis yang harus ia lindungi, karena ia telah gagal melindungi dua perempuan yang berarti untuknya.
Aqua mengelus kepala Ruby hangat. "Arigatou…."
"Apa besok kau libur? Aku ingin pergi berbelanja denganmu. Kau mau kan, onii-chan!" tanya Ruby penuh semangat.
"Boleh, aku juga sudah lama tidak menghirup udara segar." Aqua tersenyum menatap Ruby dan segera berdiri meninggalkan Ruby.
"Daisuki, onii-chan!" teriak Ruby dengan wajah merona dan segera berlari ke kamarnya.
Pernyataan itu lagi. Perasaan Ruby padanya yang dulunya adalah seorang dokter. Apa Ruby tidak bisa menganggap diri Aqua adalah Aqua saudara kembarnya dan bukan Gorou lagi.
...****************...