Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Memori Kana (3)


Chapter ini panjang banget.


Happy Reading...


Aqua kembali terseret ke ruang tamu keluarga Arima. Ia memilih duduk di samping Karma. Memeriksa musim di luar melalui jendela. Matahari terik menyinari rumah ini. Ia dibawa kembali ke musim panas.


"Ibumu selalu meminta izinku untuk membuat pernyataan tentang kematianmu. Apa kau mau mengumumkan kau masih hidup?" tanya Akino membuka percakapan di antara dirinya dan dua anaknya, terutama Kana.


"Umumkan saja kematianku." Kana menjawab dengan wajah datar. "Mama hanya ingin asuransiku saja. Tapi, sebelum itu saat pemakaman aku akan pergi mengambil stempel milikku di loker stasiun."


"Lalu bagaimana dengan jasadmu yang belum ditemukan?" tanya Akino lagi.


"Berikan saja jasad dengan jam tanganku." Kana meletakkan jam tangan miliknya di atas meja. Jam tangan pemberian ibunya sebelum meninggalkannya sendirian. "Aku tidak ingin menginjak tempat yang sama seperti dunia hiburan mulai sekarang."


"Baiklah, besok aku akan menelusuri tempat kejadianmu dulu. Kau bisa tinggal berdua bersama Karma. Setelah itu aku akan mengabari ibumu bahwa kau sudah meninggal. Dan kita akan pergi mengambil stempel milikmu saat pemakamanmu."


"Musim panas ini tepat satu tahun aku menghilang, maka kita harus menyesuaikan waktunya." Kana memasang wajah serius, ada tatapan kesal dari sorot matanya.


"Kenapa kau tidak mau mengatakan kau masih hidup? Apa tidak ada teman yang ingin kau temui?" tanya Karma.


"Aku rasa mereka sudah lupa padaku. Lagipula mereka semua orang sibuk dan terkenal. Aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan menginjak dunia hiburan lagi, begitu juga dengan orang-orang yang aku kenal." 


"Ya, itu tidak masalah. Tapi kenangan yang tercipta bersama mereka jangan kau hilangkan begitu saja. Itu berharga, meski menyakitkan, kau juga pernah bahagia bersama mereka." Karma mencoba memberikan komentarnya pada Kana sebelum ia beranjak pergi ke kamarnya.


"Kau berjanji padaku, Kana." Akino berdiri di hadapan Kana, menatap mata Kana dengan seulas senyum tulus. "Kau harus bahagia, dan aku akan membantumu untuk bahagia."


Dengan pelan, Kana akhirnya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.


...****************...


Kembali berpindah tempat dengan sangat cepat. Kini Aqua berdiri di stasiun  kereta api bawah tanah. Ia menemukan Kana yang tengah berdiri di depan loker tinggi dengan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Ia membuka loker dengan sandi miliknya, mengambil cap stempel namanya di sana. Tak lama ia masuk ke dalam mobil milik Akino. Aqua ikut masuk dan duduk di samping Kana.


"Pemakamanmu sudah mulai, ayah sudah mengambil dokumen yang bisa diamankan untuk menangguhkan asuransi milikmu." Akino menjelaskan. "Kau mau melihat pemakamanmu?" tanya Akino melirik Kana yang duduk di sebelah kursi pengemudi.


"Ya, aku mau lihat." Kana menjawab dengan wajah serius. "Aku hanya ingin melihat siapa saja yang datang ke pemakamanku."


"Kau tidak khawatir banyak orang?" tanya Akino khawatir.


"Sebentar saja."


Pemakaman Kana dipenuhi banyak wartawan, kabar yang beredar akan diadakan secara tertutup, tapi ada banyak wartawan di sana. Suara decak dari mulut Kana terdengar, ia tidak habis pikir bahwa ibunya sangat sekali uang dan popularitas. Ini pasti menjadi ladang uang untuknya, pikir Kana.


Dengan pakaian serba hitam, dan topi hitam juga. Aqua melangkah bersama Kana yang bersembunyi diantara beberapa wartawan dan tamu yang hadir.


Aqua bahkan bisa melihat dirinya sendiri di pemakaman Kana saat itu. Wajah pucat, tampang lusuh dan tatapan seolah tidak punya harapan. Ia tersadar bahwa dirinya ternyata begitu terpuruk hanya dengan kehilangan Kana.


Mereka melangkah keluar gedung, setelah melihat siapa saja di sana. Tanpa sengaja Kana menabrak Aqua yang tengah berekspresi seperti orang kebingungan. Stempel milik Kana terjatuh. Kana segera meraihnya dari tangan Aqua dan berlari dengan sangat cepat, bahkan ia melompati pagar agar segera sampai ke parkiran.


Aqua ikut berlari mengikuti Kana yang bisa dengan sangat lincah melompat pagar setinggi satu meter itu. Ia tersenyum dan menggeleng. "Ternyata itu benar dirimu ya… Harusnya aku mengejarmu waktu itu." 


Seolah menunggu kehadiran Aqua, Kana dan Akino masih berdiam diri di dalam mobil dengan mesin menyala. Pandangan Kana dan Aqua kini bertemu, ia masuk ke dalam mobil dan sesaat kemudian Akino menginjak pedal gas mobil melaju keluar dari gedung pemakaman.


...****************...


Setelah berada di mobil kini Aqua berdiri di peternakan Ishigami, tempat ia bertemu lagi dengan Kana. Ia terus mengikuti Kana dan dirinya sendiri di dalam ingatan Kana. Mendengar semua percakapan dan kegiatan keduanya dengan begitu cepat.


Aqua kembali terbawa ke waktu yang berbeda. Waktu di mana Kana dan Aqua sudah bertemu di ruang tengah milik keluarga Arima. Malam dimana Kana akan membantu Aqua untuk drama barunya. Setelah pertemuan itu, Kana duduk di kamarnya bersama gadis gagak.


"Kenapa A-kun punya dua benang merah?" tanya Kana pada gadis gagak.


"Kau bisa melihat keduanya?" tanya gadis gagak tidak percaya.


Kana mengangguk. "Punyaku terhubung dengan milik A-kun." Kana menatap jari kelingkingnya sambil tersenyum tipis.


"Warna apa yang ada di kelingking kiri milik Aqua?" tanya gadis gagak menguji Kana.


"Biru muda. Warna yang berbeda dengan milikku. Warna yang tersambung dengan punyaku warna merah ada di jari kelingking kanannya, sementara warna biru terang di jari kelingking kirinya." Kana menatap gadis gagak bingung. "Apa jodohnya dua orang?" tanya Kana lagi.


Gadis gagak merubah posisinya. "Iya, satunya adalah janji dengan Sarina sebelum dia bereinkarnasi."


"Lalu? Apa artinya mereka berjodoh juga?" tanya Kana.


Aqua duduk mendekati Kana, mencoba untuk serius mendengar percakapan dua orang itu. Aqua tidak bisa melihat benang merah di jarinya lagi. Jadi, dia mencoba menyimak dengan baik.


Gadis gagak duduk di hadapan Kana. "Jika aku katakan ya, bagaimana?"


Kana melihat kembali jarinya dengan tatapan sedih. "A-kun akan menepati janjinya. Aku yakin sekali. Ruby juga suka menagih itu, bahkan sepertinya sudah sejak lama." Kana terdiam sejenak, seolah mencari jawaban yang tepat.


"Itu yang kau yakini?" tanya gadis gagak.


"Wajah A-kun ketika bersamaku juga seperti penuh rasa bersalah. Aku tidak tahu jika aku sampai membuat dia frustasi juga." Wajah Kana memerah, ada rasa sedih berselimut kebahagiaan ketika melihat Aqua lagi, tapi tatapan Aqua padanya tidak lagi seperti dulu, hanya tersisa tatapan penuh kesedihan. "Apa dengan memutuskan benang merah denganku, A-kun bisa terbebas dari rasa bersalahnya?"


Air mata di wajah Kana akhirnya mengalir, ia mencoba menahan isakannya, namun itu terlalu sulit untuknya. Ia ingin sekali melihat Aqua hidup tanpa rasa bersalah padanya, karena semua kejadian yang terjadi padanya itu murni karena garis hidupnya.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Bukannya wajar dia terlihat frustasi, karena ayahnya hampir membunuhmu dan dia merasa bersalah?"


Kana mengangkat kepalanya, menatap gadis gagak. "Dia tidak pernah menyukaiku. Aku saja yang bodoh dan mengejarnya setengah mati. Aku marah, ngambek, mengomel, memakinya seperti orang gila. Harusnya aku sadar dia tidak pernah melihatku seperti seorang wanita. Aku hanya teman untuknya…" jawab Kana pelan.


"Kau yakin dia tidak menyukaimu?" tanya gadis gagak lagi.


Kana mengangguk. "Bahkan dia berciuman dengan Akane, berkencan dengannya. Menempel erat dengan Ruby. Tapi, benar-benar aku terlalu bodoh berpikir dia juga menyukaiku."


Aqua menatap wajah Kana sedih. Ia terlalu menutup dirinya, tidak ingin mengakui perasaannya, dan selalu berpikir untuk balas dendam. Ia juga selalu mengelak tentang perasaan pada Kana, dan yakin perasaan suka dan cintanya hanya pada Ai seorang. Padahal dua perasaan itu berbeda.


"Kenapa harus dua benang merah? Kenapa tidak satu saja! Kalau dia benar milikku, harusnya hanya ada satu saja, kenapa harus ada dua!" seru Kana seraya berdiri dengan tangan mengepal.


"Takdir Aqua Hoshino memang denganmu, tapi karena dia diisi oleh jiwa Goro Amemiya, maka dia jadi punya tanggungan di kehidupan sebelumnya. Ditambah dia masih memiliki memori saat menjadi Goro dan dia lahir kembali bersama Sarina yang mengikat janji dengannya." Gadis gagak mencoba menjelaskan.


"Jiwa Aqua Hoshino yang asli sudah mati, jadi ini memang bukan tempatku." Kana duduk di depan meja rias miliknya.


"Jadi?"


Kana akhirnya membuka laci meja rias setelah berpikir sejenak tentang kisah cintanya. Ia mendengus pelan, mencari jarum dan mengeluarkannya.


"A-kun tidak akan bisa hidup bersamaku. Aku tidak ingin kembali ke Tokyo lagi, aku ingin selamanya di desa ini. Dan aku yakin dia akan semakin terkenal dan bersinar sampai 5 atau 10 tahun lagi. Jadi, aku akan memutuskan benang merahku dengannya. Dia tidak perlu susah payah merasa bersalah padaku. Karena aku tidak ingin seseorang mencintaiku karena rasa iba." 


Kana menusuk jari telunjuk kanannya dengan jarum. Darah menetes di sana. Ibu jari dan telunjuknya bertemu, meleburkan darah di sana. Kana mendekatkan tangan kanannya ke sisi jari kelingking kirinya. Ia memotong benang merah miliknya dengan Aqua. Benang merah itu akhirnya terpotong.


"Kau benar-benar memotongnya?" tanya gadis gagak tidak percaya.


"Ya, aku sudah merelakan A-kun bersama siapapun." Kana berusaha tersenyum di antara wajahnya yang memerah. "Dia juga tidak akan bisa lepas dari Ruby karena janjinya. Aku cinta sejati Hoshino Aqua bukan cinta sejati Goro Amemiya. Jadi, aku murni dengannya hanya teman."


Kalimat Kana sukses membuat Aqua tersayat. Ini benar-benar menyakitkan. Meskipun jiwanya adalah Goro Amemiya, tapi ia seperti sudah memiliki tembok besar diantara jiwanya yang lama dengan tubuh milik Hoshino Aqua. Bahkan Aqua merasa dirinya sudah lepas dari bayang-bayang jiwanya yang lama. Semua kemampuan dan kecerdasan serta fisik bahkan cara berpikir seolah menyatu dengan Hoshino Aqua bukan lagi Goro.


"Kau harusnya bisa membuat kebahagiaanmu dengannya, kenapa justru kau memutusnya? Aku tidak mengerti denganmu!" protes gadis gagak pada Kana.


"Aku tidak perlu egois. Hidup bersama Karma, ayah dan penduduk desa ini sudah cukup membuatku bahagia. Jika kau punya cara untuk menghilangkan memoriku sebelum aku mati, mungkin aku juga akan memilih itu." Kana berdiri, melangkah mendekati kasurnya. 


Aqua ikut berdiri mendekati Kana. Duduk di samping Kana yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Wajah Kana sudah merah, ia kembali menangis. Ada rasa menyesal di hatinya, namun Kana mencoba untuk melempar jauh rasa sesal itu. Ia tidak boleh menyesal.


"Kana…" Gadis gagak berdiri mendekati Kana. "Kau tahu, jika Aqua ternyata menyukaimu dan dia berusaha untuk mendapatkanmu. Maka benang merahmu bisa menyambung kembali dengannya."


"Aku akan berusaha untuk terus memutusnya!" seru Kana pelan, ia menutup matanya dengan lengannya.


"Bukankah kau egois? Kau tidak tahu pasti perasaan Aqua padamu, kan?" tanya gadis gagak lagi.


"Sekalipun aku tanya, dia akan menjawab aku tidak pernah suka dengan gadis bermulut kasar sepertimu!" jawab Kana, seraya mengingat ocehan Aqua.


"Tapi, kau harusnya…" 


"Sudahlah! Aku sudah memutuskan untuk tidak akan mencintai Hoshino Aqua lagi. Dia bukan milikku, bukan untukku dan hanya temanku saja. Teman, teman dan teman!" seru Kana. "Jangan membuatku harus menyukai dia lagi! Aku sudah berhasil melupakannya 3 tahun ini dan tiba-tiba dia datang! Bukankah itu menyebalkan! Harusnya aku pura-pura amnesia saja!"


"Baiklah… Aku mengerti. Jika ada yang ingin disampaikan aku akan kembali ke sini." Gadis gagak pun menghilang.


"Aku akan berusaha keras untuk tidak menyukaimu lagi. Jadi, ayo semangat Kana!" seru Kana dengan wajah penuh keyakinan.


Aqua merebahkan tubuhnya di samping Kana, memiringkan tubuhnya untuk menatap Kana sepuasnya. Melihat Kana sedekat ini, ia hanya mengingat ciuman panasnya dengan Kana. Kenapa hanya dengan Kana ia bereaksi seperti kerasukan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aqua seraya menatap wajah Kana yang tertutupi lengannya. "Haruskah aku berhenti? Atau haruskah aku kembali berjuang, Kana?"


Kana merubah posisinya, tubuhnya menghadap ke arah Aqua. Wajahnya memerah dengan mata yang sudah terpejam.


"Aku tidak ingin berhenti, tapi kau terlihat tidak menyukaiku. Jika, aku terus berjuang kau akan terus memotong benang merah diantara kita." Aqua menatap Kana sedih, jari Aqua mengelus pipi Kana lembut. "Jika saja aku tahu kau begitu terluka, aku akan pergi hari itu. Aku tidak ingin membuat kenangan bersamamu lagi."


Aqua mendekatkan wajahnya ke wajah Kana, mendengar napas Kana yang lembut, menatap bibir merah Kana. Ia menyapu bibir Kana pelan dengan jemarinya, meski ia tahu itu hanya seperti menyentuh angin. Sedetik kemudian Kana membuka matanya, bertemu tatap dengan mata Aqua. Namun, dengan cepat Kana segera memejamkan matanya lagi. 


"Pergilah A-kun…" suara Kana terdengar. "Cukup sampai di sini saja kau mendengar penjelasanku."


Aqua tersentak kaget, Kana mengatakan sesuatu padanya. Ia segera berdiri, menjepit tubuh Kana di bawahnya, mencoba mencari tatapan Kana yang menghindarinya.


"Kau bisa bicara padaku?" tanya Aqua kaget. 


"Sampai di sini saja. Aku membagi memoriku denganmu, sampai sini saja." Kana membuka matanya, menatap mata biru milik Aqua dengan sedih. "Kita hanya teman yang baik."


"Kenapa? Jika alasanmu hanya karena janjiku dengan Sarina-chan! Maka aku akan mengatakan itu tidak perlu ditepati!" seru Aqua dengan wajah memerah. "Aku Hoshino Aqua bukan Goro Amemiya menyukaimu, Kana. Aku menyukaimu…" lanjut Aqua dengan suara keras.


Kana meraih kedua pipi Aqua. "Hiduplah bahagia bersama Ruby. Tepati janjimu. Kau pria baik yang pernah kutemui." Kana menghela napas pelan. "Sekarang kembalilah, jangan menyukaiku, kita hanyalah teman. Aku berterima kasih untuk waktu di mana kau seperti warna dalam hidupku. Aku berterima kasih, maafkan aku yang selalu mengucapkan kata-kata kasarku padamu."


Suara isakan Kana terdengar. Aqua menghapus air mata Kana lembut, sudah berapa kali ia melihat Kana menangis hari ini. Ia bisa menyentuh Kana seperti Kana yang bisa menyentuhnya.


"Aku tidak mau!" seru Aqua. "Sekali ini saja aku ingin egois! Memilikimu! Aku berbohong selama ini pada perasaanku! Apa kau mengerti! Kau juga menyukaiku! Kenapa mengalah? Jadilah lebih egois dari ini!" Aqua mengeraskan rahangnya. "Kana! Aku akan terus mengejarmu, meskipun kau memutusnya berkali-kali!"


Kana menghapus air matanya kasar, mendorong tubuh Aqua di atasnya. "Pulanglah… Aku sekarat!" Kana meraih wajah Aqua dan mencium bibir Aqua lembut.


...****************...