
Aqua terbangun setelah mendengar alarm dari ponsel miliknya. Sesuatu yang hangat ia rasakan di tangannya. Pandangannya teralih pada Kana yang sudah tertidur di bawah sofa tempat Aqua tidur. Tangan Kana bertaut dengan tangannya. Aqua mencoba mengingat kejadian semalam, ia hanya sedang mimpi buruk, tapi ia tidak menduga Kana akan tertidur di bawah sofa dan terus memegang tangannya.
Hanya dengan alas karpet dengan sofa bantal, tanpa selimut. Baju tidurnya pun terlalu terbuka. Aqua mencoba menyelimuti Kana dengan selimut di tubuhnya.
Kana terbangun, sadar ada sesuatu yang bergerak di dekatnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Kana dan segera merubah posisinya, duduk di bawah sofa menatap Aqua di atas sofa. "Aku ambil air minum dulu untukmu." Kana beranjak dari posisinya menuju dapur.
"Arima…" Aqua memanggil Kana yang sudah mendekatinya dengan segelas air. "Kenapa kau tidak tidur di kamar?"
Kana menyodorkan air pada Aqua. "Kau berteriak semalam. Jadi, aku terbangun. Lalu aku mendekatimu, wajahmu sudah pucat dan basah, kau pasti mimpi buruk ya?"
Aqua meraih gelas dan meminumnya, menatap Kana yang duduk di sebelahnya. "Apa aku mengigau?"
"Iya tentu saja! Aku kaget dan hampir memukul kepalamu. Kau terus berteriak tolong! Tolong! Siapa yang tidak panik." Kana menjawab seraya memeragakan ekspresi Aqua semalam.
"Kau tidur di bawah sofa karenaku juga?"
"Ya, kau tidak melepaskan tanganmu, padahal kurasa kau sudah cukup tenang semalam." Kana menjawab lagi. "Sekarang aku bisa terkena flu karenamu!" Kana berdiri mengelus tangannya yang tanpa kain karena baru merasakan dinginnya ruangan.
Aqua bergeming, ia mencermati kalimat Kana. Mimpi buruk sering sekali ia alami. Dan untuk malam ini terparah dan menyeramkan. Biasanya tidak sampai berteriak, dan ia akan segera bangun, menyadari kalau dia tengah bermimpi.
Kini Aqua mengalihkan pandangannya pada Kana yang sudah masuk kamar, sepertinya melanjutkan tidurnya. Ada perasaan bersalah karena telah membuat Kana harus kedinginan semalam. Tapi, Aqua tidak mengerti bagaimana bisa ia tetap tidur setelah mimpi buruk tanpa terbangun.
"Arima…." Aqua mengetuk pintu kamar Kana. Tidak ada balasan dari dalam.
Merasa tidak enak hati, Aqua memesan sarapan dari pesan antar makanan. Khawatir Kana benar terserang flu, Aqua memesankan sup abalon khusus untuk Kana.
Setelah pesanan datang, Aqua menatanya di meja makan yang menyatu dengan dapur. Hari sudah semakin siang, Aqua mulai membersihkan diri, seraya menunggu Kana bangun untuk bersiap latihan.
Kana akhirnya bangun, meraih handuk untuk mandi. Setelah beres mandi, ia segera melangkah ke dapur, mengingat Aqua masih di rumahnya.
"Ayo sarapan…" Aqua menatap Kana yang sudah berdiri di dekat meja makan.
"Hoho…. Aku baru ingin memesan makanan. Ternyata sudah ada ya." Kana segera mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Aqua. "Itadakimasu!" Kana berseru dan segera melahap sup yang dipesan Aqua.
"Apa kau merasa sehat hari ini?" tanya Aqua. Kana hanya mengangguk dan tidak peduli dengan kalimat Aqua padanya.
Tidur tanpa kasur dan selimut, membuat tubuhnya sakit. Belum lagi, dia harus latihan hari ini untuk konser pertama B-Komachi besok. Sangat melelahkan.
"Arima…." Aqua memanggil Kana setelah selesai sarapan. Kana hanya menyahut pelan, dan kembali memeriksa ponselnya. "Ayo berangkat bersama ke tempat latihan."
Kana menggeleng tanda menolak. "Pergi duluan sana. Aku tidak ingin dihujani pertanyaan dari adikmu."
"Kalau begitu, aku pergi duluan." Aqua berdiri dan melangkah mendekati sofa, merapihkan barang bawaannya.
"Ya, hati-hati!" seru Kana seraya melirik Aqua dan kembali fokus pada ponselnya.
Aqua menatap Kana yang tidak berdiri mengantarnya. Perasaan Kana padanya sudah mulai memudar atau Aqua benar-benar hanya dianggap teman oleh Kana.
"Aku berangkat!" seru Aqua sambil melirik Kana yang tersenyum menatap ponselnya.
"Hati-hati. Awas ketahuan adikmu karena main di rumahku…." Kana terkekeh tanpa menatap Aqua.
Merasa tidak diperhatikan Aqua mendekati Kana, meraih ponsel Kana yang sedari tadi ia pegang. Pesan dari sutradara Shima yang mengatakan bahwa Arima Kana mendapat job besar di film terbaru.
"Kembalikan!" teriak Kana berusaha meraih ponselnya. "Karena kau sudah lihat, maka aku akan beritahu bahwa aku akan menjadi pemeran utama di salah satu film. Besok setelah konser aku akan bertemu tim produksi."
"Kau sudah beritahu Bu Direktur?" tanya Aqua.
"Aku berencana hari ini akan mengatakannya." Kana menjawab dan kembali memeriksa ponselnya.
"Arima…" Aqua memanggil Kana lagi kali ini ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kana. "Apa waktu itu kau melakukan sesuatu dengan Sutradara Shima?"
Kana mendelik, tangannya dengan cepat memukul kepala Aqua sekuat tenaga. "Kau gila!" teriak Kana tepat di telinga Aqua. "Tapi, hampir sih…."
"Hampir?" Aqua merubah posisinya, ekspresi wajahnya berubah dingin. Ia melangkah menjauhi Kana di pantry. "Aku tidak percaya…"
"Tidak mungkin aku cemburu pada gadis bermulut kasar sepertimu!" jawab Aqua tanpa menatap Kana.
Kana tertawa dan segera merapihkan barangnya, bersiap untuk berangkat. "Ayo berangkat bersama!"
Aqua melangkah mendahului Kana, meninggalkan Kana yang masih bersiap dengan barangnya. Keluar dari pintu apartemen, dengan pakaian serba tertutup. Keduanya hanya berjalan bersisian setelah itu masuk ke dalam taksi menuju Strawberry Production.
Kana kembali sibuk dengan ponselnya. Ia terus menanggapi chat dari Pak Sutradara, Aqua hanya sibuk membaca naskah baru untuk film yang ia dapatkan juga. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan menuju agensi. Kana sibuk melihat ponsel dan membaca komentar di Youtube B-Komachi.
"Mati sana…." umpat Kana setelah membaca komentar hatersnya di kolom komentar.
"Kau selalu mengumpat dengan kata itu ya?" tanya Aqua tanpa mengalihkan pandangannya. "Bagaimana jika ucapanmu terjadi beneran pada orang yang kau umpat. Apa kau tidak merasa bersalah?"
Kana menatap Aqua heran. "Entahlah…. Manusia selalu memberikan komentar negatif tentangku. Membandingkan diriku dengan orang lain. Jadi, aku harusnya tidak usah peduli, tapi tidak bisa!"
Aqua menutup naskah miliknya. "Tapi, jika orang yang kau umpat beneran mati, bagaimana?"
Kana mengalihkan pandangannya. "Sepertinya kau mau membahas tentang ide balas dendammu lagi denganku ya? Ajak saja Kurokawa Akane, kekasihmu dulu itu, sepertinya dia akan sangat membantumu."
Aqua merubah posisinya, menyandarkan kepalanya pada bahu Kana. "Sebentar saja…."
Kana yang awalnya ingin memukul kepala Aqua akhirnya hanya diam saja karena permintaan dari Aqua.
"Arima…." panggil Aqua. Kana menatap wajah Aqua yang sedang memejamkan matanya. "Apa kau akan tetap menjadi temanku jika aku membunuh ayahku?"
Kana mengalihkan pandangannya. Teman…. Kana selalu menjadi teman untuk Aqua. Ternyata perasaan Kana selama ini hanya akan berakhir sebagai teman saja. Aqua tidak menaruh perasaaan lebih padanya, seperti perasaannya kepada Aqua.
"Aku tidak mendukung balas dendam dengan membunuh orang lain. Tapi, jika kau bersikeras dan yakin untuk menerima segala resikonya, maka aku tidak bisa mencegahmu." Aqua membuka matanya, menatap wajah putih dan mungil Kana yang terlihat sedih. "Aku akan menjadi temanmu meski nanti tittle yang kau miliki bukan lagi aktor terkenal Aquamarine Hoshino."
Bulir air mata keluar dari mata Kana. Pandangan gadis itu sudah terlempar ke luar jendela taksi. Ada rasa sesak di dadanya. Sesak dengan dua hal. Pertama, ia tidak bisa membantu temannya dan kedua, ia sadar perasaannya selama ini hanya sepihak.
"Arigatou…." bisik Aqua.
Pandangannya tidak berhenti menatap Kana. Ia menarik kepalanya dari bahu Kana. Isakan gadis itu terdengar pelan. Rasa bersalah kini memenuhi hatinya. Arima Kana adalah teman terbaik untuknya saat ini. Bahkan semua jalan awal selama ini, Arima Kana yang menuntunnya. Aqua merasa dia hanya terus menyakiti Kana.
...****************...
Latihan di hari terakhir hanya menyiapkan mental saja. Kana sudah menemui Miyako di ruangannya, mengatakan akan mendapat project film terbaru dari Sutradara Shima Masanori.
"Ya, kau bisa pergi pukul 8 malam setelah konser selesai. Tapi, Kana-chan aku perlu mengantarmu." Miyako memberikan tanggapannya. "Menemui lelaki dewasa sendirian bukankah menakutkan?"
"Kami akan bertemu tim produksi, jadi kau tidak perlu khawatir, Miyako-san." Kana tersenyum meyakinkan.
"Kau sangat menyukai akting ya." Miyako membalas senyum Kana dan segera berdiri keluar dari ruangannya.
Kana keluar dari ruangan Miyako berhenti setelah mendengar Ruby dan Aqua berada di dalam ruang latihan.
"Onii-chan!" Ruby berseru setengah berteriak. "Daisuki! Berapa kali aku harus mengatakannya? Bukankah kau berjanji untuk menikahiku dulu, sensei!"
"Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Kita ini saudara kembar, meskipun di kehidupan sebelumya kau dan aku saling terikat janji." Aqua mencoba menjelaskan perasaannya pada Ruby.
"Tapi, kau sudah berjanji padaku! Bahkan kau sudah mengatakan jika kita hidup kembali!" suara Ruby terdengar bergetar. "Aku hanya ingin hidup denganmu…."
Kana segera bersembunyi di belakang dinding, menghindari Ruby yang telah melangkah keluar sambil menangis. Sementara Aqua di dalam ruangan hanya menatap kepergian Ruby.
"Sekarang, justru aku berharap aku yang mati…." Kana berbisik. Rasanya sangat kaget, mendengar ungkapan dua manusia satu darah itu. Mengatakan cinta dan fakta mereka adalah manusia yang hidup lagi.
Kana melangkah menjauhi ruang latihan. Hari ini dia seperti tertolak dua kali. Sakit hati yang tidak ada habisnya. Perasaannya pada Aqua harus segera ia hentikan sebelum semakin besar dan semakin menyakiti dirinya.
.
.
...****************...