
Setelah hari itu, Ruby bersikap dingin pada Aqua. Ia lebih banyak menghindar, tidak ingin sarapan, makan siang, makan malam dengan Aqua.
Miyako yang sadar pertengkaran mereka hanya bisa menatap keduanya, setiap ditanya ada masalah apa, Aqua selalu menjawab hanya masalah kecil dan ia akan mengurusnya. Begitu seterusnya hingga tiga hari berlalu.
"Senpai..." Ruby menghubungi Kana sesampainya ia di rumah. "Apa kau sibuk?"
"Tidak," jawab Kana dari ujung telepon.
"Kau mau mendengar ceritaku?" tanya Ruby lagi.
"Silahkan..." balas Kana cepat.
"Senpai, apa kau ingat aku pernah bercerita padamu tentang cinta pertamaku?" Ruby mulai bercerita, Kana hanya merespon singkat. "Sampai sekarang aku masih mencintainya. Aku tahu mungkin egois, tapi aku hanya ingin dia menjadi milikku seorang."
"Sensei-mu itu ya?" tanya Kana memastikan.
"Iya, dia masih hidup." Ruby menjawab dengan penuh semangat. "Senpai, apa kau percaya dengan reinkarnasi?"
"Entahlah, itu tidak masuk akal." Kana menjawab dengan nada malas. Entah ada maksud apa Ruby menghubunginya, karena tidak seperti biasanya.
"Kau tahu senpai, cinta pertamaku sensei yang aku cintai adalah kakakku sendiri!" Ruby kembali berseru dengan penuh semangat. "Sensei yang sudah mati kembali hidup di tubuh Aqua!"
Faktanya Kana sudah tahu, tapi dia tidak paham kenapa Ruby menceritakan ini padanya. Untuk Kana yang sekarang dia memang tidak kaget dan percaya, tapi jika dia orang yang dulu maka ia pasti tidak akan percaya dan memanggil Ruby sedang sakit.
"Aku tidak mengerti tentang hal itu, Ruby..." balas Kana berbohong.
"Yang paling penting senpai. Aku dan onii-chan adalah jiwa yang berbeda meskipun kami saudara kembar!" tukas Ruby. "Aku mencintai Aqua yang dimasuki Goro-sensei! Dan aku tidak mau kau juga menyukainya! Karena dia cinta pertamaku!"
Ruby memutus teleponnya, menatap ponselnya. Ia tidak tahu kenapa harus sampai mengatakan itu pada Kana. Pikirannya hanya tertuju pada rasa cintanya pada sensei. Hanya ingin sensei menepati janjinya.
...****************...
Kalimat Ruby kini memenuhi pikiran Kana, semua kekhawatirannya tentang janji Gorou pada Sarina mengganggunya. Perasaan Kana pada Aqua haruskah ia pendam lagi? Tapi, setiap Kana berusaha untuk memendamnya, selalu saja Aqua seolah menggalinya.
Berhenti atau teruskan?
Setiap hari, Kana mencoba tetap menghubungi Aqua. Mungkin ini alasan pesan dari Aqua terlihat lebih singkat dari biasanya. Ada kemungkinan Ruby sudah mengatakan hal yang sama pada Aqua sebelum ia mengatakannya pada Kana.
"Ruby mungkin menyadari kedekatan antara aku dan Aqua setelah kejadian kemarin. Atau mungkin Aqua mengatakan hal aneh pada Ruby?" pikir Kana pada dirinya sendiri.
Setiap hari Kana menulis kegiatannya di dalam buku harian, sudah habis lima buku harian setelah empat tahun ia tinggal di Akira.
Hadiah daun maple sudah tertempel dengan rapih di dalam buku harian dengan tambahan beberapa tulisan dan glitter. Setiap kejadian kemarin ia tulis dengan rapih dan indah, agar kelak ketika ia membacanya kembali dapat ia rasakan perasaan yang membersamai kejadian itu.
Sekarang ia harus kembali dengan pikiran pusingnya menjawab pernyataan cinta dari Aqua untuknya. Jika dia melanjutkan menjalin hubungan dengan Aqua, apa yang akan terjadi pada Ruby? Apakah hubungan Ruby dengannya akan memburuk? Atau bahkan Ruby membenci dirinya?
Merasa tidak akan menemukan jawaban, Kana turun ke lantai bawah menemui Karma yang sibuk bermain ponsel. Dengan semangat Kana duduk di hadapan Karma.
"Apa yang kau lakukan jika aku ingin menikahimu?" tanya Kana tanpa basa basi pada Karma di hadapannya.
Pemuda itu mengernyitkan kedua alisnya, tersenyum miring. "Sakit jiwa ya?"
"Aku pribadi sih merasa itu aneh," jawab Karma. "Mencintai dan menyayangi adalah dua hal yang berbeda."
"Lalu?"
"Kau anggap aku tidak mengerti pertanyaanmu ya?" tanya Karma yang sudah paham maksud dari pertanyaan Kana. "Dengar, aku melihat keduanya memang dekat, tapi tidak melebihi rasa seorang saudara. Aqua tidak memandang Ruby dalam sudut romantis seperti Aqua menatapmu."
"Tapi, Ruby..."
"Ya, anggap saja Ruby memang menatap dan berharap perlakuan romantis dari Aqua. Tapi keduanya saudara kembar, meski mereka dulunya pernah berjanji secara romantis namun di kehidupan ini mereka saudara kembar berarti apa?"
"Apa?" tanya Kana bingung.
"Berarti mereka tidak berjodoh sejak di kehidupan lalu dan sekarang." Karma menjawab dengan yakin. "Jadi, kau tidak perlu bimbang dengan perasaan dan masa depanmu bersama Aqua."
Mendengar jawaban Karma, setidaknya membuat Kana tersadar akan beberapa hal. Tulusnya Aqua bahkan dapat terlihat dari kacamata orang lain. Dan jika ia kembali menolak perasaan Aqua hanya karena Ruby, apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Kau pernah kuceritakan tentang Sarina yang berusia 12 tahun, kan?" Kana mengganti topik pembicaraan. "Aku merasa Ruby terjebak di usianya, jadi aku merasa dia masih harus menikah dengan Gorou."
Tangan Karma segera menyentil kening Kana keras. "Kau berpikir sejauh ini dan berdebat dengan perasaanmu pada Aqua hanya karena Ruby seorang?"
"Sakit!" pekik Kana seraya mengelus keningnya.
"Ruby bukan terjebak di usia 12 tahun, tapi dia memang tidak mau pindah dari pikiran dia dan selalu berpikir bahwa dirinya adalah Sarina."
"Alasannya?" tanya Kana.
"Alasannya karena dia tahu Gorou masih hidup dan berada di tubuh Aqua." Karma merubah posisinya. "Jika dia tahu Goro hidup di tubuh orang lain pun dia akan tetap melakukan hal yang sama, sekalipun Goro sudah memiliki istri dan anak."
"Lalu bagaimana?" Kana semakin tidak bisa berpikir setelah mendengar jawaban Karma.
"Kau tanya bagaimana? Ya, mudah saja... Beritahu dia bahwa dirinya bukan lagi Sarina. Semua yang dilakukan dirinya sekarang dengan tubuh Ruby bukan tubuh Sarina!"
"Siapa yang akan mengatakan itu? Kurasa Ruby sedikit keras kepala..."
Karma beranjak berdiri mendekati Kana. "Entah... Aku hanya memberikan jawabanku saja, selebihnya pikirkan sendiri." Ia berlalu menjauhi Kana membawa ponselnya.
...****************...
Pesan dari Aqua tidak lagi dibalas Kana, kepalanya sedari tadi pusing karena memikirkan kalimat Ruby yang memperingatinya. Kesal bercampur sedih, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun sudah mendapat jawaban dari Karma, tapi Kana masih belum merasa tenang.
Walaupun Kana tidak mengenal baik Ruby yang seperti ini, tapi firasat Kana mengatakan bahwa Ruby akan sangat berbahaya jika dia membalas perasaan Aqua.
"Kalau begini, haruskah aku menemui Ruby dan mengatakan aku juga menyukai Aqua?" tanya Kana pada dirinya sendiri. "Tapi, bagaimana jika Ruby menangis dan merengek saat bertemu denganku?"
Kana mengacak rambutnya frustasi. Ia ingin membuat masa depan indah dengan Aqua tapi mengingat benang merahnya sudah terputus oleh ulahnya sendiri haruskah dia kembali ke posisi awal? Hanya menjadi teman untuk Aqua?
"Aku pusing!" seru Kana.
...****************...