
Rumah Arima mulai lengang. Semua sudah kembali ke penginapan Ishigami untuk bersiap pulang. Sementara Karma masih duduk di kursi makan bersama Aqua yang tidak juga beranjak pergi.
"Aku akan pulang besok," ucap Aqua pada Miyako sebelum wanita itu keluar dari rumah Arima. "Aku akan kembali besok, aku masih ingin di sini."
Miyako hanya mengangguk tanda mengerti. Ia tidak ingin bertanya tujuan Aqua, karena besok aktor itu tidak punya jadwal kegiatan jadi dia tidak bisa memaksa untuk ikut pulang ke Tokyo.
Jadwal makan malam, Karma dibantu Aqua memasak kari dan telur gulung. Aqua tidak banyak membantu dia hanya memerhatikan Karma yang sangat ahli menuang bumbu tanpa berpikir. Pekerjaan yang dia lakukan juga sangat cepat, cara memegang pisaunya juga sudah sangat ahli.
Ini namanya bakat. Pikir Aqua.
"Kau mau membawanya ke kamar Kana?" tanya Karma setelah selesai menata lauk di atas meja makan. "Sepertinya dia belum tahu kau masih di sini."
"Ya," jawab Aqua singkat.
Tangannya mulai meletakkan dua piring berisi nasi dan kari di atas nampan. Ditambah piring berisi telur gulung. Tidak lupa ia membawa dua botol air mineral di atas nampan.
"Nanti malam aku pulang larut, karena ada yang harus didiskusikan dengan warga desa tentang ayah. Besok juga aku harus ke rumah sakit tempat ayah bekerja, karena harus merapikan barang-barang miliknya." Karma menjelaskan jadwalnya mulai malam dan besok.
"Menginap di luar?" tanya Aqua.
"Kemungkinan tidak sih, tapi kalau terlalu malam dan aku kelelahan kemungkinan iya," jawab Karma. "Aku akan menghubungimu lagi. Sebaiknya kunci pintunya saja, aku bawa kunci cadangan."
"Terkait penguntit bagaimana? Apa sudah tertangkap?"
Seulas senyum tipis menghias wajah Karma. "Sudah!"
Aqua hanya membalas dengan senyuman dan anggukan. Ia melangkah ke lantai dua. Sementara Karma mulai bersiap untuk pergi. Adanya Aqua malam ini, membuat Karma tidak terlalu khawatir tentang keadaan Kana yang akan ia tinggal sebentar.
...****************...
Langit mulai gelap, angin musim panas masih terasa hangat. Kana duduk di teras lantai dua menatap langit. Warna jingga berubah gelap, seolah mengungkapkan isi hati dan pikiran Kana yang penuh kesedihan. Ia berharap hari tidak berlalu begitu saja, ia berharap bisa kembali menemui ayahnya.
"Ayo makan..." Suara rendah menyadarkan Kana dari lamunannya. Kepalanya menoleh ke sumber suara.
"Kau tidak pulang? Bukannya semua sudah pulang ke Tokyo?"
Tangan Aqua meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja. Ia duduk di samping Kana dengan tangan berisi piring nasi kari dan sendok.
" Ayo makan dulu," jawab Aqua menyodorkan sendok penuh nasi beserta kari. "Jadi, ayo buka mulutmu!"
"Aku bisa makan sendiri!" balas Kana meraih piring lain di atas meja. "Kau sedang apa di sini?"
Tangan dengan sendok itu akhirnya Aqua makan sendiri. Rasanya sedih juga ditolak niat baiknya. Tapi, tidak masalah untuk sekarang karena pasti Kana kaget atas kedatangannya di sini. Ia memang belum berpamitan pada Kana yang seharian di lantai dua.
"Aku akan menemanimu sampai besok." Aqua menjawab setelah ia menelan nasi di mulutnya. "Kau mau berkencan denganku?" Aqua menatap mata Kana serius, ia menunggu jawaban dari Kana dan berharap gadis itu menerimanya.
"Aku tidak menerima penolakan." Aqua menarik tangan Kana dari keningnya.
"Kau sakit ya?" Kana akhirnya buka suara. "Tertular olehku?"
"Aku baik-baik saja, sehat juga. Jadi, aku mengatakan ini dalam keadaan waras dan sehat."
"Kencan? Dengan orang sakit maksudmu?" Kana kembali bertanya. Ia masih mencoba untuk berpikir dengan normal ajakan Aqua.
"Ya, di rumah juga tidak masalah. Makan bersama, nonton film bersama," jawab Aqua, ia menarik ujung bibirnya dan mendekati telinga Kana. "Tidur bersama..."
"Kyaaaaa!" Tangan Kana dengan cepat memukul kepala Aqua dengan sendok. "Jangan bercanda!" pekik Kana dengan wajah memerah.
"Semalam juga tidur bersama tuh." Aqua mengelus kepalanya yang sakit. "Apa kau berharap lebih dari yang semalam?" goda Aqua.
"A-kun!" seru Kana kesal. Ia mengalihkan wajahnya yang sudah memerah. Gombalan Aqua sukses membuatnya salah tingkah. Ditambah Aqua yang terlihat santai saja tanpa kehilangan sifat dinginnya. "Kenapa tiba-tiba sekali?"
Aqua tampak berpikir sebentar, sebelum ia akhirnya membuka mulut. "Karena sebelum aku kembali ke Tokyo, aku ingin membuat kenangan denganmu. Setelah itu aku tidak akan memaksamu untuk menerima perasaanku atau menolaknya."
"Kau gigih sekali, ya..." balas Kana tanpa ingin menatap wajah Aqua. "Padahal kau sudah kutolak berkali-kali."
"Ya, jadi tolong kencan ini jangan kau tolak." Aqua menundukkan wajahnya, menatap nasi dengan kari di sana.
Pikirannya memang setengah gila. Kencan, tiba-tiba terlintas dipikirannya. Padahal dia tahu, Kana sedang sakit dan tidak mungkin keluar. Tapi, ia akan menyiapkan semuanya untuk kencan keduanya bersama Kana. Meskipun hanya di rumah saja. Ia berjanji tidak akan melewati batas dan tidak memaksa Kana untuk menerima perasaannya.
"Mohon kerjasamanya, A-kun..." Kana tersenyum dengan wajah merona. Matanya yang bulat itu semakin cantik dilihat, meski masih ada perban di keningnya. "Kuharap akan menyenangkan!"
Selalu ada balasan senyum untuk Kana dari bibir Aqua. Kini rasanya dia hanya ingin menghabiskan satu harinya bersama Kana. Bahkan, Aqua sudah mematikan ponselnya agar tidak mendapat gangguan dari luar.
...****************...
Selama perjalanan menuju Tokyo, Ruby lebih banyak diam. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya justru memilih untuk pulang besok dan tetap tinggal di rumah Arima. Ditambah malam ini Miyako akan menginap di rumah Hoshino untuk menemani Ruby.
Banyak pertanyaan dipikiran Ruby tentang kelakuan Aqua. Dimulai dari semalam, pemuda itu memilih tidur bersama Kana. Paginya ia melihat Aqua dan Kana tidur di ranjang yang sama, meskipun mereka tidak melakukan sesuatu lebih dari sekedar tidur bersama, tetap saja Ruby merasa tidak suka. Seharian Aqua terus mengkhawatirkan Kana, dengan menatap lamat lantai dua rumah Arima.
Bahkan malam ini, pesan dari Ruby hanya centang satu. Telepon dari Ruby juga tidak diangkat. Setiap jam Ruby bertanya kabar Aqua. Ia hanya ingin memastikan bahwa kakaknya hanya peduli padanya saja.
"Sensei..." bisik Ruby seraya meletakkan ponselnya di atas kasur dengan kasar. "Kau berjanji padaku, kan!" seru Ruby setengah berteriak.
Tangannya mengacak kasar kepalanya. Janji Gorou pada Sarina masih terus ditagih oleh Ruby, meskipun rasanya selalu jawaban yang sama diberikan oleh Aqua. Harapan tidak pernah Ruby singkirkan untuk tetap memiliki kakaknya untuk dirinya seorang.
...****************...