
Peternakan Ishigami sudah penuh dengan para pekerja. Sudah banyak pekerja yang membersihkan kandang, mendorong flkereta dorong berisi jerami, bahkan sudah ada yang sibuk memberi minum untuk para anak sapi, kambing dan babi.
Peternakan yang luasnya hampir tiga perempat dari desa adalah peternakan dan pertanian milik keluarga Ishigami. Kandang sapi, kambing, ayam, babi dan kuda ada di sana. Ditambah lapangan khusus pelatihan kuda yang sangat luas.
Ishigami Yuu dikenal sebagai pemuda yang pendiam awalnya sebelum pindah ke desa. Tapi, setelah dia berbaur dengan penduduk desa, Ishigami terkenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan ringan tangan.
"Apa kau lihat induk sapi itu Kana-chan?" tanya Ishigami sambil menunjuk sapi betina yang sedang hamil besar.
"Apa dia akan melahirkan?" tanya Kana lagi.
"Besok atau lusa perkiraannya. Kau mau bantu aku mengeluarkan bayi sapinya, kan?"
Kana memasang wajah kaget bercampur takut. "Aku belum pernah melihat langsung, jadi aku akan bantu urus setelah keluar anaknya saja." Kana melirik Aqua yang sedang meminum minuman kalengnya. "Aqua bisa membantu, dia tidak takut dan bisa melakukannya. Jadi, minta tolong Aqua saja."
Aqua melirik Kana dan Ishigami, pura-pura tidak dengar percakapan dua orang itu.
"Kau masih takut darah Kana-chan?" tanya Ishigami, merubah posisi duduknya dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Saat aku datang bulan saja, aku gemetar bersihkan darahnya. Apalagi melihat darah lain." Kana menggidik takut.
"Ya kalau begitu, aku akan meminta bantuan yang lain saja." Ishigami berdiri, menyodorkan minuman dingin pada Kana kemudian pergi. Ishigami mengelus puncak kepala Kana. "Terima kasih…."
"Apanya yang terima kasih, aku saja tidak bisa membantu," bisik Kana sedih.
Aqua melirik Kana di sebelahnya, Kana lupa bahwa dia bersama Aqua sejak tadi. Kana melangkah keluar dari kandang sapi. Aqua mencoba mengikuti Kana di belakangnya. Sepertinya Kana sedang fokus pada pikirannya sendiri, bahkan ia tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Arima.
"Oh… Ah-kun, kau mau masuk?" tanya Kana. Aqua masuk ke dalam rumah Kana yang sepi.
Duduk di sofa dengan kaki di atas meja. Mood Kana berubah hanya karena bertemu Ishigami. Bahkan ia seperti tak punya keinginan untuk berbincang atau melakukan kegiatan lain.
"Kau mau tidur?" tanya Aqua seraya duduk di hadapan Kana.
Kana menggeleng pelan, ia menatap Aqua serius. "Ah-kun, apa yang kau rasakan ketika kau dihidupkan kembali?"
"Apa maksudmu?" Aqua balik bertanya.
Merasa pertanyaannya cukup sensitif, Kana menurunkan kakinya dari atas meja, menatap Aqua serius. "Tinggal kau jawab saja apa susahnya? Aku hanya ingin bertanya saja tahu!"
"Tidak percaya saja, tapi setelah aku tahu tujuan hidupku saat menjadi Aqua Hoshino untuk balas dendam, aku menjadi bersemangat."
"Tujuan hidupmu untuk balas dendam?" tanya Kana bingung. Aqua mengangguk pelan. "Sampah…."
Aqua membulatkan matanya mendengar kalimat Kana barusan. "Ya, memang seperti sampah."
"Kau dihidupkan kembali karena kau berhak mendapatkannya!" seru Kana kesal menatap Aqua. "Bukan karena untuk balas dendam! Dan beruntungnya kau tidak sampai membunuh orang lain."
"Kenapa kau terlihat kesal sekali? Semalam kau bahkan tidak membahas hal seperti ini denganku." Aqua menatap heran Kana yang masih berdiri di hadapannya.
"Lupakan saja. Aku tidak akan membahas hal aneh lagi denganmu." Kana merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Jika kau pikir kau hidupkan kembali hanya untuk balas dendam kau salah besar. Kau dihidupkan kembali untuk membuat kebahagiaanmu sendiri, Ah-kun…" Kana memejamkan matanya.
Aqua menatap Kana tanpa ekspresi. Ia mencerna kalimat Kana dengan pelan.
"Arima…." panggil Aqua.
"Ya," sahut Kana pelan sambil terus memejamkan matanya.
"Tidak, aku punya janji dengan gadis gagak dan ayahku untuk hidup bahagia." Kana menjawab.
Aqua mendekati Kana, duduk di sebelah Kana. Duduk di bawah sofa, menatap Kana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak bisa menepati janjiku pada Ruby. Apa itu akan membuatku bahagia?" tanya Aqua seraya menatap Kana di hadapannya. Tangannya memegang rambut merah Kana. "Kau pernah bertanya itu padaku, kan? Dan aku menjawabnya sekarang."
Suara Aqua terdsngar lembut dan terasa dekat dari teling Kana. Gadis berambut merah itu menolehkan kepalanya, membuka matanya, menemukan wajah Aqua yang dekat dengan wajahnya. Suara napas mereka terdengar satu sama lain. Ekspresi Aqua tidak bisa Kana jelaskan.
"Tapi, benang merahmu ada pada Ruby." Kana menjelaskan. "Sejauh mana kau mencoba berlari, kau akan kembali kepadanya." Kana merubah posisinya, duduk menatap Aqua. Kana mengelus kepala Aqua lembut. "Usiamu dan usiaku tanpa reinkarnasimu, aku lebih tua. Tapi, lama hidup tetap kau lebih lama."
"Benang merah?"
Kana mengangkat jari kelingking kirinya. "Iya, benang merah itu seperti ikatan dengan cinta sejati kita. Apa kau pernah dengar itu?"
"Pernah, tapi tidak begitu mengerti." Aqua menjawab.
"Aku bisa melihat benang merah setiap orang. Termasuk milikmu," jelas Kana seraya merebahkan tubuhnya lagi di sofa.
Masih mengamati Kana, Aqua berpikir kalimat Kana barusan. "Apa yang terjadi jika aku tidak ingin bersama benang merahku."
"Kau tidak akan sukses bersama cintamu yang lain selain soulmate milikmu." Kana tersenyum menatap balik mata biru Aqua yang indah.
"Bagaimana dengan benang merahmu?" tanya Aqua pada Kana.
"Aku menukarnya dengan nyawaku." Kana menjawab hampir tertawa.
"Jadi? Kau tidak punya soulmate?" tanya Aqua kaget.
Kana tertawa melihat ekspresi kaget Aqua yang menurut Kana sangat lucu. Tangan Kana mencubit pipi Aqua dengan gemas. Aqua menepis tangan Kana, menahan tangannya dengan wajah serius.
"Aku serius bertanya. Kau menukar nyawamu dengan soulmatemu?" Mata Aqua mengkilat, wajahnya serius menatap Kana.
"Kau sudah tidak merasa bersalah lagi padaku, kan?"
Tatapan serius yang diberikan Aqua kali ini, ia tidak menjawab dan masih menahan lengan Kana, tidak mengalihkan pandangannya dari tatapan Kana padanya. Dalam semalam, setelah semalam, Aqua memang merasa lebih baik. Merasakan perasaan bersalah dan terbebani atau menderita ketika melihat Kana memang sudah menghilang. Tapi, perasaan yang selama ini ia kubur itu mulai koyak lagi.
"Aku memutus benang merahku, karena aku rasa soulmateku akan bahagia jika bukan bersamaku. Aku khawatir gadis yang bersembunyi di desa sepertiku akan membuat mimpinya terhambat, jadi aku tidak perlu egois untuk mendapatkannya. Hidup dua kali saja aku sudah bersyukur." Kana menjawab seraya menatap Aqua dengan tatapan penuh arti.
Tangan Kana mengelus kepala Aqua. "Aku akan melupakan masalah reinkarnasi milikmu mulai sekarang, jadi kau harus hidup bahagia juga A-kun."
Aqua melepas tangan Kana dari genggamannya. Kalimat Kana tadi membuatnya terjatuh begitu dalam. Aqua jelas tidak tahu siapa soulmate Kana. Tapi, memutus benang merah karena dia tidak ingin soulmatenya menderita itu jauh lebih kejam.
"Kita akan terus berteman dan hanya akan menjadi teman, A-kun. Aku sadar dulu hampir setiap hari ngambek, marah, kesal, sedih, menangis karena aku menyukaimu. Tapi, sekarang kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku benar-benar menganggapmu temanku mulai sekarang." Kana tersenyum dengan lebar, matanya tak berani menatap Aqua. Kana berdiri dan melangkah masuk kamarnya.
"Teman…." bisik Aqua.
Ketika rasa yang ingin Aqua akui untuk Kana itu muncul, Kana justru berbalik menjauhinya. Dan mengatakan bahwa mereka hanyalah teman, seperti kalimat Aqua sebelum-sebelumnya. Rasanya menyakitkan, sesak dada Aqua. Ia tidak bisa mengerti kenapa bisa sesakit ini, mendengar kata 'teman' dari mulut orang yang kau sukai.
"Apa waktu itu sesakit ini, Arima? Hingga kau menangis?" tanya Aqua dengan mata yang sudah berair.
...****************...