Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Pertemuan Miyako dengan Arima


Dua pekan sudah Aqua tidak menghubungi Kana, berkali-kali Aqua bertanya apa Kana memaafkannya, Karma selalu menjawab bahwa Aqua tidak salah. Jadi lupakan saja. 


Aqua merasa Kana menjauhinya, setiap Aqua menghubungi Kana melalui telepon rumah, pasti Kana tidak akan mengangkatnya. Jika menghubungi lewat ponsel Akino juga, pasti Akino sedang di rumah sakit atau jawabannya Kana sudah tidur.


Dua pekan juga Karma membantu Aqua dan Ruby melakukan latihan bela diri. Perkembangan kembar itu sangatlah cepat. Karma tidak banyak memberi materi, karena bela diri penuh dengan praktek.


Dan tibalah musim semi, Aqua yang memulai syuting perdana untuk film bersama sutradara Gotanda. Dengan banyak artis lainnya.


...****************...


Miyako pergi bersama Ichigo ke Desa Higashinaruse, mereka datang dengan mobil pribadi. Merasa ada yang aneh dengan Aqua, Arima Akino dan dua teman Aqua jadi Miyako memilih untuk pergi sendiri ke desa. Terutama percakapan terakhirnya dengan Ishigami Yuu bahwa ia hanya mengatakan dua anak Arima Akino tanpa menjelaskan namanya.


Musim semi masih terasa dingin, di pinggir lapangan yang penuh anak-anak, Miyako dan Ichigo berdiri di sana. Ichigo menyampirkan jaketnya pada pundak Miyako, ia tidak mengerti kenapa Miyako bersikeras untuk pergi ke sini tanpa menginap. Padahal dia tahu jadwal artis dan aktor di agensinya sedang padat.


"Ramainya…" ucap Ichigo.


Seekor kuda putih melaju dengan kecepatan tinggi di depan Miyako dan Ichigo. Suara riuh anak-anak di tengah lapangan menyambut kedatangan kuda putih dengan penunggangnya.


Ketika menyadari penunggang kuda itu berambut merah panjang tengah turun dari kudanya. Miyako setengah berlari ke tengah lapangan, diikuti Ichigo.


"Kana-neechan terbaik! Kau bahkan bisa dengan cepat membawa Yunyun. Aku yakin kau akan menang melawan Karma!" seru Jun seraya memberikan dua ibu jarinya di depan Kana.


"Yosh! Siapa dulu! Arima Kana!" seru Kana penuh semangat dengan tangan kanan mengepal tinggi ke atas. "Aku akan menaruh Yunyun dan memandikannya dulu, jadi kalian juga harus pulang, karena sudah hampir malam!"


"Siap!" Anak-anak di hadapan Kana segera membuat tanda hoat pada Kana dan bubar dari tengah lapangan.


Kana menarik tali pada Yunyun, mengelus kepala Yunyun, melangkah keluar lapangan. Namun, ia menyadari sesuatu di hadapannya tengah menatap dirinya dengan tatapan kaget.


"Kana!" Miyako menutup mulutnya, berlari memeluk Kana seraya menangis. "Kau benar Arima Kana, kan? Kau benar Kana-chan kan!" suara Miyako bergetar. 


Kana membalas pelukan Miyako. "Miyako-san…"


Miyako berteriak tak percaya, ada rasa bahagia bercampur sedih yang tidak bisa ia ucapkan. Tubuhnya bergetar, ada kerinduan yang tak mampu dijelaskan. Mata merah karena air mata Miyako kini menatap dan meraih pipi Kana.


"Kenapa kau tidak mengabariku? Kau tahu betapa khawatir dan sedihnya aku!" seru Miyako sambil menatap Kana.


"Ceritanya sangat panjang Miyako-san." Kana tersenyum tipis. "Kau harus mampir ke rumahku dulu bagaimana?"


Miyako menatap Kana yang banyak berubah. Ia terlihat lebih dewasa, kalimatnya terdengar lebih anggun dan tatapan mata yang terhalang kacamata itu lebih lembut. Kana yang menyadari kehadiran Ichigo segera membungkuk sopan.


"Di mana rumahmu? Pokoknya kau harus cerita padaku! Semuanya!" ujar Miyako gemas seraya meraih bahu Kana.


"Aku harus menaruh kuda milik keluargaku dulu, sebenarnya aku harus memandikannya juga, tapi karena ada tamu. Jadi, akan aku minta orang lain untuk memandikannya." Kana menatap kuda putih di sampingnya.


"Kuda?" tanya Ichigo mendekati Kana dan Miyako.


Kana mengangguk seraya tersenyum. "Apa kalian akan menginap?"


"Tidak, aku hanya ingin memastikan kejanggalan yang terjadi saja." Miyako menjawab yakin.


"Menginap saja di rumahku. Hanya ada aku dan ayah saja. Kamar adikku kosong, kalian bisa tidur di sana. Ini sudah sore, kalau malam banyak jalanan yang tertutup portal," jelas Kana.


Miyako dan Ichigo hanya saling pandang tanpa ingin menjawab ucapan Kana. Sementara Kana sudah naik dengan lincahnya ke atas kuda miliknya. 


"Aku akan kembali ke sini setelah menaruh Yunyun di kandang." Kana tersenyum pada Miyako. "Sebentar ya…" Kana menarik tali tunggangan Kuda, menendang perut kuda dan melaju dengan sangat cepat.


Miyako menatap Kana yang dengan sangat elegan membawa kuda yang besar. Rambut merahnya bergoyang mengikuti langkah kuda.


...****************...


Aqua merebahkan tubuhnya di kasur. Hari ini dia akan menginap untuk keperluan syuting selama tiga hari. Taiki sudah merebahkan tubuhnya juga, scene terakhir sebelum selesai tadi benar-benar melelahkan. Berkelahi dengan Taiki yang hebat, Aqua tidak mau menggunakan pemain pengganti. Jadi, dia harus menerima pukulan sungguhan dari Taiki.


Ruby mengetuk pintu kamar Aqua dan dengan malas Aqua membukanya. Keluar dari kamar, berdiri di hadapan Ruby.


"Miyako-san ke mana ya? Mem bilang, Miyako tidak ada di gedung agensi. Aku menghubunginya juga tidak tersambung." Ruby menyodorkan ponselnya pada Aqua.


"Bertemu Ichigo paling, aku sudah sangat lelah. Besok lagi ya…" Aqua mengembalikan ponsel Ruby dan kembali masuk.


Taiki sedang mandi, sementara Aqua meraih ponselnya. Ingin sekali ia menghubungi Kana, mengatakan padanya bahwa ia sedang syuting hari pertama. Dan bercerita bahwa hari ini kena pukul berkali-kali dari Taiki. Tapi apalah daya, Kana tidak akan mengangkat teleponnya.


Pesan masuk dari Miyako dari Aqua yang katanya dia tidak bisa dihubungi, tapi mengirim pesan untuk Aqua.


Sialan kau ya, aku sedang menemui Kana!


Aqua menatap pesan Miyako tidak percaya. Bagaimana bisa dia pergi ke sana. Pantas saja dia tidak ada di gedung agensi dan tidak bisa mengangkat ponselnya. Dengan cepat Aqua menghubungi Miyako.


...****************...


"Masuklah…" Kana membuka pintu rumahnya. "Ayahku akan pulang sebentar lagi.


Miyako menatap rumah Kana, tidak ada satu foto pun di sana. Rumahnya bersih dan menyegarkan. Ada wangi mawar ketika masuk. Teras rumahnya juga luas, dengan taman yang cukup luas. Bunga dan pepohonan tumbuh di sana dengan rapih.


Miyako dan Ichigo pun duduk di sofa ruang tamu. Sementara Kana masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk tamunya. Kana kembali dan menyajikannya dengan sopan. Miyako berkali-kali menatap Kana dengan tatapan tidak percaya. Cara berpakaian Kana sekarang terlihat lebih tomboy. Kaos oversize dengan celana cargo tanpa ada aksesoris di sana.


"Jadi, bagaimana bisa kau ke sini?" tanya Kana seraya duduk di hadapan Miyako.


"Mengagetkan pasti ya..." Kana mencoba tertawa pelan.


"Tidak, menurutku ini keajaiban..." balas Miyako. "Aku memang selalu berharap kematianmu itu bohong. Dan benar terwujud."


"Sejujurnya pertemuan pertamaku dengan A-kun tidak sebaik pertemuanku denganmu." Kana mengingat cerita Karma saat malam pertemuan dengan Aqua musim dingin tahun lalu.


"Oh ya? Memang apa yang terjadi?" tanya Ichigo.


"Aku berteriak dan menendang A-kun untuk menjauh dariku. Begitu kata adikku sih, karena aku tidak sadar itu A-kun."


Miyako menatap Kana bingung. "Kau tidak sadar?"


Kana mengangguk ragu. "Aku takut dengan laki-laki berambut blonde dan beberapa hal yang pernah terjadi saat pembunuhan waktu itu." Kana tersenyum kaku, pandangannya menatap ke arah lain.


Miyako mengamati Kana yang berubah pucat dengan tatapan sedih. Ia segera berdiri, duduk di samping Kana, merangkul tubuh Kana lembut.


"Tidak apa, aku senang kau selamat dan sehat sekarang. Maaf, aku tidak bermaksud membuka lukamu." Miyako memeluk Kana.


"Aku yang harusnya minta maaf." Kana tersenyum pada Miyako. "Kalian menginap di sini ya!" ajak Kana penuh semangat.


"Ah…" Miyako menatap mata Kana yang sudah berbinar-binar dan terpaksa mengangguk pelan.


Mendengar jawaban Miyako, Kana bersorak pelan dengan senyum lebarnya. Miyako hanya mengamati wajah Kana yang ia rindukan, ini seperti mimpi karena Kana ternyata masih hidup.


"Aku akan menyiapkan kamarnya. Kalian minum dan makanlah. Aku sudah memesan makanan pada ayah, jadi kita akan makan malam bersama!" Kana berdiri dengan tangan mengepal, kemudian melangkah meninggalkan Miyako dan Ichigo di ruang tamu.


Tangan Miyako meraih ponselnya, telepon masuk dan pesan banyak sekali. Selama perjalanan, ia mematikan ponselnya. Ia malas membuka, membaca apalagi membalas pesan. Wanita itu hanya mengirim pesan pada Aqua. Dan tidak disangka, Aqua akan langsung menelponnya.


"Kau bercanda?" tanya Aqua tanpa salam.


"Aku serius, mau aku buktikan dengan video call?" tanya Miyako balik. "Pantas ya, kau pulang dari sini bahagia sekali. Ternyata rahasianya sangat besar!"


"Apa ada Kana di sana?" tanya Aqua lagi.


"Tidak ada, dia sedang menyiapkan kamar dan mandi." Miyako menjawab seraya melihat Ichigo yang sedang memakan cemilan. "Kenapa kau merahasiakannya dariku?"


"Itu dia yang minta, katanya dia sudah bahagia di sana. Jadi jangan beritahu siapa pun. Tidak kusangka kau akan pergi ke sana," balas Aqua.


"Begitu ya, jadi aku juga harus melakukan hal yang sama denganmu?" tanya Miyako sedih. "Tapi sejujurnya, Kana semakin cantik dan dewasa. Ia benar-benar membuatku pangling!"


"Dia sudah berjuang keras untuk hidup normalnya. Jangan bertanya padanya kejadian setelah ia menjadi korban pembunuhan. Tanyakan pada ayahnya saja." Aqua menjelaskan.


"Iya, aku tidak sengaja. Dan ia langsung pucat." Miyako menatap Kana yang sudah berdiri di dapur.


"Berikan ponselmu padanya, dia tidak punya ponsel. Aku berkali-kali menghubunginya tapi dia tidak menjawabnya." Suara Aqua terdengar memohon.


"Ey, Aqua. Apa kau menggoda Kana? Menghubungi berkali-kali? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Miyako menyahut tidak percaya.


"Berikan saja, kumohon…"


Miyako menatap Kana. "Kana! Apa kau ingin bicara dengan Aqua?"


Kana menatap Miyako dan tersenyum. "Tidak!" tolak Kana.


Miyako tertawa meledek Aqua. "Dia tidak mau tuh! Jadi, aku tutup ya!"


"Kenapa tidak mau? Aku kan sudah minta maaf berkali-kali melalui Karma dan ayahnya. Aku juga sudah mengirim surat ke tempatnya. Masa dia tidak mau menjawab teleponku!" Miyako menyalakan loudspeaker agar Kana mendengarnya. Ichigo sampai tercengang mendengar ocehan Aqua yang biasanya seperti robot itu.


"Ya, dia tidak mau." Miyako menahan tawanya.


"Katakan padanya, setidaknya jawab satu kali saja!" Nada bicara Aqua terdengar sedih. "Kalau memang masih marah, aku benar-benar minta maaf. Aku juga sudah menjadi pemeran utama sesuai kemauan dia. Aku juga sudah melakukan yang ia catat untukku. Aku juga berlatih bela diri dengan Karma sesuai permintaannya!" seru Aqua dengan napas memburu. "Ah… Tolong beritahu dia…"


Miyako dan Ichigo menahan tawa. Aqua terdengar lucu dengan suara seperti ini. Mereka tidak bisa membayangkan ekspresi Aqua saat mengatakan kalimat tadi.


"Kana tidak marah Aqua! Tapi memang dia saja bodoh…" Akino menjawab dekat ponsel Miyako. "Kalau kau lihat ekspresi wajahnya yang sudah merah, kau pasti tahu dia–"


"Memalukan!" seru Kana seraya mendekati ayahnya, menarik jas dokter ayahnya. "Ayah, masuk kamar sana! Ganti baju! Bau obat!"


Aqua terdiam mencerna apa yang terjadi di rumah Kana. Wajahnya memerah seketika. Ia baru sadar bahwa Miyako membunyikan loudspeaker di ponselnya. Dan suara tadi adalah suara Akino dan Kana. Aqua mengusap wajahnya dan hampir berteriak.


"Kau bisa membuat suara seperti itu juga ya…" Ichigo menyahut.


"Kalimatmu juga panjang sekali. Kenapa bisa Aqua menjadi seperti ini ya?" Miyako terkekeh pelan, menatap Kana dan Akino yang sudah bergelut keluar ruang tamu.


"Ah… Kenapa kau menyalakan loudspeaker?" tanya Aqua yang panik dan malu.


"Karena aku malas menyampaikan hingga dua kali, jadi aku sengaja." Miyako tertawa pelan. "Aqua… Kau lucu juga, aku jadi penasaran bagaimana wajahmu sekarang!"


"Tidak lucu!" Aqua mematikan ponselnya kesal.


...****************...