Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Berita Duka


Karma berlari ke dalam rumah sakit, wajahnya sudah memucat, pikirannya sudah tidak karuan. Khawatir, sedih, gelisah dan semua perasaan negatif memenuhinya. Air matanya sudah tidak bisa dibendung, ia tidak tahu jika harus secepat ini. Dia tidak tahu dan jelas tidak mau.


"Ayah!" seru Karma ketika melihat jasad Akino yang sudah terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit dengan kain putih yang menyelimuti tubuhnya dan hanya menyisakan bagian kepalanya saja.


Wajah yang selalu tersenyum itu, kini pucat dan membiru. Dingin dan kaku sudah seluruh tubuh Akino. Kamar mayat itu lengang, hanya berisi isakan pelan yang terdengar dari Karma.


"Tidak hanya Arima-sensei saja, tapi asisten dan supirnya juga meninggal ditempat kejadian." Pria berjas putih itu mengungkapkan.


Karma melangkah mendekati jasad ayahnya dengan tubuh lemas. Ia mengamati wajah Akino, darah segar masih keluar dari kepala bagian belakang yang sudah disumbat banyak kain. Dari hidung dan telinganya juga keluar darah yang banyak. Karma hanya mampu menutup mulutnya dan berusaha untuk tetap berdiri.


Pikiran Karma setelah mendengar berita ini hanya tertuju pada Kana. Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Kana dan Karma takut Kana kembali terguncang mentalnya. Kalimat terakhir Akino pada Karma sebelum pamit adalah pesan untuk menjaga Kana.


"Ayah… Kenapa begitu cepat?" tanya Karma pelan.


Karma bukanlah anak laki-laki yang kuat. Ia sering menangis dan mengeluh. Namun, ibu dan ayahnya selalu menyemangati memberikan banyak motivasi untuk dirinya. Rasanya ketika melihat ayahnya tiada, ia juga tidak tahu harus hidup seperti apa. Ia merasa sudah kehilangan arah dan tujuan.


"Aku belum menjadi dokter seperti dirimu, ayah! Kenapa kau sudah pergi!" teriak Karma dengan wajah frustasi. "Harusnya, aku menahanmu pergi! Harusnya aku ikut denganmu pergi juga!"


Kamar mayat itu dipenuhi teriakan dan isakan dari Karma. Ia meraung seperti bocah meminta mainan. Semua segala kegundahan dan ketakutannya selama ini tumpah di samping jasad ayahnya yang sudah membiru.


"Arigatou…" Kalimat terakhir Karma untuk ayahnya sebelum ia menguatkan diri ke tahap kremasi.


...****************...


Karma pulang dengan kendi berisi abu milik ayahnya. Malam semakin gelap, Karma berusaha untuk memberitahu Ishigami tentang pemakaman yang akan diselenggarakan besok di rumahnya. Ishigami hanya bisa memeluk Karma menenangkan pemuda berusia 19 tahun itu.


"Besok akan kubantu, kau tidak perlu memikirkan banyak hal." Ishigami mengelus kepala Karma. "Kau sudah beritahu Kana?" tanya Ishigami.


Karma menggelengkan kepalanya pelan. "Aku takut dia berteriak, meraung, dan menarik atau melempar dirinya. Aku takut mentalnya terguncang, sementara aku tidak bisa melakukan penanganan seperti ayah." Karma menghapus air matanya kasar.


"Beritahu dia besok. Kau sudah cukup hebat untuk berada di sisinya." Ishigami menatap kendi berisi abu Akino. "Kana bukan gadis lemah, dia sudah semakin kuat. Aku yakin dia akan menerima ini dengan tabah."


Setelah mendengar kalimat Ishigami, Karma akhirnya pulang ke rumahnya. Karma membuka pintu kamar Kana, mengintip kasur yang sudah ditiduri Kana. Ada perasaan bersalah bercampur khawatir, ia takut tidak sanggup mengatakan ini pada Kana, tapi dia juga harus tahu bahwa ayahnya sudah tiada.


Hanya bisa menangis semalaman di ruang kerja ayahnya. Wangi khas mentol memenuhi ruangan. Seraya menatap foto Akino, Karma terus menangis dan berharap bahwa ini adalah mimpi dan besok ia akan bangun dengan telepon dari Akino. Melihat kembali senyum Akino dan tawa khas milik Akino.


...****************...


Semua bukanlah mimpi, semua adalah kenyataan yang harus diterima Karma. Musim panas keempat bersama Kana dan meninggalnya Akino di musim yang sama. Ada apa dengan musim panas akhir-akhir ini?


Telepon milik Karma terus berdering, Ishigami sudah menunggunya sejak 30 menit lalu di depan rumah milik keluarga Arima. Ia sudah datang dengan pakaian serba hitam bersama istri dan beberapa penduduk lain.


Karma yang bangun kesiangan pun segera berlari keluar rumah. Wajahnya benar-benar kacau. Rambutnya berantakan, matanya bengkak akibat menangis terlalu lama.


"Kami akan membantumu, kau bisa menunggu saja!" seru Ishigami.


"Arima-sensei orang baik, jadi kau tidak perlu sungkan meminta bantuan kami, Nak." Ibu Miwa tersenyum hangat pada Karma, ia mendekati Karma dan memeluknya. "Ini pasti membuat kalian terpukul, tapi cepatlah bangkit."


Karma kembali menangis, berapa banyak air mata yang keluar sejak kemarin. Lalu bagaimana dengan Kana, ia belum memberitahu kabar kematian ayahnya.


Sementara yang lain merapikan rumahnya, Karma mencari Kana di sekeliling rumah. Ke kamarnya di lantai dua, ternyata kosong. Dia sudah tidak di kamar. Karma memeriksa semua bagian rumah.


"Apa kalian lihat Kana?" tanya Karma pada mereka yang datang membantu Karma.


"Tidak," jawab Ishigami. "Kau sudah beritahu dia?"


"Belum, aku baru akan mengatakannya hari ini. Karena semalam Kana sudah tidur dan aku bangun telat hari ini." Karma mengusap wajahnya frustasi.


"Mungkin dia keluar. Dia punya ponselkan? Katakan saja kalau akan ada acara di rumah dan dia harus pulang." Ishigami menenangkan. "Atau mungkin dia di kandang sapi atau kuda."


Karma berlari keluar rumah dengan wajah panik. Ia takut Kana tahu dari orang lain bukan dari mulutnya tentang kematian Akino. Seberapa marah Kana nanti jika tahu aku menyembunyikannya.


Kandang kuda lengang, hanya ada kuda yang tengah tidur. Karma mendekati kandang Yunyun, memeriksa apa Kana membersihkan Yunyun pagi ini atau tidak dan jawabannya tidak.


Karma segera meraih ponselnya menghubungi Kana berkali-kali. Pukul 10 pagi ini akan ada acara pemakaman ayahnya yang sudah disebar melalui grup oleh beberapa rekan Akino. Sebelum pukul 10 Karma dan Kana harus sudah ada di sana untuk menyambut tamu.


"A-qua…" Karma akhirnya menghubungi Aqua setelah lebih dari lima kali menghubungi Kana yang tidak kunjung dijawab. "Hari ini pemakaman ayahku, datanglah ke desa." Karma menahan isakannya. "Aku tidak bisa menemukan Kana. Aku belum memberitahu kematian ayah padanya, hari ini aku ingin mengatakan padanya, tapi dia menghilang. Apa yang harus aku lakukan?"


*****


Aqua memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Akhirnya liburannya selesai, menginap bersama Ruby, Mem, Akane, Frill, Miyako, Ichigo dan Gotanda. Kopernya sudah bertengger di loby setelah melakukan check out dari kamar.


Ponsel Aqua berdering, panggilan dari Karma. Aqua menjawab ketika mereka sudah masuk ke dalam bus mini. Suara Karma terdengar frustasi. Ia menangis dan berteriak dengan penuh kesedihan. Aqua menahan air matanya, mendengar kabar kematian Akino yang belum sempat ia panggil ayah.


"Tenanglah…" Aqua berusaha untuk menahan emosi dan gemetar tubuhnya. "Aku akan ke sana. Tapi, mungkin akan sampai di sana malam. Kau tenanglah sekarang. Aku yakin Kana baik-baik saja."


"Bukan begitu! Aku takut dia mengetahui kabar ayah dari orang lain dan akan berteriak atau melompat ke jurang!" 


Aqua membulatkan matanya. "Apa sih maksudmu? Dia tidak mungkin seperti itu!"


"Dia pernah kabur dari rumah sakit saat melakukan terapi dan pergi ke hutan untuk melompat ke jurang!" Karma berseru setengah berteriak, ia mengacak rambutnya frustasi. "Sebentar, aku harus ke sana."


"Dia tidak mungkin sampai berpikir sejauh itu. Kau juga belum mengatakan apapun padanya kan? Ya, kau tidak perlu khawatir. Mungkin dia pergi dengan Yunyun." Aqua mencoba menenangkan Karma.


"Tidak! Bagaimana jika Kana benar bunuh diri? Kalau sampai dia mati juga! Aku akan mati juga!" teriak Karma dengan napas tersengal, dia sudah berlari masuk ke dalam hutan.


"KARMA!!!" Teriak Aqua, sontak satu mini bus menatap Aqua kaget.


Karma menghentikan langkahnya, kakinya gemetar, suara teriakan Aqua seolah menamparnya secara langsung.


"Tenang dan pulanglah!" seru Aqua seraya meremas ponselnya. "Kau harus menyambut tamu ayahmu. Kana akan pulang ke rumah, jika sampai aku datang dia belum kembali, aku yang akan mencarinya. Jadi pulang dan tenanglah!"


Karma membenturkan kepalanya ke pohon dengan sangat keras. Ia sadar bahwa ia harus menjadi lebih dewasa setelah kematian ayahnya. Kana akan baik-baik saja, dia harus yakin bahwa Kana memang gadis kuat.


"Arigatou."


Aqua menatap ponselnya, Karma mengirim nomor ponsel Kana pada Aqua. Ia tidak ingin menemui Kana karena kalimat terakhirnya dengan Kana, tapi ini keadaan darurat, ia tidak bisa hanya duduk diam saja. Ia harus menekan gengsinya dan tetap menghubungi dan menemuinya.


"Akino-sensei meninggal dunia, aku akan ke sana. Jadi turunkan aku di stasiun terdekat dari sini." Aqua menatap Ichigo.


"Arima Akino?" tanya Ichigo kaget. "Bagaimana bisa? Kapan terjadinya?"


"Iya, aku tidak mendengar jelasnya. Aku akan ke pemakamannya hari ini." Aqua menjawab seraya menatap ponselnya, mencari kereta yang pergi menuju Akita.


"Aku ikut. Kana pasti terguncang sekali. Ini terlalu cepat untuknya." Ichigo menatap Aqua melalui kaca mobil. "Kau hubungi Kana?"


Aqua menggeleng. "Karma bilang, dia belum mengatakan kematian Akino-sensei pada Kana. Dan sekarang Kana tidak bisa ditemukan."


"Apa sih kau Aqua! Telepon Kana cepat! Bagaimana bisa dia tidak mengetahui kematian ayahnya terus dia pergi menghilang!" seru Miyako dengan nada kesal. "Berikan aku nomor Kana, jika kau tidak mau menghubunginya!"


Aqua menyodorkan ponselnya pada Miyako. Ia segera menghubungi Kana. Sementara Ruby dan Mem diam dalam keadaan takut. Akane dan Frill tidak paham apa yang sedang terjadi di sini. Gotanda menatap Aqua dari tempat duduk di samping Ichigo yang menyetir.


"Akino yang waktu itu datang?" tanya Gotanda. Aqua menganggukkan kepalanya.


"Iya, kau kenal dia juga, kan? Dia mengatakan padaku pernah minum bersamamu dan Kaburagi juga. Dia ayah dari Arima Kana." Ichigo menjelaskan.


"Arima Kana, artis cilik dan mantan idol B-Komachi?" tanya Gotanda.


"Iya, Arima Kana yang berambut merah itu. Dia masih hidup dan tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya di desa daerah Akita." Ichigo menjelaskan. "Aku akan ikut ke pemakamannya dengan Aqua."


"Kita pergi bersama ke sana." Miyako melanjutkan. "Kana tidak menjawab panggilannya. Aku khawatir padanya sekarang."


"Jadi dia masih hidup ya…" komentar Gotanda dengan mata yang menatap Aqua. "Akino selalu memujimu, Aqua. Dia mengatakan kau anak yang baik dan selalu berusaha untuk kuat. Padahal kau rapuh dan perlu banyak pelukan." Gotanda tersenyum dan kembali pada posisinya.


Aqua menundukkan kepalanya. Menyesal dia tidak memanggil Akino dengan sapaan ayah. Dan justru tidak menghubungi tiga bulan terakhir ini karena dia tidak ingin menghubungi Kana. Air mata Aqua akhirnya jatuh, rasanya dia ingin berteriak juga seperti Karma, tapi dia sadar bahwa di dalam mobil banyak orang.


...****************...