Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Kembali Pulang


Karma mengerjakan tugasnya hingga malam. Sepekan sudah Kana hidup di apartemennya, dan dia hanya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah. Hanya untuk menulis dan membaca banyak buku yang ia bawa dari rumah.


"Besok mau ikut tidak?" tanya Karma dari luar kamar.


Kana menyahut dengan suara keras. "Kemana?" 


"Toko buku!" jawab Karma sambil berdiri mendekati Kana. "Aku mau beli beberapa buku yang dibutuhkan. Kau mau ikut?" 


Kana menutup bukunya. "Boleh, aku lihat ada buku terbitan baru penulis Akasaka." 


"Ya, besok jam 8 berangkat." Karma mengingatkan.


Kana berdiri mendekati Karma di depan pintu. "Aku mencari beberapa tempat pelatihan kuda di dekat sini. Apa boleh aku ikut gabung?" tanya Kana dengan tangan yang menunjukkan brosur pelatihan kuda di ponselnya.


"Kalau ayah mengizinkan, ya aku izinkan." Karma menjawab dengan santai.


Kana melangkah keluar dari kamar. "Aku mencari kerja paruh waktu. Apa boleh juga?" 


Karma menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh kalau itu. Aku sudah kerja paruh waktu juga, jadi pasti ayah akan melarangmu."


"Tapi, kita tidak selamanya hidup bergantung pada ayah. Bahkan di desa saja aku punya penghasilan karena bekerja dengan Ishigami-san. Masa di Tokyo aku tidak punya." 


Karma meraih ponsel di atas meja makan. "Baiknya kita tanya ayah dulu, kalau pun boleh pasti tidak di sembarang tempat."


"Siap!" seru Kana penuh semangat.


...****************...


Musim panas menghangatkan seluruh Jepang. Mem dan Ruby sudah merencanakan perjalanan liburan mereka. Mem selalu mengajak Kana, tapi Kana selalu menolak untuk ikut. Tanpa bertanya alasan pada Kana, Mem yakin sekali semua pasti karena ucapan Aqua beberapa bulan lalu.


Ruby membeli beberapa bikini bersama Mem. Aqua yang kembali ke dirinya yang dingin, jarang tersenyum sekarang terlihat lebih parah. Ia selalu menolak ajakan Mem apa pun itu. Aqua hanya menerima ajakan Ruby padanya saja. Ia menghindari semua pertanyaan tentang Kana dari Mem, Ruby ataupun Miyako.


Mem yang sadar Aqua mulai tidak menyukainya hanya menganggap bahwa Aqua sedang emosi berlebihan dan masih kekanak-kanakan. Mem selalu mencoba mengajak bicara Aqua apa pun itu, meski dia tahu Aqua akan mengacuhkannya dan berlalu begitu saja.


Keberangkatan mereka berlibur ke Okinawa pun mulai. Aqua ikut bersama Ichigo dan Gotanda. Miyako, Mem, Ruby, Akane dan Frill pun ikut serta. Liburan musim panas mereka akan segera dimulai.


Akane mencoba  untuk mendekati Aqua, namun respon Aqua justru pergi meninggalkan pantai. Ruby mengejar kakaknya, dan mencoba untuk mengajak Aqua menikmati liburan mereka di pantai. Berharap sifat dingin, cueknya itu berkurang setelah pulang berlibur.


"Aqua-kun, kenapa jadi seperti itu? Dia lebih dingin dari sebelumnya." Akane berkomentar menatap Aqua yang ditarik paksa Ruby ke pantai dengan wajah datar. 


Mem mengangkat bahunya dan kembali ke pantai. Mem sebenarnya tahu, tapi dia tidak ingin membahas Aqua. Dia tidak mau liburannya rusak hanya karena Aqua seorang.


...****************...


Deretan rak buku tertata dengan rapih. Bau dari kertas memenuhi seisi ruangan. Alih-alih pergi ke toko buku, Kana justru meminta Karma mengajaknya ke perpustakaan di dekat universitas tempat Karma belajar.


Seperti halnya perpustakaan. Tenang dan nyaman. Karma yang mencari beberapa buku tentang kedokteran pun meninggalkan Kana di bagian buku sastra. Kesukaan Kana pada membaca buku masuk ke kategori maniak. Selain membaca, Kana suka melakukan resensi dari beberapa buku dan mengunggahnya di internet.


Dengan lima buku yang sudah Kana pilih, ia akhirnya mencari tempat duduk di dekat jendela besar. Tidak banyak mahasiswa yang duduk di sana, Kana meletakkan buku-bukunya, menarik kursi pelan agar tidak menimbulkan suara. Duduk dengan tenang, dan mulai membaca buku pertama.


Waktu berlalu tanpa terasa. Buku yang mereka baca sudah berganti banyak judul. Menyadari waktu sudah makan siang, Karma mendekati Kana, mengajaknya keluar untuk makan siang.


"Jangan ramen lagi!" seru Kana ketika menyadari langkah Karma yang pergi ke minimarket untuk membeli ramen instan di sana. "Makan yang lain saja. Aku bawa uang lebih, jadi kita makan yang enak."


"Ya, baiklah Nyonya. Aku ikut saja..." Karma melangkah mendahului Kana menuju kantin terdekat di kampusnya. "Jadi, mau apa?"


Banyak stand makanan di dalam kampus. Kantin dipenuhi banyak mahasiswa. Ini pertama kalinya bagi Kana, melihat kantin kampus, karena tidak pernah berniat kuliah, Kana tidak pernah merasakan sensasi makan di kantin kampus.


Suara ponsel Karma tiba-tiba berbunyi setelah Kana membeli beberapa makanan cepat saji dan nasi dalam kotak. Kana kembali ke meja untuk mulai makan siang mereka. Menyisihkan pesanan milik Karma dan memakan makanan pesanannya. Pandangannya kini memerhatikan Karma di hadapannya.


Semakin siang, maka kantin semakin ramai. Ada yang datang sendiri atau bergerombol. Bahkan ada beberapa yang dengan santainya saling berpelukan, bermesraan di dalam kantin.


...****************...


Ponsel milik Karma berbunyi, panggilan dari rumah sakit tempat Akino bekerja. Hari ini harusnya waktu pulang Akino dari dinasnya di Okinawa. Panggilan dari rumah sakit cukup membuat Karma kaget.


Kana yang duduk di hadapan Karma, mendekatinya berusaha meraih ponsel Karma yang memucat. Tapi, Karma dengan cepat memutus teleponnya. Ia menatap mata Kana dengan wajah sedih. Mencoba untuk tetap tenang seraya menyuap nasi ke mulutnya.


"Kita akan pulang ke Akita," ucap Karma.


Tidak bisa lagi ia menyembunyikan wajah pucat dan tubuh gemetarnya. Karma berdiri, memeluk Kana dengan erat, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Ia khawatir untuk mengatakan ini pada Kana dan membuat kakaknya terguncang. Mengingat tubuh dan mentalnya sedang proses pemulihan.


"Ada apa? Kau bisa menjelaskannya padaku! Siapa yang menghubungimu?" tanya Kana mencoba melepas pelukan Karma. Namun, Karma semakin erat memeluknya, ia tidak mau Kana melihat wajahnya yang merah dan menangis.


"Kita pulang hari ini, akan ada yang menjemput kita pulang ke desa."  Karma menahan isakannya.


"Hari ini? Ada apa? Kau bisa menjelaskannya padaku!" Karma melepas pelukannya. "Pulang bersama siapa?" tanya Kana.


"Habiskan makan siang kita, kembali ke rumah untuk pulang. Sebentar lagi akan ada yang datang untuk menjemput kita." Karma menarik napas panjang, menahannya, menghapus air matanya kasar.


Dengan perasaan bingung dan tidak paham, Kana menganggukkan kepalanya, menurut pada Karma. Wajah Karma seperti mendengar kabar menakutkan. Tapi, anak itu tidak menjelaskan lebih jelas pada Kana.


...****************...


Kana dan Karma menaiki mobil menuju rumah mereka di desa saat langit berwarna oranye. Hawa panas masih terasa walau sudah hampir malam. Kana masuk ke dalam rumahnya, sementara Karma mengatakan akan ikut sebentar pergi keluar bersama pria yang mengantar mereka.


Lagi-lagi Kana tidak diberitahu penyebab wajah panik Karma dan semua kegiatan yang terburu-buru hari ini. Rumah keluarga Arima lengang. Kana masuk ke dalam kamarnya yang rapih dan wangi. Setiap hari akan ada yang bersih-bersih rumah miliknya. Merasa semua tempat sudah rapih, Kana keluar rumah. Menguncinya dan melangkah ke tempat Ishigami.


"Kau sudah pulang?" tanya Ishigami ketika melihat Kana yang melangkah ke rumahnya. 


"Iya, Karma terlihat buru-buru jadi aku tidak sempat bertanya apa yang terjadi padanya." Kana tersenyum. "Apa Yunyun sehat?" tanya Kana.


"Besok pagi, pergilah ke kandangnya, sepertinya dia merindukan pemiliknya." Ishigami tersenyum lebar.


"Siap!"


...****************...