Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)

Benang Merah (Oshi No Ko > Aqua X Kana)
Reuni Singkat


"Onii-chan!" panggil Ruby ketika Aqua membuka matanya pelan. Wajah Ruby sudah memerah dengan mata bengkak. Di sampingnya duduk Miyako dengan wajah khawatir.


Ruby segera memeluk Aqua. Air matanya kembali mengalir ada teriakan di sela isakannya. "Akhirnya kau sadar!" seru Ruby setengah berteriak. 


Aqua mencoba menatap sekitar. Bau obat menyengat hidungnya. Tangannya ditusuk jarum infus. Ruangan serba putih yang ia tempati cukup luas dengan satu ranjang.


"Ini di mana?" tanya Aqua pelan.


Ruby melepas pelukannya, ia kembali menangis. "Onii-chan! Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari!"


"Tiga hari?" tanya Aqua tidak percaya, ia mencoba bangun dari posisinya. Ia pergi ke dimensi lain dan sudah tiga hari tidak sadarkan diri? Benar-benar luar biasa. Lalu sekarang dia berada di rumah sakit, tempat terakhir dia bertemu Kana.


"Apa yang terjadi?" tanya Aqua pada Miyako. Ia tidak ingin bertanya pada Ruby, karena sejak tadi Ruby menangis sambil meraung.


"Aku dihubungi Akino-san, katanya kau masuk IGD. Dan kami segera pergi ke sini. Sudah tiga hari kau dirawat di sini." Miyako menjawab seraya berdiri mendekati Aqua. "Kenapa bisa sampai tidak sadarkan diri? Kami khawatir kau koma. Apa kau punya penyakit yang dirimu sembunyikan?"


Aqua menggeleng. "Aku baik-baik saja." Aqua memikirkan bagaimana keadaan Kana. Berhubung terakhir yang dia ingat, ia berada di halaman rumah sakit malam itu bersama Kana.


"Kalau begitu, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa tubuhmu." Miyako bergegas keluar dari ruang inap Aqua.


"Ruby…" panggil Aqua pada Ruby yang masih terisak di sebelah ranjangnya. "Aku baik-baik saja, oke!" Aqua tersenyum meyakinkan saudara kembarnya.


"Aku takut onii-chan mati! Lalu nanti aku sama siapa? Aku benar-benar takut hidup sendirian!" seru Ruby dengan mata penuh air mata. "Aku tidak mau hidup sendirian!" teriak Ruby sambil memeluk Aqua.


Aqua membalas pelukan Ruby. Ia berpikir, Ruby adalah orang yang menjadi takdirnya selain Kana. Jika dia menikah dan hidup bersama Kana di desa, maka Ruby akan sendirian. Dan itu adalah hal yang membuat dirinya berat untuk jauh dari Ruby.


Miyako datang bersama dokter dan segera memeriksa kondisi tubuh Aqua. Dokter mengatakan Aqua sudah membaik dan bisa pulang malam ini.


"Aqua…" Miyako duduk di sebelah Aqua, memastikan Ruby sudah keluar dari ruangan untuk mengabarkan pada yang lain tentang kepulangan Aqua. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Miyako.


"Kalian? Siapa?" tanya Aqua bingung.


"Kau dan Kana." Miyako menjawab dengan wajah khawatir. "Akino-san mengatakan padaku Kana masuk ke rumah sakit meminta bantuan pada perawat untuk membawa masuk. Setelah kau masuk IGD, Kana langsung tidak sadarkan diri. Sekarang dia harus menjalani banyak tindakan selama tiga hari."


"Apa maksudnya?" tanya Aqua tidak mengerti.


"Akino-san mengatakan padaku Kana kehilangan banyak darah, dia juga berkali-kali mengalami sesak napas." Miyako menjawab dengan wajah serius. "Apa yang kalian lakukan? Apa ada orang jahat saat kalian bertemu?"


Aqua terdiam, memikirkan sesuatu. Apa perginya dia ke memori Kana menyebabkan Kana kehilangan kesadaran juga? Bukan seperti Aqua yang hanya tertidur, apa dampak yang didapat Kana jauh lebih besar dari Aqua?


"Dia ada di ruang inap sebelahmu. Aku lihat dia masih belum sadar. Oksigen di hidungnya, infus dan darah menancap di tangannya." Miyako berdiri. "Apapun itu, kuharap kau bisa mengunjunginya sebelum kembali ke Tokyo."


Pemuda berambut blonde itu menundukkan kepalanya. Kana sampai harus menderita untuk mengajak Aqua mendengar alasannya menolak dirinya. Jika harus berlanjut dan tetap egois, entah apa yang akan mereka dapatkan ujungnya. Jika memaksa, Aqua merasa semua hanya berakhir pada kenyataan yang sia-sia.


"Aku akan melupakannya," ucap Aqua. "Itu yang terbaik untuknya dan untukku." 


Jawaban Aqua, membuat Miyako mengeraskan rahangnya, alisnya bertaut, tatapan kesal kini ia berikan pada Aqua.


"Ya, itu memang lebih bagus! Kau memang hanya main-main dengannya!" seru Miyako seraya meninggalkan Aqua.


Ruby yang mengintip dari balik pintu terdiam, mendengar semua percakapan Miyako dan Aqua tidak percaya. Semua pertanyaan kini memenuhi kepalanya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ruby melangkah menuju kamar inap di sebelah ruang inap Aqua. Ia menatap gadis terbaring di sana dengan banyak alat di tubuhnya. 


"Senpai…" Ruby menutup mulutnya rapat dan berlari kembali ke kamar inap Aqua dengan jantung yang berdebar kencang.


Air matanya kembali mengalir. Ia tidak percaya akan wajah yang dilihatnya tadi. Jika percakapan Miyako dan Aqua benar-benar Kana yang ia kenal. Maka, gadis itu masih hidup dan sekarang dirawat di kamar inap sebelah kamar inap Aqua. Apa ini semua jawaban atas teman dekat yang mengubah kakaknya? Atau hanya kebetulan gadis itu mirip dengan Kana?


Bersiap pulang. Miyako masih memasang wajah kesal, dia tidak ingin menatap Aqua. Ruby yang selalu menempel dengan Aqua dengan maksud bertanya tentang keberadaan Kana. Dan masih menimang waktu yang tepat.


...*****...


Kana akhirnya tersadar dan kembali normal setelah lima hari ia berjuang di ruang inapnya. Dengan oksigen di hidung, tangan dipenuhi jarum. Wajahnya masih pucat, tatapannya masih kosong.


Tidak banyak bicara, Kana sudah duduk di kursi penumpang dalam mobil ayahnya. Setelah meminta izin untuk pergi menemui Ruby dan Mem di Tokyo, mereka akhirnya berangkat ke Tokyo.


"Aku hanya ingin memastikan..." Kana menggantungkan jawabannya.


"Kalau itu keputusanmu, aku akan mengikutinya." Akino menghela napas pelan, ia melirik Kana di belakang. "Kuharap kau tidak menyesal setelah ini."


Ucapan Akino kini menjadi bahan pikiran Kana. Seorang ayah yang baru ia temui lagi setelah belasan tahun itu seolah bisa membaca pikiran Kana. Berkali-kali Kana membulatkan tekadnya, dia juga sudah percaya pada keputusan yang ia buat.


...****************...


Ruby masih menunggu waktu yang tepat, hingga tiga hari sudah ia masih memikirkan waktu yang tepat untuk bertanya pada Aqua tentang Arima Kana.


Ruangan Miyako penuh dengan Ruby, Mem, Aqua dan beberapa idol. Setelah pembacaan jadwal, para idol keluar dari ruangan diikuti beberapa staff. Sementara Ruby, Mem dan Aqua masih bertahan di ruangan bersama Miyako dengan kesibukan masing-masing.


Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Tidak seperti biasanya, ketukan itu terus berlanjut meskipun Miyako sudah mengatakan masuk. Jika itu staff, mereka akan langsung masuk jadi mungkin itu bukan staff.


"Apa kau punya tamu?" tanya Mem pada Miyako.


Miyako berdiri seraya menggeleng pelan, ia melangkah membuka pintu ruangannya. Gadis dengan dress putih sebetis ditambah cardigan berwarna merah berdiri di hadapan Miyako. Senyumnya mengembang dengan sangat lebar. Tangannya membawa keranjang buah.


"Hisashiburi Miyako-san!" seru Kana sambil menyodorkan keranjang buah pada Miyako.


Dengan mata masih melebar, Miyako menarik Kana ke pelukannya. Ia mencoba mencerna apa yang tengah gadis ini rencanakan. Setelah mendengar kabar Kana kritis, Miyako tidak berhenti khawatir. Ditambah ia mengingat semua kalimat Kana bahwa tidak ingin mengunjungi Tokyo, jadi pasti ada alasan gadis itu datang ke sini.


"Kana-chan?" Mem berteriak histeris, berlari menghambur ke pelukan Kana yang hanya tersenyum.


Wajah Mem sudah memerah, pecah sudah tangisnya. Berharap apa yang ia lihat ini adalah kenyataan. Dan semakin ia tidak percaya karena Kana dengan lembut mengelus punggung Mem.


"Gomen ne, Mem..." bisik Kana di telinga Mem. "Aku kembali..." lanjutnya.


Mem kembali mengeratkan pelukannya, mencoba memahami apa yang terjadi. Kana di hadapannya, di pelukannya adalah Kana yang tiga tahun lalu dikabarkan meninggal dunia akibat pembunuhan. Namun kini, gadis berambut merah ini berada di pelukannya.


"Senpai?" Ruby ikut berlari memeluk Mem dan Kana.


Reuni penuh air mata kebahagiaan kini terjadi di ruangan milik Miyako. Membawa kembali kenangan tentang masa di mana mereka pertama kali bertemu untuk membuat satu grup idol. Pelukan dan genggaman tangan penuh kehangatan dan senyum penuh kegembiraan di wajah basah bekas air mata.


Sementara Aqua menatap Kana penuh selidik. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu datang ke Tokyo setelah mengatakan lebih memilih untuk amnesia. Ia mengingat dengan jelas semua memori Kana yang berlangsung selama tiga hari, termasuk rasa sakit akan penolakan dari Kana.


Teman...


Merasa harus totalitas menjauhi Kana, Aqua segera berdiri dan keluar dari ruangan tanpa menyambut Kana. Mem mengamati Aqua setelah reuni mereka. Ia menahan lengan Aqua, matanya seolah mengatakan untuk tetap di ruangan.


"Bagaimana bisa, senpai! Apa ini benar dirimu?" tanya Ruby dengan wajah yang sudah merah dan basah.


"Tentu saja, ini aku! Arima Kana!" jawab Kana penuh semangat, ia melepas pelukannya. "Maaf ya, baru bisa datang ke sini. Aku sudah melihat kalian di hotel dan restoran beberapa hari lalu."


"Kenapa kau tidak langsung datang ke sini dan memberitahu kami bahwa kau masih hidup! Aku sangat merindukanmu!" Mem menatap Kana, meraih tangan Kana lembut. "Kami sangat kehilanganmu, berharap semua berita itu bohong."


"Ada banyak yang terjadi, aku tidak bisa langsung datang ke sini." Kana tersenyum lebar seraya mengelus punggung Mem yang sudah berteriak sambil menangis lagi.


"Lihat wajahmu kenapa semakin cantik?" Mem kembali memeluk Kana. "Kau memanjangkan rambutmu! Kau tahu ini semakin cantik!" Mem meraih rambut Kana yang halus dan lembut, memainkan jarinya diantara rambut Kana.


Hanya suara tawa pelan yang Kana berikan. Perasaan sedih bercampur bahagia kini mengisi hati Kana. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Aqua yang masih duduk di sofa ruangan mengamati mereka--lebih tepatnya mengamati Kana.


"Senpai… Kau semakin terlihat dewasa. Aku tidak percaya kau akan terlihat seperti orang lain!" seru Ruby. "Kupikir kau akan terus menjadi Loli-senpai!"


Aqua segera berdiri dan keluar dari ruangan Miyako, setelah merasa dirinya tidak kuat melihat Kana semakin lama. Ia ingin menarik Kana, memeluknya, bertanya kabarnya dan ingin menciumnya. Mengatakan semua keegoisannya, bertahan untuk tetap mengejar Kana agar mereka bisa bersama.


"Konslet sudah otakku!" Aqua mengacak rambutnya frustasi setelah ia menutup pintu ruangan Miyako.


...****************...