
hello readers....minta bantuan nya ya untuk vote dan like nya. karena dukungan kalian sangat berarti bagi ku .. semoga kedepan nya bisa lebih baik lagi.. terimakasih readers love you all~
alena berbaring di sebuah kamar yang belum pernah ia lihat sebelumnya , perlahan ia membuka mata lalu bangkit dari posisi tidur. ia pun melihat sekeliling lalu menangkap cermin yang memantulkan bayangan tubuhnya.
ia sedikit terkejut melihat pakaian yang ia kenakan sudah berganti menjadi dress tidur.
tak berapa lama seorang pelayan wanita masuk membawakan minuman hangat, sup jamur dan beberapa kue
"silahkan nona,tuan prince meminta anda untuk menghabiskan semuanya. "
pelayan itu menghampiri alena dan menyimpan makanan nya di atas meja.
"terimakasih..."
ucap alena yang merasa canggung menerima perlakuan seperti itu.
"baiklah kalau begitu saya mohon pamit,"
ucap pelayan itu dengan sangat sopan.
kemudian alena hanya mengangguk penuh canggung, setelah kepergian pelayan itu. alena menghampiri jendela besar yang berada di samping cermin.
ia mencoba membuka nya perlahan dan benar saja itu hanya jendela biasa,ketika dia membuka nya angin menyerbu masuk kedalam ruangan. menghembus ke arah wajah dan tubuh alena dengan leluasa, lalu ia pun mencondongkan kan tubuh nya untuk memastikan keadaan di bawah jendela itu.
"ternyata ini sangat tinggi,aku harus mencoba nya dulu mungkin aku bisa segera pergi dari rumah ini."
gumamnya pada diri sendiri.
alena kembali memperhatikan jarak dari atas jendela itu,ia mencari tali tapi tidak ia temukan. ia mencari seprei agar bisa di simpul tapi juga tidak ada, seakan mereka tahu bahwa ia akan mencoba untuk kabur. tapi ia tak putus harapan akhirnya ia mencari celah pijakan di antara luar jendela. hingga saat ia
melangkah turun, sebuah tangan kekar menarik lengan alena dengan kuat.
"gadis nakal,kau mau mati?"
bisik prince seraya mengangkat tubuh alena dengan kuat hingga alena kembali berada di ruangan itu.
"lepaskan ! jangan sentuh aku! "
teriak alena dengan cepat menangkis dan menjauh dari pegangan pria itu.
"berani sekali kau turun dari lantai 4. apa kau mau mati?"
mendengar ucapan pria itu Alena tak menyangka ia sedikit terkejut dengan ketinggian nya. tapi dengan hati yang penuh tekad ia menampik semua ucapan nya.
"iya, lebih baik aku mati daripada tinggal disini"
teriak nya lagi.
dengan wajah datarnya prince w tak mengindah kan ucapan alena ,ia melirik ke arah meja dan melihat makanan yang masih penuh. lalu ia kembali menatap alena dan melangkah menghampiri nya perlahan.
melihat dari gerak gerik nya saja alena sudah merasa takut, ia melangkah mundur hingga punggung nya menabrak cermin.
"jangan mendekat! berhenti,kubilang jangan mendekat!"
teriak alena yang sama sekali tak di dengar oleh prince w. hingga pria itu menangkap kedua tangan alena dengan cepat dan mengangkatnya tinggi ke udara.
" dengar, hidup dan mati mu ada di tangan ku. kalau kau tidak suka dengan keputusan ku. akan ku beri 2 pilihan menurut lah selagi aku merasa baik atau penderitaan mu akan semakin bertahan lama"
bisik prince w di telinga kiri alena yang tanpa sadar membuat alena memalingkan wajahnya ke arah berlawanan seakan tidak ingin mendengar ucapan pria gila itu.
"lebih baik aku mati sekarang juga!!! aku tidak akan pernah memilih!"
teriak alena di depan wajah prince dengan penuh emosi.
dengan wajah datarnya prince perlahan tersenyum dan mencengkram dagu alena.
"gadis pembangkang, kau memang pantas di musnahkan."
alena menggelengkan kepalanya karena tidak ingin pria itu menyentuhnya. ia sangat berusaha keras. tapi usahanya selalu dapat di kuasai oleh prince w.
prince menatap tajam alena lalu membalikan tubuh nya menghadap ke arah cermin. sehingga mereka berdua melihat bayangan mereka disana.
dengan tangan yang masih di kunci oleh prince w, alena menatap cermin itu ia di paksa mengatakan apa saja yang tidak boleh prince w sentuh.
alena tidak mau menjawab ia hanya terdiam,karena merasa iba pada dirinya sendiri.
"kenapa kau tidak menjawab? apa ini yang tidak boleh ku sentuh?"
prince w perlahan menyentuh paha alena dengan lembut. lalu meraba ke perut dan bersiap menyentuh dada alena. itu semua ia saksikan sendiri di depan cermin. hingga alena kembali menangis.
"kayazumi, lihat kedepan! kau sudah tidak sehebat dulu. apa kau merasakan nya ? "
prince w kembali berbisik seraya menggigit kecil telinga alena membuat ia merenggut kan kepalanya
tanpa aba aba pria itu mengangkat badan alena dengan mudah dan mendudukan nya di atas ranjang.dengan ekspresi datar prince w meraih mangkok lalu menatap alena dan menyodorkan sup itu dengan kasar.
"ingat persiapkan dirimu untuk acara besok. jika ada kekacauan kau akan menerima hukuman dari ku."
prince meninggalkan kamar itu, sementara alena terlihat menghabiskan sup nya dengan cepat. lalu pergi diam diam untuk mencari pelayan yang tadi siang.karena jam sudah menunjukan pukul 9 malam alena tidak berhasil menemukan pelayan itu ia malah berpapasan dengan mr.ren
"maaf nona ada yang bisa saya bantu,"
tanya mr,ren yang baru saja keluar dari ruangan prince.
alena terlihat malu dan canggung,ia memberanikan diri menanyakan pelayan wanita yang tadi melayani nya.
"maaf, apa anda melihat pelayan yang tadi mengganti seragam ku? seperti nya ponsel ku tertinggal di sana."
Alena menunggu jawaban dari mr.ren. pria itu tidak menjawab apapun hanya merogoh kantong celana nya dan menunjukkan ponsel alena. Tanpa pikir panjang alena meraih ponsel itu dari tangan mr ren tapi dengan cepat mr ren mendekap barang itu.
"Maaf nona, ponsel anda akan saya simpan. Sesuai perintah tuan muda. Jadi lebih baik anda kembali ke kamar anda. Saya mohon pamit."
Ucap nya seraya meninggalkan alena tanpa basa basi.
"Tunggu dulu! maaf tuan itu barang ku..."
Teriak nya berangsur mengecilkan suaranya karena di rumah itu terasa sangat bergema.
Alena memegang dagu nya ia berfikir apa yang harus dia lakukan. Sedangkan ponsel itu jalan satu satu nya,Tiba tiba pandangan alena tertuju pada telepon antik yang menempel di dinding pojok sebelah kamar.
"Aish... Tahun berapa sekarang masih memakai telepon jadul, semoga bukan hanya pajangan...."
Gumam nya sedikit berlari kecil ke arah sana.
Alena mencoba menghafal nomor ibu nya dan menekan tombol telepon tua itu. Tak berapa lama panggilan nya tersambung,
"Halo , ibu?
"Halo ini siapa?
"Ini aku lena. Ibu dimana? Tolong jemput aku di....
" Halo mrs. kayazumi, apakabar mu?"
Tiba tiba prince w muncul di belakang alena membuat nya terkejut dan berusaha menjauhkan telepon dari pria itu.
"Bukan kah itu tuan w? Maaf alena seperti nya ibu masih banyak kerjaan. Lain kali ku hubungi lagi ya..."
"Tunggu dulu bu, aku di culik pria ini tolong jemput aku sekarang....halo ibu ? Ibu? "
"Tut....tut....tut....."
Ibu nao sudah menutup telepon nya dengan cepat ketika mendengar suara prince.
Prince merebut telepon itu dari tangan alena lalu menyimpan nya kembali. Alena yang masih mematung mencoba untuk kabur ke kamar nya tapi prince dengan mudah menarik dan menyudutkan nya di tembok.
"Siapa yang mengijinkan mu memakai barang ku?"
Ucap prince dengan tatapan datar
"Memang kenapa? Ponsel ku kau ambil ! Siapa yang mengijinkan nya pula?"
Bentak alena dengan percaya diri.
"Untuk apa menghubungi ibu mu? Dia sudah menjual mu sebagai gantinya.sekarang kau harus patuh, karena aku adalah tuan mu."
"Atas dasar apa kau seenak nya mengklaim apa pun yang bukan milik mu? Kau muncul tiba tiba begitu saja lalu menculik ku dan meminta ku untuk menjadi tunangan mu. Apa kau tidak waras?!"
Prince memperhatikan setiap ucapan yang alena lontarkan pada nya. Meskipun ia tidak pernah memperlihatkan ekspresi apapun kecuali senyum smriknya yang menurut alena sangat menakutkan.
"Hmmm.... Kalau aku memang tidak waras. Kenapa?"
"...."
Ia malah merasa heran kenapa pria itu tidak merasa terganggu dengan ucapan nya.
Karena sudah tanggung emosi alena pun mengeluarkan semua kekesalan dan pertanyaan yang bertubi tubi pada prince w.
"Pria gila. Dengar! Aku sama sekali tidak mengenal mu saaaamaaa sekali aku tidak pernah bertemu dengan mu terkecuali saat di cafetaria. Kau muncul lalu menculik ku dan mengatur segala nya sesuai apa yang kau ingin kan. Hey.. kau pikir kau siapa? Meskipun aku hanya seorang mahasiswi dan pegawai part time. Tapi aku punya hak, ini hidup ku tidak ada kaitannya dengan mu.meskipun kau kaya raya kau jangan pernah mengambil semuanya sesuai kehendak mu. "
Setelah alena berkata panjang lebar prince hanya kembali tersenyum dan matanya seolah berubah menjadi tajam menatap alena. Alena merasa kikuk dan memalingkan pandangannya ke arah lain. Prince yang sedari tadi menguncinya di dinding membuat alena tidak bisa melarikan diri. Ia hanya bisa menghindari tatapan prince.
"Kau sudah jadi milik ku sesuai persetujuan ibu mu. jadi semua hak, tubuh, jiwa raga mu sudah menjadi milik ku. Lebih kebetulan lagi kita saling mengenal... "
Tak terima dengan pernyataan nya,alena ngin menyampaikan sesuatu,tapi bibir alena di tutup oleh jari telunjuk prince yang lebih cepat membungkam kalimat nya.
"Sssttt , suatu saat kau akan menyadari semuanya. Aku tidak membutuhkan penjelasan mu. "
Ucap prince dengan suara membisik.
Alena menangkis tangan prince. Tapi prince seperti tidak terima , ia menggotong badan alena dan membawa nya masuk ke kamar yang berada tepat di samping telepon jadul tadi.
Setelah masuk prince membanting pintu kamar itu hingga gagang nya hampir terlepas.
"Turunkan aku ! Hey !"
Alena sesekali memukul badan prince yang kekar dan tinggi yang tidak sebanding dengan dirinya.
BUGH!
prince melempar tubuh alena ke atas ranjangnya. Ternyata kamar itu adalah kamar kerja prince yang di desain multifungsi.
Alena terkejut ketika prince beranjak naik ke ranjang lalu menduduki kaki nya hingga alena tidak bisa bergerak,
Secepat kilat ia menarik dasinya dengan kasar lalu mengikat kedua tangan alena ke atas kepala menggunakan dasi itu.
"Seperti nya kau harus di beri pelajaran."
Ucap nya seraya mengikat alena. Sedang kan alena masih berusaha berontak.
"Mau apa kau ! Jangan main main! Ini tidak lucu!"
Prince menindih tubuh alena lalu mendekat kan wajahnya pada wajah alena.Masih dengan ekspresi datar nya prince mengusap usap bibir alena menggunakan telunjuk nya lagi.
"Kau masih sangat ganas sama seperti dulu, apa kau mau merasakan sesuatu yang menyakitkan tapi membuat mu ingin lagi?"
Bisik prince masih mengusap usap bibir alena.
"Hentikan ! Aku tidak mau main main!!!"
Teriak gadis itu dengan emosi nya.
Wajah prince berubah merah penuh emosi sontak saja ia mencengkram rahang alena dan meneriaki nya.
"Kau pikir aku sedang main main ?! Hah?!"
Prince mengalih kan pandangan nya ke bawah leher alena lalu perlahan ia membuka kancing baju alena satu demi satu.
"Jangan... Tolong jangan, jangan lakukan itu."
"Kenapa? Kau malu? Tidak apa apa aku sudah melihat nya tadi siang. "
Alena terdiam dan mengingat kejadian tadi siang, saat ia pingsan, ternyata prince yang menggantikan pakaian nya.
"Hah? Jadi...
"Sudah terbuka, "
Ucap prince setelah membuka semua kancing baju alena. Alena terlihat memakai bra berwarna hitam.
"jauh kan tangan mu yang kotor itu dasar breng*ek!
Prince mengacuhkan ucapan alena dia meraba perut alena yang ramping dan berisi. Lalu kedua tangan nya menyusup ke balik bra itu.
Alena berusaha keras menahan rangsangan dari kegiatan itu.ia terus mencaci tapi prince tidak merasa terganggu.
Ia malah berkata
"Sepertinya ini ukuran standar. "
Tiba tiba Prince merobek bra hitam itu dengan Mudah
"Akh jangaaann.... "
Tak henti hentinya alena melarang prince. Tapi ia malah tersenyum smirk menatap alena, ia seperti mengejek keadaan alena saat ini.
"Ternyata kau memang lemah, apa yang kau rasakan sekarang?"
Ucap prince yang terus memainkannya
Alena terus mengoceh menyuruh prince untuk menghentikan aksinya
"Lihat aku. jangan munafik!"
Prince mengangkat dagu alena dan melihat wajah nya yang berubah memerah tanpa perhitungan dulu ia mencium bibir alena dengan kasar l*dahnya memaksa masuk leluasa kedalam mulut alena. kini alena menggeleng geleng kepala nya berusaha menghindari ciuman itu.
"Mmm... "
Tapi alena tidak bisa menahan kekuatan dari nya
Setelah beberapa menit prince melepaskan kissing hell itu, bibir alena terlihat memerah karena lecet. Tak berhenti sampai di situ prince menyikap rok dress yang dipakai alena.
Di sana alena tidak bisa menahan lagi tangisannya,
"Jangan aku mohon ....tuan w aku mohon jangan ...."
Mendengar kalimat alena yang terdengar berbeda,prince menghentikan kegiatan nya. Ia melirik wajah alena dengan sinis.
ia pun melepas ikatan tangan alena,
lalu tiba tiba terdengar suara ketukan pintu. prince menoleh ke arah pintu, sedangkan alena dengan cepat membetulkan pakaian dan menutupi badan nya dengan selimut. prince kembali menatap tajam ke arah alena. ia memberi isyarat telunjuk di bibir, meminta alena untuk tidak bersuara.
gadis itu mengangguk dengan takut.
"tuan, maaf ada panggilan dari prancis."
ucap suara dari balik pintu itu
prince beranjak dari ranjang dan melangkah mendekati, lalu membuka nya setengah pintu
"maaf tuan muda, "
ucap mr ren seraya menyerahkan ponsel itu kepada prince.
"hallo,
"hallo , minggu depan ada undangan, sekaligus ada bisnis yang harus kita bicarakan"
"baiklah...."
jawab prince dengan wajah yang masih datar.
mr ren mengambil ponselnya kembali dan memberikan ponsel milik alena pada prince karena sedari tadi banyak panggilan masuk ke nomornya.
"maaf tuan ponsel ini terus berdering"
prince menerima ponsel alena dan meminta mr ren untuk kembali. pria tua itu pun membungkuk dan pergi meninggalkan nya.
sedangkan prince kembali masuk ke kamar, alena melihat kedatangan prince yang membawa ponsel di tangannya. ia pun cukup bereaksi dan ingin meminta nya.
tapi prince menghampiri meja kerja nya lalu menyimpan ponsel itu ke dalam laci. kemudian ia duduk bersender di samping meja.
"tidur lah, aku akan melihat mu disini."
"hah?"
prince menatap sinis ke alena tanpa mengulang ucapan nya.
melihat tatapan yang menakutkan, alena menutup mulut rapat dan membaringkan tubuhnya, ia memalingkan kepalanya ke arah lain untuk menghindari pandangan nya dari pria jahat itu.
"kenapa nasib ku sesial ini..."
bisik alena dalam hati nya. seiring dengan air mata yang menetes
000000