Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2

Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2
Bab 9


Sejak hari itu suamiku lebih sering telat pulang, terkadang juga tidak pulang. Tak jarang aku menemukan bekas noda lipstik dibaju suamiku, entah itu disengaja atau kebetulan aku mencoba tuk sabar menghadapi kenyataan ini.


Semakin kesini suamiku semakin berani menunjukan perslingkuhanya. Aku bukan membiarkan semua terjadi begitu saja, sudah berulang kali aku membuat suamiku menyadari kesalahanya. Namun selalu saja berujung pertengkaran. Kadang aku lelah, sebagai seorang istri aku sama sekali tak dihargai keberadaanya.


" Ginaa, siapkan semua keperkuanku aku akan pergi dengan sinta keluar kota beberapa hari! " ucap suamiku kala kami baru saja selesai memadu kasih. Bukan, bukan memadu kasih namun lebih tepat disebut memuaskan nafsunya.


" Kemana mas? Berapa lama, sudah lah mas. Sudahi hubungan gila kalian. Tolong hargai perasaanku mas, aku istri kamu! " hiks hiks


Aku masih belum mengenakan pakaianku, hanya slimut yang membalut tubuhku yang polos.


" Ini semua gara-gara kamu, kalau kamu bisa hamil aku takan mungkin mencari kebahagiaan bersama wanita lain! " Ucapan mas arul begitu menyentuh relung hatiku. Sakit rasanya begitu sakit, seprti ada belati yang menacap dijantungku.


" Maas, kenapa selalu itu yang kamu jadikan alasan. Kita sudah berusaha. Dari dokter, vitamin, herbal semuanya sudah kita coba tapi memang Tuhan belum mengizinkan kita memliki buah hati. Sadar mas, mungkin kamu yanh bermasalah. " Aku sudah merasa sangat muak hingga entah mendapat keberanian dari mana aku mengatakan itu pada mas arul.


Plaaaaaak!


" Jaga bicara kamu gina. Aku subur dan aku lelaki perkasa. Sekali lagi aku dengar kamu mengatakan itu aku sobek mulut kamu! " Sentak mas arul, kemudian dia pergi meninggalkanku begitu saja.


Braaaaaak


Mas arul membanting pintu kala keluar dari dalam kamar. Aku sungguh tak menduga semua ini terjadi dalam rumah tanggaku.


" Ada apa lagi gin? Kamu membuat arul marah lagi? " Aku tak menduga pertanyaan itu keluar dari mulut ibu mertuaku.


Saat mertuaku masuk aku baru saja masuk dalam kamar mandi.


Aku hanya mendengarkan tanpa menjawab satu patah katapun.


" Makanya gin cepetan hamil, kalau kamu punya anak suami kamu akan betah dirumah! " Rasanya aku lelah mendengarkan semua itu dari mulut suami dan mertuaku.


Aku sama sekali tak memprdulikan apa yang mertuaku ucapkan, lebih baik aku pura-pura tak mendengar karna ucapan mereka selalu saja membuatku sakit hati.


Brak brak brak


" Ginaaa! Kalau ada orang ngomong didengrin gin, bulan depan kalau kamu belum hamil juga maka aku akan suruh Arul menalak kamu! " teriak mertuaku dri luar. Aku masih berada dalam kamar mandi.


Entah karna lelah menunggu atau memang sudah cukup puas memarahiku, aku mendengar langkah kakinya menjauh dari depan pintu kamar mandi. Beberapa detik kemudian aku mendengar suara pintu ditutup dengan keras.


****


Dilain tempat mas arul baru saja sampai disebuah hotel bersama sinta. Mereka sudah trbiasa melakukan hal sprti ini, jalan berdua, tidur bersama bahkan tak jarang mereka sengaja menyewa hotel untuk saling melepas rindu. Mereka sudah sprti pasangan suami istri.


" Sayang aku punya kejutan buat kamu! " Ucap sinta sambil bergelayut manja dilengan arul.


Mereka kini sedang duduk disofa sambil melihat pemandangan indah disamping hotel tempat mereka menginap.


" Apa sayang, aku sungguh sangat penasaran. " Arul membelai puncak kepala Sinta dan satu tanganya menggengam tangan sinta dengan begitu erat.


" Tunggu disini sayang. " Sinta bangkit dan mengambil sesuatu entah apa dalam tasnya.


" Waaw, makin penasaran aja sii." Ucap arul dengan seulas senyum yang sangat manis, entah kenapa saat bersama sinta arul selalu bisa bersikap lembut dan romantis.


Arul mengikuti permintaan sinta untuk menutup matanya.


Sinta mendekat dan membrikan sebuah kotak kecil panjang berwarna hitam dipangkuan Arul.


" Sekarang buka mata mas! " Ucap sinta yang langsung ditiruti oleh Arul. Kening arul berkerut dan matanya sedikit menypit. " Apa ini sayang? " tanya arul dan menunjukan kotak hitam yang ada diatas pangkuanya.


" Kamu liat aja mas, aku yakin mas suka mas pasti akan sangat bahagia! " Sinta mendekat dan duduk dipangkuan Arul, tanganya bergelayut manja dileher suami gina itu.


" Ooch sayang, kamu selalu saja membuatku penasaran. " perlahan arul membuka kotak itu dan sungguh tak disangka dan tak diduga sama sekali. Dalam kotak hitam itu ada benda kecil pipih dan panjang. Dan ditengahnya ada dua garis berwarna merah.


" Ini? " tanya arul sambil menunjukan alat tes kehamilan itu pada sinta.


Sinta mengangguk pelan dan berbisik ditelinga Arul dengan lirih.


" Iya sayang, aku hamil. Aku sudah telat dua minggu, kita akan punya anak. "


Tanpa mengucap satu patah katapun arul langsung menggendong sinta dengan bahagia. " Hahaaaa ahirnya aku akan jadi seorang ayah. Trimakasih sayang trimakasih. Cup cup cup. " Arul mencium sinta dengan bertubi-tubi.


" Turunkan aku mas, Aku juga sangat bahagia ahirnya aku bisa mewujudkan impian kamu untuk menjadi seorang ayah! " Sinta tak kalah bahagianya dengan arul, dia merasa sudah menang karna bisa hamil anak dari hasil hubungan gelapnya dengan arul.


Sinta bahagia bukan karna kehamilanya, melainkan karna sebentar lagi dia bisa mendepak Gina dari hidup arul dan menjadi nyonyah Arul diistana megah milik arul.


" Aku bahagia sinta, aku bahagiaaa! " Arul terus menggendong dan mengayun sisca sambil berputar. Tak dapat dibayangkan lagi betapa bahagianya Arul karna sudah berhasil membuat wanita yang dicintainya hamil.


" Aku minta kamu scepatnya ceraikan istri kamu mas, kamu harus menikahiku. Kalau kamu tidak mau menikahiku lebih baik aku gugurkan saja bayi yang ada dalam kandunganku! " Sinta mengancap arul dengan bayinya yang masih belum terbentuk sama sekali.


Sinta bahagia, dengah hadirnya bayi itu dia akan mendapatkan apapun yang dia mau. Bahkan anaknya akan jadi pewaris dari kekayaan keluarga Gani Wicaksono. Seorang pengusaha sukses dikota itu, semua orang bahkan sudah mengenal siapa keluarga wicaksono.


Dirumah besar wicaksono gina kini merasa tiba-tiba tidak enak badan. Bahkan sejak pagi dia merasa sangat pusing, mual dan bahkan semua makanan yang masuk kedalam mulutnya keluar begitu saja.


Aku memaksakan diriku untuk pergi keapotik untuk membeli obat. Aku brfikir jika aku mungkin masuk angin karna terlalu lama membiarkan tubuhku tak memakai sehelai benangpun.


Aku berjalan kaki keapotik, karna jarak dari rumah keapotik sangat dekat.


" Mbaa, beli obat masuk angin ya mba. Dari tadi pagi saya merasa pusing, mual bahkan mutah. " ucapku pada pelayan apotik .


" Baik bu, sbentar saya resepkan obat untuk ibu. " Sambil menunggu apoteker meresepkan obat aku membuka ponselku. Aku sedikit terkejut saat melihat tanggal yang tertera dilayar ponselku.


" Mbaa, sekarang tanggal berapa yaa? " Karena merasa ragu aku sampai menanyakan tanggal pada apoteker yang sedang sibuk menyiapkan obat untukku.


" Tanggal 20 buu. " ucapnya tanpa menoleh karna dia sedang mengambil obat-obatan.


" Tanggal 20, harusnya kan aku! Ya Tuhan aku sudah terlambat tiga minggu dari tanggal seharusnya aku mendapatkan menstruasi. Apa artinya aku! " Aku berbicara dalam hati, lalu aku memanggil apoteker trsebut untuk membatalkan resepnya dan menggatinya dengan tiga buah tast pack dengan merek yang berbeda.