
Sejak pertemuannya dengan Sinta kini mereka menjadi dekat, bahkan diam-diam arul selalu membuat janji dengan sinta.
" Gin, aku pergi sbentar kamu tidak usah menungguku tidurlah dulu. " tak biasanya mas arul berpamian saat pergi.
Aku merasa ada yang lain dari suamiku, terkadang dia pulang larut bahkan beberapa kali tidak pulang. Biasanya dia meminta ku melayaninya stiap hari namun sekarang sangat jarang. Stelah pemeriksaanku kedoketer hasilnya baik mas Arul terlihat tak begitu menggebu soal anak. Bahkan dia sekarang cuek, namun justru itu yang membuatku penasaran.
" Memangnya mau kemana mas? " karna merasa penasran ahirnya aku membranikan diriku bertanya.
" Mau ketmu temen, ya sudah aku pergi dulu. Ingat minum vitaminmu dengan baik, jangan menungguku! " ucap mas arul, stelah itu dia pergi begitu saja tanpa menghiraukan ku yang masih diliputi dengan berbagai pertanyaan.
" Ada apa dengan suamiku, sikapnya yang seprti ini justru membuatku curiga. Sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku? Mengapa aku merasa gelisah saat dia pergi. Tak biasanya aku sperti ini. " Otakku bekerja keras saat aku memikirkan perubahan sikap suamiku.
" Kenapa melamun gin? " suara mertuaku mengagetaknku. Entah sejak kapan dia datang kekamaraku.
" Eng, anu mah aku gak nglamun ko. Mamah ada apa? " tanyaku heran, tak biasanya mertuaku datang kekamarku malam-malam.
" Kenapa? Tidak boleh? Mama hanya mau mengingatkanmu, cepatlah punya anak agar suamimu tak mencari istri lain! " Deeeg, mendengar ucapan mertuaku jantungku seprti berhenti berdetak.
" Maksud mamah apa? " aku mendekati mertuaku yang berdiri diambang pintu.
" Kamu fikir saja sendri. " mertaku pergi begitu saja tanpa memperdulikanku sama sekali.
Setelah keprgiannya aku mencoba mencerna ucapanya.
" Apa makud ucapan mama, kenapa mama berbicara seprti itu? Apa mas arul mau nikah lagi? Tapi dengan siapa? Aku harus mencari tau scepatnya. " Aku terus memikirkan apa yang mertuaku ucpkan.
****
Dilain tempat arul baru saja sampai disalah satu apartemen. Ahir-ahir ini tempat itu adalah persinggahan ternyaman buat arul.
Tok tok tok
Tak sleang beberapa lama sinta membuka pintu dan langsung menyambut arul dengan pelukan.
" Kenapa lama sekali sayang? " ucap sinta dengan suara mendayu-dayu. Itu terdengar sangat menggoda ditelinga Arul.
" Maaf sayang, aku banyak urusan tadi. Kamu tau sendri istriku begitu merepotkan! " Arul membalas pelukan sinta dengan erat.
" Akuu rindu. " bisik siska ditelinga arul, merasa ditantang arul mendorong sinta dan merebahkanya diatas ranjang.
" Kamu sudah mulai nakal ya sekarang! " arul nampak bersemangat dan kini mengukung sinta yang mulai menggodanya dengan berpose sexy diatas tempat tidur.
" Kenapa, apa kamu tidak rindu? " Sinta mulai menarik arul kedalam dekapanya.
" Sangat, sangat rindu. Milikmu sudah menjadi candu untuku. Bersiaplah, aku ingin tiga ronde malam ini! " Arul dengan tergesa-gesa menanggalkan semua pakaianya hingga tak meninggalkan sehelai benangpun dalam tubuhnya.
Sinta menyambutnya dengan penuh semangat. Bahkan dia sudah siap mendapatkan hujaman kenikmatan dari arul. Laki-laki yang sudah beristri, entah sejak kapan mereka sudah memulai hubungan terlarang itu.
Malam itu arul dan sinta menghabiskan malam panjang, hingga arul sama sekali tak mengingat janjinya kala berpamitan dengan istrinya.
" Maas, kamu dimana. Ini sudah hampir pagi. " Karena lelah menunggu hingga tak sadar gina tertidur disofa dalam posisi duduk.
Sementara suaminya kini tidur dipelukan wanita lain.
Tak hanya tiga ronde bahkan mereka melakukanya lagi dan lagi hingga mereka sama-sama merasa lelah dan tak bertenaga.
Pagi-pagi sekali arul sudah bangun dan bersiap untuk pulang. Sinta yang masih belum memakai appun berusha mncegah agar arul tak pulang dengan menggodanya diatas tempat tidur.
" Sudah sayang, aku harus pulang. Besok aku janji datang kesni lagi, sekarang aku harus pulang. Aku ada metting dikantor siang ini! " ucap arul sambil merapihkan pakaianya.
Wajah sinta tiba-tiba ditekuk saat mendengar arul akan pergi, sinta bangun dengan berbalut slimut sebatas dada.
" Apa kamu tak menginginkanya lagi sbelum kamu pulang hem? " entah bagaimana seprtinya sinta tak mempunyai rasa lelah padah semalaman sudah digempur habis-habisan oleh arul.
" Sangat, sangat ingin tapi ini sudah siang sayang. Cuup, aku janji besok datang lagi. " ucap arul dan sinta terpaksa dengan berat hati melepas arul untuk pergi.
Arul mengndarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama untuk dia sampai dirumah.
Saat baru masuk rumah arul sudah dihadang oleh ibunya yang kini duduk diuang tamu.
" Wanita mana yang sudah menjeratmu hingga membuatmu tak pulang semalaman? Mama perhatikan kamu selalu terlambat pulang! " Arul tekejut mendapatkan pertanyaan itu dari ibunya.
" Maksud mama apa? " arul pura-pura tidak faham
" Jangan kamu kira mama ini bodoh arul. Kamu itu putraku, aku paham seprti apa dirimu. " Arul menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia selalu saja kalah jika harus mengelabuhi ibunya. Ibunya selalu selangkah lebih maju dibanding dirinya.
Apa yang dia lakukan selalu saja tak luput dari pantauan ibunya. Tanpa mau menjwab arul pergi begitu saja meninggalkan ibunya. Arul berjalan cepat menuju kamarnya.
" Semalam nginap dimana mas? " baru saja melangkah masuk kamar arul langsung disambut dengan pertanyaan istrinya.
Arul menghela nafas dan menghembuskanya kasar.
"Bukan urusan kamu, tugas kamu hanya berusha bagaimana caranya kamu bisa hamil agar aku tak mennikahi wanita lain! Jangan pernah campuri urusanku atau aku... "
" Aku apa mas, ayo jawab aku apa? " ucapku dengan nada tak kalah tinggi. Aku mendekati suamiku dan aku dapat mncium aroma parfum wanita dibaju suamiku.
Aku makin terkejut kala melihat suamiku membuka baju dan didadanya penuh dengan tanda merah. " Tanda apa itu, siapa yang melakukanya? Aku sama sekli tak pernah melakukan semua itu? Lalu siapa yang melakukanya? Apa kamu? "
" Apaaaa, aku apa? " bentak mas arul , pikiranku melayang begitu jauh membayangkan apa yang sudah suamiku lakukan diluar sana.
" Siapa wanita itu mas, kenapa kamu melakukanya? Tidakah kamu memikirkanku saat melakukan bersamanya? " pertanyaanku menyulut kemarahan mas arul.
" Bukan urusan kamu! Sudah aku bilang jangan campuri urusanku! " mas arul melempar kemejanya kewajahku dan dia masuk kedalam kamar mandi.
Aku menangis sesegukan, tenggorokanku rasanya tetcekat, sektika dadaku terasa sesak sprti terhimpit batu besar.
" Tega kamu mas tega, kenapa kamu melakukan ini padaku, apa salahku! " hiks hiks