Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2

Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2
Bab 14


" Anjaaaz! Jawab mama. " anjaz menghela nafas saat meihat mata sang ibu sudah melotot dengan sempurna.


" Mama dieem, sabar dulu kenapa si ma. Ini lo aku bawa orang pingsan. Telfon dokter anye ma buruan! " bukan menjawab anjaz justru memerintah ibunya.


Anita nampak semakin kesal namun ia menuruti permintaan putranya untuk menelfon dokter keluaga mereka.


Anjaz membawa gina kekamar tamu karna dia tidak mungkin membawanya kekamarnya. Anita bagai anak kecil yang mengikutinya dari belakang.


" Anjaz cepat katakan sama mama siapa dia dan kamu apakan dia kenapa dia pingsan? " Anita masih berusha, berharap putranya sgera memberikan dia jawaban..


" Hadeeeeh, tanganku rasanya mau patah! " keluah anjaz saat dia sudah membaringkan gina yang masih dalam keadaan pingsan. Sementara mbok min asisten rumahtangga anjaz masuk kekamar dengan membawa secangkir teh hangat untuk tamu sang majikan.


" Tuan, ini teh anget untuk nyonya tamu! " ucap mbok min membuat anjaz terkekeh.


" Ko ngguyu ki lo tuan! " ujar mbok min sambil meletakan secangkir teh itu dinakas samping tempat tidur.


" Yowes mbok matursuwun, trimakasih. " ucap anjaz dan kemudian menyuruh mbok min untuk memasak sop hangat untuk gina.


" Selamat siang Anjaz, siapa dia apa dia calon istrimu? " tanya dokter anye, dokter anye merupakan dokter keluarga anjaz namun dia adalah sahabat anjaz sejak kecil jadi mereka sudah sangat akrab bahkan mereka lebih terlihat seprti saudara.


" Ck, kamu ini! Jangan meledeku, jangan banyak bertanya cepat priksa dia. Aku menemukan dia dalam keadaan pingsan dipinggir jalan dan badanya demam. Dia mantan kariawanku! " jelas anjaz sekaligus menjawab pertantaan anita.


Anita hanya membulatkan mulutnya mendengar penjelasan anjaz, sementara anye mulai melakukan pemeriksaan terhadap gina.


Stlah melakukan pemeriksaan Dokter anye mendekati anjaz.


" Dia demam karna kelelahan dan belum terisi makanan. Dia terliht sangat stres, mungkin dia sedang ada masalah besar apa lagi dalam keadaanya yang tengaj berbadan dua itu menyebabkan kondisinya semakin lemah. " Jelas dokter anye sambil menatap anjaz dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Aku colok matamu nyee! Kenaa menatapku demikian, apa kalian berfikir aku yang melakukanya! Dia sudah menikah hampir satu tahun. " Ucap anjas sambil melirik kearah ibunya yang juga tengah menatapnya.


" Ekheem, betul begitu anjaz? " selidik Anita.


Anjaz menghela nafas dan mendekati ibunya.


" Anye apa dia benar-benar hamil? " tanya anita


" Sepertinya memang begitu tan, dari hasil pemeriksaanku dia tengah hamil muda. Kisaran 4 atau 5 minggu. Eeem itu seprtinya dia bangun tan. " Anye berjalan mendekati gina.


" Haaai, kamu sudah sadar bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan? " Gina terlihat bingung dengan pertanyaan anye, dia juga melihat keskliling ruangan yang nampak asing untuknya.


" oh ya, perkenalkan aku dokter anye dan kamu ada di.. "


" Ada dirumahku. " ucap anjaz tiba-tiba sudah ada dibelakang anye. Anye menepuk jidatnya mendengar suara anjaz yang terdengar ketus dan tak bersahabat.


" Pa-pak anjaz, kenapa saya ada disni. Seingat saya tadi saya... " gina tampak mengingat kejadian bebrapa wktu lalu yang membuatnya hingga pingsan dijalan.


" Ck, kamu itu kalau mau pingsan liat tempat dong! Aku terpaksa membawamu kesni karna kamu pingsan ditengah jalan. " ucap anjaz dengan ketus. Bahkan jika yang tak mengenalnya akan mengira dia sedang marah. Wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.


" Anjaaaz! Kamu ini bisa tidak sedikit lebih lembut dengan perempuan! " Anita menjewer telinga anjaz dan kini tersenyum kearah Gina.


" Naak, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi apa kamu sedang hamil? " Tanya anita dengan lembut. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh anita gina langsung meraba perutnya.


Gina mengangguk, mengiyakan apa yang anita tanyakan.


" I-iya tante, saya sedang hamil. " tes tes tes


Air mata gina meluncur bebas tanpa bisa dibendung.


" Ck, dasar cengeng! Ditanya malah nangis. " anjaz membuang muka dan pergi kearah jendela.


" Apa yang terjadi nak, kenpa kamu menangis. Jika dengan bercerita bisa mengurangi bebanmu ayo tante siap mendengarkan ceritamu! " Anita merasa gina memang tengah terpuruk, sesama wanita dia bisa merasakan gina dalam keadaan tidak baik-baik saja.


" Tante betul, kamu harus mengeluarkan beban dalam hatimu. Apa lagi dalam kondisimu, jika kamu stres maka bayimu pun akan merasakanya dan itu tak baik untuk perkembnganya. " Melihat betapa tulusnya anye dan anita membuat gina merasa tersentuh. Gina kini trisak dia merasa ada yang peduli terhadapnya disaat dirinya benar-benar hidup sebatang kara.


Anjaz pura-pura tak mendengar dan tak peduli padahal dia sama penasaranya ingin tau apa yang menyebabkan gina mengalami hal demikian.