Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2

Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2
Bab 12


Tanpa menunggu waktu lama aku mengemasi pakaaianku. Aku sperti orang yang hilang kendali bahkan aku melakukanya dengan scpat mungkin.


" Huaaaaaaaa, kenapa harus seprti ini. Inikah yang aku dapatakan stelah aku begitu lama bersabar menghadpi semuanya. " Aku meraung karna aku sudah tak mampu membendungnya lagi. Didepan mereka aku bisa berpura-pura baik-baik saja. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku. Aku hancuur, rapuh dan terluka. Terluka begitu dalam.


Stelah semuanya slesai aku langsung turun, tapi langkahku terhenti kala aku menyaksikan pemandangan dibawah sana. Mereka terlihat bahagia dan seprti keluarga yang sbenarnya. Aku merasa skit saat melihat semua itu. Jika mungkin aku berteriak aku ingin berteriak.


" Akuu istrinyaa, aku yang seharusnya ada disana. Aku juga mengandung anaknya. " Tapi entah mengapa lidahku begitu kelu, aku bahkan tak mampu berkata apa-apa lagi. Ingin rasanya aku membritahukan


mereka jika aku sudah berhasil, aku hamil.


" Makan yang banyak sayang kamu harus makan dengan cukup karna sekarang kamu tak hanya mengisi perutmu. Ada jnin yang menunggu makananmu juga! " ucap mertuaku terlihat sangat menyayangi sinta.


" Iya sayang betul kata mama. Apa kamu menginginkan makanan lain? Katakan saja sayang, nanti mas belikan. Atau kamu mau mas suapi hem? ": Mas arulpun tak kalah dengan mama. Dia begitu lembut tutur katanya, mas arul begitu memanjakan sinta.


" Trimakasih mas, mamah. Ini saja cukup ko, nnti kalau aku ingin yang lain aku pasti ngomong sama mas juga mama. " Wajah sinta terlihat sangat bahagia, binar matanya menunjukan betapa bahagianya dia. Aku tak sanggup lagi menyaksikan kehangatan mereka, apa lagi saat mas arul menyuapi sinta dan memandangya dengan penuh cinta.


Hatiku seprti terbakar, aku istrinya, istri sahnya. Aku turun dan menyeret koperku dengan pelan. Sejujurnya aku sangat pusing dan lemas. Apa lagi sedari pagi aku sama sekali belum mengisi perutku. Aku sngaja menunggu suamiku, namun saat dia pulang bukan makanan yang ku telan melainkan kenyataan pahit.


" Wah, sudah slesai bersiap rupanya. Baguslah, lebih cepat lebih baik. Ingat gina jangan pernah injakan kaki kamu lagi dirumah ini. Tunggu surat dari pengadilan dan jangan tuntut appun dari anakku. " Ucapan mertuaku sungguh sangat menyayat hatiku.


Aku dibawa kerumah ini dengan hormat dan penuh kasih sayang, namun aku keluar dari rumah ini seprti seonggok sampah yang tak berguna.


Aku diam saja sama sekali tak ingin membalas ucapan mertuaku. Aku terkejut kala sinta menghampiriku. " Trimakasih sudah bersikap baik dengan tidak memprsulit perpisahan kalian. Selamat jalan janda, trimakasih yaa sudah membrikan suamimu kepadaku. Makanya jadi wanita jangan mandul, ups. Maaf. "


Aku mendongak, menatap sinta . Kuusap airmataku perlahan. Aku menarik nafas sbelum aku membalas ucapanya.


" Aku tidak pernah membrikan suamiku pada siapapun. Tapi kamu merebutnya dariku, aku hanya mengihlaskan dia untukmu. Karna penghianat lebih cocok bersama penggoda. Trimakasih sudah memungutnya dari bekasku. Aku tidak menyesal jika aku menjadi janda. Saat bersamakupun dia berani mendekatimu. Tidak menutup kemungkinan saat sudah bersamamu dia akan pergi kewanita lain juga. Ingat hukum karma selalu dibayar kontan. " Stelah aku merasa cukup mengeluarkan kemarahnku pada sinta aku kembali melangkah kepintu keluar. Aku tak memprdulikan sinta yang menatapku dengan tatapan marah.


" Tunggu! " seru mas arul ketika aku hendak membuka pintu.


Aku berhnti tnpa menengok sama sekali.


Mas arul mendekat kearahku dan melempariku tepat diwajahku dengan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar.


" Ambil itu untuk ongkos dan sewa kontrakan. Anggap saja itu ucapan trimaksihku selama ini. " ucap mas arul dengan sombongnya.


Aku memungut uang itu satu persatu. Mas arul, mama dan sinta tersenyum mengejek melihat aku memungut uang yang berserakan dilantai.


Stelah aku memungutnya aku berjalan mendekati mas arul. Ku tarik tanganya dan kuletakan uang limaratus ribu itu ditelapak tanganya.


" Aku tidak butuh uangmu dan ambilah ini kembali. Aku sumbangkan uang ucapan trimakasihku pada sinta. Berikan ini padanya, seprti aku membrikan suamiku kepadanya. Dia lebih pantas mendapatkan sumbangan ini. "


Aku berbalik dan melangkah keluar dari rumah yang sudah membuatku sangat menderita.


" Dasar sombong, misikn saja kamu belagu. Ingat gina kamu itu tidak punya apa-apa dan tidak punya siapappun. Kamu pasti akan jadi glandangan dan mengemis dijalanan. Dasar wanita bodoh, miskin tak berguna. Wanita mandul. " Hinaan dan cacian itu keluar dari mulut ibu mertuaku mengiringi lngkahku meninggalkan rumah ini.


Aku merasakan sakit yang luar biasa, tak hanya rasa sakit. Aku mendapatkan penghinaan yang tak pernah aku akan lupakan seumur hidupku.


Aku menatap rumah itu sbelum aku benar-benar meninggalkannya. Rumah megah yang didalamya penuh dengan kenangan pahit. Langkahku semakin menjauh dari rumah itu.


" Harus kemana lagi aku berjalan, bahkan aku tak tau harus kemana aku pergi. Rumah om akmal sudah dijual, aku bahkan tak punya apapun. " gumamku sambil terus berjalan menyusri jalanan. Teriknya sinar matahari membuatku merasa sangat kehausan.


Aku melihat bangku kosong dipinggir jalan, aku melanjutkan langkahku perlahan hingga aku sampai dibangku kosong itu. Mendadak kepalaku pusing dan pandanganku terasa gelap.


****


" Tunggu sbentar, sepuluh menit lagi aku sampai dirumah. Mama itu kebiasaan sekali kalau berkunjung selalu dadakan dan membuatku harus meninggalkan pekrjaanku dengan cepat. " Ucap Anjas trdengar begitu kesal dengan lawan bicaranya disbrang telfon.


" Vani Reschedule semua metting karna saya harus pulang scepatnya. " Titah anjas pada sekrtarisnya vani. Kemudian anjas sgera meninggalkan ruanganya dan berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir.


Semua mata kariawan berdecak kagum stiap kali melihat atasanya lewat. Bentuk tubuhnya yang tinggi dan atletis dengan paras yang rupawan dan karismatik membuat anjas begitu mempesona dimata para wanita termasuk kariawanya.


Mereka selalu meleleh saat melihat wajah paripurna anjas. Namun anjas adalah typikal laki-laki yang cuek dan cenderung dingin. Hingga sampai sekarang belum ada satupun wanita yang berhasil mendekatinya.