Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2

Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2
Bab 6


Hari ini aku diajak mertuaku mengelilingi rumah, Mertuaku terus saja bercerita banyak hal dimulai dari pertama kali menempati rumah ini hingga saat ini.


Aku sampai lelah mendengar kata-katanya yang seolah tak pernah habis. Stelah keliling rumah aku diajak ketaman belakang rumah.


" Gin, ayo duduk didekat kolam. Mama pengin ngobrol banyak sama kamu." mertuaku duduk terlebih dahulu, sebenarnya aku lelah. Namun aku merasa tak enak hati untuk menolak.


" Gin, kamu tau kan Arul itu anak tunggal. Stiap hari dia sibuk bekerja kadang dia pulang hingga larut malam. Mama kesepian sekali, mama meminta arul untuk scepatnya menikah agar mama cepat nimang cucu. Mamah pengin tiga anak dari kamu ya gin, dua perempuan dan satu laki-laki. Mama harap kamu jangan menunda kehamilan kamu. " Aku menatap wajah mertuaku yang tengah memandng lurus hamparan kebun yang ada dibelakang rumah.


Kebun yang sengaja dibuat oleh mertuaku untuk mengisi waktu luangnya.


Banyak tanaman sayur-sayuran hingga buah tertanam dikebun buatan itu.


Aku tergagap, lidahku kelu. Aku bingung harus menjawab seprti apa. Bahkan aku sama sekali belum membrikan hakku pada suamiku. Aku belum spenuhnya mengenal suamiku, aku belum bisa menyerahkan kehomatanku pada orang yang masih terasa asing dalam hidupku.


" Giin! Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mau membrikan mama cucu? " pertanyaan ibu mertuaku begitu menohok hatiku.


" I-iya ma, aku takaan menundanya bantu saja dengan doa agar aku dan mas arul scepatnya diksih kepercayaan untuk sgera memiliki momongan. " Hanya kata-kata itu yang melintas dibenaku.


" Ya Tuhan, bagaimana jika aku tidak bisa hamil dengan cepat. Apa mereka akan membuangku? Apakah pernikahan itu hanyalah sebuah formalitas untuk mendapatkan wanita yang bisa mencetak anak? " aku hanya mampu bergumam dalam hati.


" Iya gin mama harap sbelum satu tahun kamu sudah bisa hamil. Dulu mama juga lima bulan langsung hamil. " ucap mertuaku dengan jelas.


" Semoga saja ya mah! " ucapku kemudian aku meminta izin untuk masuk kedalam rumah. Aku bahkan sama sekali belum membereskan pakaianku.


Stelah aku masuk kedalam kamar aku mendapati suamiku yang sedang sibuk berbicara lewat telfon. Dari kejauhan terlihat jika dia sangat menikmati obrolan itu. Terlihat dia yang selalu tersenyum bahkan terbahak saat mendengarkan lawan bicaranya berbicara. Entahlah, aku tak berani bertanya apa lagi menegurnya.


" Nanti aku telfon lagi yaa. " Ucap suamiku saat dia melihatku masuk dalam kamar.


" Gin, udah jalan-jalanya? " tanya mas arul saat sudah berada didepanku.


" Sudah mas, em maaf pagi ini aku belum bisa masakin kamu. " ucapku dengan suara lirih.


" Em tidak masalah sayang, masak itu bukan tugas kamu. Tugas kamu nanti hanya melayaniku, aku ingin segera punya anak. " Deeeg jantungku seakan berhenti berdetak mendengar apa yang suamiku ucapkan.


" Tapi mas, mengurus keprluan suami dari makanan pakaian dan lainya kan itu tugas istri tanggungjawab istri. " Ucapku sambil menatap lekat wajah suamiku. Entah mendapat keberanian dari mana aku membranikan diri menatap suamiku.


" Noo! Aku tidak akan memintamu melakukan itu, aku hanya ingin kamu melayaniku kapanpun aku mau dan kapanpun aku minta kamu harus siap. " Mas Arul menatapku dengan intes, dia berjalan mendekati ku secara perlahan.


Aku mundur selangkah demi selangkah, mas arul terus mendekat dan mendekat. Entah mengepa senyumanya terlihat menakutkan untuku.


" Awwwh. " kakiku membentu bagian samping ranjang karna tempatku berdiri tadi tak jauh dari ranjang.


Mas arul semakin mendekat, aku duduk ditepian ranjang. Dadaku berdetak tak karuan, mendapat tatapan dari mas arul membuatku sangat tak karuan.


" Ya Tuhan, akankah dia melakukan itu saat ini? Apa dia mau memaksaku? Aku belum siap, aku tau aku akan berdosa jika menolaknya. Tapi tidak dengan cara seprti ini. " gumam ku dalam hati. Aku terus mundur ketengah kasur.


Tanpa aku duga, mas arul naik keatas kasur. Merebabahkanku dan mengukungku hingga kini posisinya berada diatask.


" Ka-kamu mau ngapain mas? " Aku berusha keluar dari kukunganya, namun sama sekali tak bisa. Mas arul mengunciku hingga aku sama sekali tak biasa bergerak.


Mas arul tetap diam, perlahan dia mencium keningku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Dari kening dia mulai turun ke pipi dan bibir. Disana dia bertahan cukup lama. Mas arul sama sekali tak mengindahkanku yang brusaha menolak. Perlahan ciuman itu turun keleeher dan semakin kebawah hingga kedua asetku. Aku sama sekali tak bisa menolak, walapun aku tak ingin namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia suamiku, aku membiarkan tubuhku dijelajah oleh mas arul.


Tak terasa airmataku menetes tak terkendali.


Perlahan mas Arul membuka semua kain yang melekat ditubuku. Dia menatapku dengan tatapan sangat lapar. Aku menangkup kedua asetku dengan tangan. Mas arul melepaskan tanganku, perlahan namun pasti penyatuan yang sama sekali belum aku harapkan terjadi.


" Hiks, kenapa kamu melakukan ini mas. Kamu sudah bilang jika kamu takan memaksaku. Apa ini mas? " Mas arul terlentang disbelahku stelah menyemburkan cairan hangat miliknya.


" Maaf gin, aku hanya tidak bisa menunggunya lagi. Jika aku menunggu kamu siap lalu kapan kita punya anak. " ucap mas arul tanpa melihat kearahku sama sekli.


" Tapi mas, setidaknya kamu menunggu sampai aku siap. Aku merasa dipaksa oleh suamiku sendiri. " aku menutipi tubuhku dengan slimut hingga batas dada.


" Gin, tugas seorang istri itu melayani suaminya. Aku menikahimu karna ingin segera punya anak agar hak waris atas rumah ini segera diatas namakan menjadi miliku seutuhnya. " aku begitu tak menduga dengan apa yang baru saja aku dengar.


" Mas, kamu anggap apa aku? Kamu hanya menginginkan seorang anak dariku? Apa kamu pikir istri itu hanyalah sebuah alat pencetak anak? " Aku menatap wajah suamiku dengan seribu pertanyaan.


Mas arul duduk dan menatapku dengan senyuman yang menurutku menakutkan.


"Iyaa, aku hanya ingin mendapatkan anak darimu. Bukankah bagus, aku tak menuntut kamu untuk jadi istri yang sempurna. Kamu hanya dimina untuk melayaniku dan membrikan aku seorang anak. " stelah mengucapkan itu mas arul pergi kekamar mandi dan membanting pintu dengan keras.


Dia sama sekali tak memprdulikanku yang menatapnya dengan penuh kekecewaan.


" Ya Tuhan, pernikahan apa yang aku jalan ini! Kenapa takdirku harus berahir begini. " Hiks hiks hiks


Aku menutupi semua tubuhku dengan slimut.


Sesaat aku menyesali pernikahanku, andai aku menolak dijodohkan. Andai aku lebih memilih hidup seorang diri. Namun penyesalan ini tidak akan ada artinya. Aku hanya brusha menerima dan berharap nasib baik berpihak padaku. Tuhan mengrimkan aku buah hati dan besar harapanku stelah aku punya anak, mas arul akan memperlakukanku selaykanya seorang istri. Bukan wanita pencetak anak.