
Semenjak hari itu mas Arul selalu meminta haknya padaku, tak peduli pagi, siang, malam dia selalu memaksaku melayaninya dengan alasan agar cepat diberi anak. Tak hanya mas Arul bahkan ibu mertuaku selalu membrikan ku makanan yang dianjurkan untuk kesbuuran rahim. Hampir stiap bulan ibu mertuaku membelikanq tast pack.
" Giiin, ini sudah tanggal 20 biasanya kamu haid ditanggal 15, berati kamu sudah telat 5 hari gin. Ayo ditespack sayang mungkin kamu hamil! " Ucap mertuaku sambil membrikanq tast pack.
Jujur aku merasa sangat lelah dengan semua ini. Bukan aku tidak menginginkan anak, sebagai seorang wanita yang sudah menikah tentu saja aku menginginkan kehadiran buah hati dalam pernikahanku. Mustahil jika aku tidak begitu ingin, aku juha sama seprti mereka sangat mendamba. Stiap solat aku selalu bermunajat kepada Sang Pencipta. Namun mungkin memang belum waktunya. Semua butuh proses, semua butuh waktu. Kita hanya mampu brusha, namun hasil ditangan Tuhan.
" Maah, sabar dulu nunggu genap satu minggu atau dua minggu. Mungkin siklusnya lagi kacau jadi aku telat datang bulan. " Ucapku, namun aku tetap menerima test pack dari tangan mertuaku.
" Kamu ini giman si gin! Tinggal dicoba apa susahnya, kamu ini selalu pesimis makanya gagal terus. Cepet dicoba gin! " mertuaku mendorongku masuk kedalam kamar mandi.
Karna tak mau mendebatnya ahirnya aku menurutinya, aku menampung air kencingku dan melakukan test sprti biasanya. Nihil, hasilnya sama seprti bulan-bulan lalu. Aku keluar dari kamar mandi dengan lngkah gontai. Mertuaku sudah menungguku didepan pintu kamar mandi dengan tidak sabar.
" Bagaimana hasilnya gin? Positif kan? Garis dua kan? " Mertuaku sampai merebut test pack dari tanganku.
Matanya menyiratkan kekecewaan saat melihat kenyataan yang pahit. Test pack tetap garis satu, mertuaku melempar itu kewajahku.
" Kamu ini bagaimana si gin, hamil aja ko gak bisa! Selalu saja garis satu, ini sudah tujuh bulan gin! Apa jangan-jangan kamu mandul ya gin? " ucapan mertuaku begitu menohok kerelung hatiku.
Aku menangis bukan karna garis satu namun aku menangisi sikap mertuaku yang selalu menuntutku untuk segera hamil. Tiba-tiba mas arul datang, entah sejak kapan dia pulang. Aku melihatnya yang sedang menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
" Kenapa lagi mah, hasilnya negatif lagi? " Tanya mas arul sambil memungut test pack dilantai.
" Ck, kamu ini sbenarnya subur atau tidak si gin? Besok persiapkan diri kamu kita kedokter kandungan. Kita cek rahim kamu apakah subur atau tidak, kalau ternyata kamu mandul aku akan menceraikan kamu saat itu juga! " Sakiit, sakit sekali mendengar pernyaataan dari suamiku. Sebatas itukah arti sebuah pernikahan untuk suamiku.
Tanpa sadar airmataku menetes, mertuaku memadngku dengan remeh. Aku menunduk meratapi nasibku yang malang.
" Gak usah nangis, gitu aja ko nangis. " bentak mas Arul.
" Maas, tolong jangan menuntutku terus. Gimana aku bisa hamil kalau stiap hari aku ditekan seprti ini aku stres mas! " ucapku tak kalah keras dari suara mas Arul.
Plaaaak
" Kamu berani melawanku haaah, kamu hanya diminta membrikanku anak! " ucap mas Arul den pergi mebanting pintu kamar dengan keras.
" Hiks hiks, sakit sekali rasanya. Om tantee, aku rindu kalian. "
Dilain tempat fara dan akmal sedang makan malam, tiba-tiba fara teringat gina.
" Paaah, kenapa tiba-tiba mama kangen gina ya! Mama seprti mendengar dia memanggil mama. " fara memegangi dadanya.
" Nanti kita telfon gina ya ma, sekarang habiskan makanan mama dulu. " Akmal mencoba menenangkan istrinya.
Fara tampak tak berselera makan, dia tak menghabiskan makananya.
" paa, mama mau telfon gina sekarang ya pa! " fara mengambil ponselnya dan membuat panggilan vidio untuk gina.
Tuuut tuuut
Gina yang sedang menangis gegas menghapus airmatanya dan langsung kekamar mandi untuk mencuci muka.
" Aku harus tersenyum didepan tante fara, aku gak mau tatne fara melihat kesedihanku. " Stelah membasuk mukanya, gina menyapukan sedikit make up agar matanya yang sembab tak terlihat.
Disbrang sana fara mulai gelisah karna gina tak mengangkat telfonya.
" Sabar dong maa, mungkin gina sedang makan malam atau sedang dikamar mandi. " Ucap akmal yang melihat istrinya sangat mencemaskan keponakanya.
" Biar mama coba lagi ya pa! " kini fara membuat panggilan vidio lagi untuk gina.
" Hallo tanteee! " sapa gina saat sambungan telfon sudah terjawab.
" Hallo sayang, kenapa lama sekali angkat telfonya. Kamu apa kabar gin, sehat kan nak? " fara langsung membrondong gina dengan berbagai pertanyaan.
" Akuu baik tante, gimana tante sama om sehat? " Gina mencoba tersenyum kendati hatinya masih diliputi kesedihan.
Dari layar ponsel fara memprhatikan wajah gina yang lesu, matanya sembab dan suaranya sengau dan serak.
" Gina kamu baik-baik saja kan? Matamu sembab, kamu habis nangis? Apa kamu sehat, Arul menyakiti kamu? " fara begitu mencemaskan gina, spandai appun gina berusha menyembunyikan kesedihanya namun fara sama sekali tak bisa dibohongi. Nalurinya sebagai orangtua angkat, menuntunya karna ikatan batinnya sudah sprti seorang ibu dan anak kandung.
" Aku baik tante, uhuk uhuk, aku sedikit batuk tapi udah minum obat ko. Ini tadi kelamaan tidur siang aja tan jadi kaya sembab gitu. Heeee, tantee udah makan? " gina mengalihkan pembicaraan agar tak mendaptan pertanyaan lagi dari tantenya.
****.
Arul langsung pergi dari rumah karna dia merasa moodnya berantakan stelah ribut dengan gina.
Saat ini Arul menuju kecafe untuk sekedar ngopi agar moodnya kembali baik.
Saat arul masuk tiba-tiba tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang baru keluar dari dalam cafe.
" Maaf, maaf. Mbak gapapa? " tanya arul dan melihat kearah seseorang yang ia tabrak. Namun matanya tampak berbinar kala melihat siapa seseorang yang ada didepanya.
" Sinta! Kamu sinta kan, teman kuliahku dulu? " tanya arul dengan wajah berbinar.
" Iyaa benar, kamu Arul kan? Arul yang dulu suka kasih aku tebengan saat pulang? " ucap sinta tak kalah senangnya karna bisa bertemu dengan sahabat lamanya.
" Iyaa, kamu masih ingat itu? Ya Ampun sinta kamu makim cantik aja nih. " puji arul yang membuar sinta tersipu.
" Ah kamu bisa aja, dari dulu suka banget sih gombalin aku! Oya kamu sendrian aja nih, aku denger kamu udah nikah. Mana istri kamu? " Ucap sinta yang dijawab dengan senyuman oleh arul.
" Heem baru ketemu udah nanyain istri, mending kita ngobrol yang lain. Ayo masuk lagi, aku tlaktir kamu makan atau ngopi! " Pinta arul setengah memohon.
" Eemm aku udah makan, kalau ngopi.. Oke deh. Ayo, mumpung gratis! Hihiii " sinta menggandeng tangan arul dan arul menyambutnya dengan suka cita.