Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2

Talaq 3 Saat Test Pack Garis 2
Bab 10


" Dari mana kamu? " Aku terkejut saat aku masuk rumah mertuaku sudah berada diruang tamu menungguku.


" Gina dari apotik ma, gina kurang enak badan. " ucapku lirih kemudian aku langsung pergi kekamarku. Aku sungguh tidak sabar untuk menggunakan test pack yang baru saja aku beli. Tanpa memprdulikan mertuaku aku berjalan begitu saja melewatinya.


" Dasar menantu tidak sopan! Awas aja kamu ya gin, nanti kalau arul pulang akan aku adukan kamu! " aku mendengar ucapan mertuaku, namun aku brusha mengabaikan itu. Ada yang jauh lebih penting dari itu.


Aku gegas masuk kedalam kamar mandi saat aku sudah sampai kamarku. Hatiku dag dig dug tak karuan, stelah aku menampung air seniku aku mencoba membuka tast pack itu satu persatu.


" Ya Tuhan, aku siap apapun hasilnya nanti. " aku mletakan ketiga tast pack itu dalam waktu bersamaan. Entahlah, aku benar-benar tidak sabar untuk tau apa hasilnya.


Satu menit, dua menit, tiga menit, aku dengan sabar menunggunya. Perasaanku campur aduk tak karuan. Menit kelima aku memberanikan diri untuk melihat. Tanganku bahkan bergetar hebat saat aku mengambil ketiga test pack itu.


 Aku bahkan memejamkan mataku, aku takut benar-benar takut untuk melihat hasilnya.


Perlahan aku membuka mataku, mataku melebar sempurna bahkan airmataku meluncur begitu saja saat melihat ketiga test pack itu sama-sama memiliki dua garis. Aku bahkan sampai berulang kali memastikanya jika aku tidak salah lihat.


" Aku hamil, ini beneran aku hamil! Ya Tuhan, ahirnya Kau menjawab semua doa-doaku. Aku harus segera kasih tau ini sama mas arul Eh, jangan! Aku bakal kasih mas arul kejutan. Aku harus telfon mas arul sekarang. Ya.. Aku harus telfon mas arul, aku harus minta dia pulang secepatnya. " Aku mengambil ponselku dan tanpa menunggu waktu lama aku langsung membuat panggilan untuk suamiku.


" Hallo, mas! " Mas arul langsung menjawab telfonku dengan cepat, tak sperti biasanya.


" Hallo, adapa gin? Sudah aku bilang jangan ganggu aku! " ucap mas dimas, sungguh membuatku kecewa, namun aku tak mau memprdulikan itu. Saat ini aku hanya ingin bertemu dengan dia secepatnya.


" Kamu bisa kan pulang lebih cepat? Ada hal penting yang harus aku sampaikan mas. Ini sangat penting. " ucapku .


" Besok pagi baru aku akan pulang, aku juga akan mengatakan hal yang jauh lebih penting sama kamu. Ya sudah jangan ganggu aku lagi, aku tak mau membuat sinta merasa kecewa! " Tuuuut telfon langsu dimatikan secara sepihak oleh mas Arul.


Deeeg, jantungku seakan berhenti berdetak, mas arul dengan terang-terangan mengatakan itu kepadaku. Aku menyeka airmataku yang sempat menetes.


" Jangan sedih gina, semuanya akan segera berakhir. Besok saat mas arul tau kamu hamil dia pasti akan kembali sama kamu dan meninggalkan wanita pelakor itu. Yaa, aku harus sabar! Aku hanya harus menunggu sampai besok. " Aku mencoba menguatkan hatiku, menyemangati diriku sendri.


Dilain tempat mas Arul dan sinta sedang memadu kasih.


" Adapa sayang, kenapa istri kamu nelfon? " tanya gita dengan raut wajah tidak enak. Dia merasa terganggu aktifitasnya .


" Tidak ada apa-apa! Ayo sayang kita lanjutkan. Jangan hiraukan dia, oya sayang besok kita harus pulang. Aku harus membritahukan ini sama mama dan gina. Gina harus siap menerima keputusanku. " Ucap Arul sambil membelai dengan lembut puncak kepala sinta.


Mendengar apa yang arul ucapkan wajah sinta berbinar bahagia. " Benarkah itu sayang? Kamu benar-benar akan menikahiku? "


Dalam hati sinta merasa bangga akan dirinya, dia kembali memadu kasih dengan suami gina.


***


Pagi hari suasana pagi sangatlah cerah, secerah suasana hati gina. Bahkan gina sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan semua makanan kesukaan Arul. Ini kali pertama gina menginjakan kakinya didapur. Sepuluh bulan menjadi menantu dari keluarga Wicaksono baru kali ini dia masuk dapur. Selama ini ibu mertuanya melarang gina untuk masak ataupun masuk dapur. Gina sengaja bangun lebih awal agar dia bisa menyelesaikan masakanya sbelum ibu mertuanya bangun.


" Ahirnya sudah slesai semuanya, aku harus cepat mandi. Mas arul pasti sbentar lagi sampai. Aku gak sabar rasanya pengin kasih kejutan ini sama mas arul. Hiii " Meskipun kepalaku pusing dan perutku sangat tidak nyaman tapi entah mengapa aku begitu bersemangat. Seakan semua rasa itu aku nikmati saat ini.


Stelah mandi dan brsiap aku langsung turun karna ingin menyambut suamiku. Dibawah mertuaku sudah menungguku dan dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Apa yang kamu mau coba buktikan gina? Aku sudah melarangmu memasak dan masuk area dapurku, lalu kenapa kamu menyiapkan semua ini tanpa seizinku! " mertuaku terlihat sangat marah dan tatapan matanya kini terlihat seprti srigala yang siap memangsa buruanya.


Entah kenapa kali ini aku sama sekali tak tersinggung, marah ataupun sedih mendengar ucapan mertuaku. Aku merasa sbentar lagi semua ini akah berahir. Aku mendekat kearah mertuaku, merangkul pundaknya meskipun aku tau dia merasa tidak nyaman dan mungkin aneh melihat sikapku.


" Maaah, hari ini saja. Maafkan gina yang sudah masuk kedapur mama tanpa izin. Tapi gina ingin menyiapkan semua ini untuk mas arul. "


Mertuaku menatapku, menelisik wajahku dan stelahnya tersenyum dengan sinis.


" Kamu mencoba mengambil hati arul dengan masakan kamu? Hahahaaa ginaa, ginaa. Apa kamu fikir arul akan luluh hum? Dia hanya ingin kamu hamil dan membrinya anak, bukan makanan seprti ini. Tapii yaaaa sudahlah. Kita liat saja nanti, semoga hari ini keberuntungan ada padamu. " Mertuaku meninggalkanku stelah mengatakn semua itu.


Aku hanya tersenyum dibalik punggungya. " Mama akan tau jawabaya sbentar lagi ma. " Aku menusap lembut perutku. Aku sangat tidak sabar menunggu mas Arul.


Deru suara mobil mas arul terdengar, aku melihat diriku sendri. Merapihkan pakaianku dan rambutku. Aku bersiap menyambut suamiku.


Dengan semangat dan penuh bahagia aku menuju kearah pintu. Aku ingin membukakn pintu untuk suamiku dan menyambutnya dengan senyum kebahagiaan.


Cekleeek


Hatiku berdenyut nyeri saat aku melihat suamiku datang dengan seorang wanita. Wanita yang sudah aku tau, dia sinta. Ya sinta sang pelakor dalam rumah tanggaku. Sinta bergelayut manja dilengan suamiku, wajahnya terlihat mengejekku.


" Mas. " aku menyalami sumiku tanpa memprdulikan sinta disampingnya.


" Sbar gina sabar, sbentar lagi! " gumam ku lirih, aku yakin stelah mas arul tau aku sedang mengandung anaknya dia pasti akan meninggalkan wanita itu.


Mas arul dan sinta berjalan melewatiku begitu saja. Aku mengikutinya dari belakang, saat ini aku harus sabar ya sabar.