
Waktu berjalan begitu cepat hingga jam pulang kantor sudah tiba. Kariawan lain sudah bubar tepat waktu, memang dikantor wiratama tidak pernah mengadakan lembur kecuali dalam keadaan darutat saja. Kantor sudah nampak sepi, tersisa tiga serangkai yang baru saja berkumpul stelah skian lama.
" Eh lu pada gak pulang apa, ngapain masih ngedeprok disitu? " ucap Bima saat melewati 3 serangakai yang tengah srius ngobrol diarea kantin.
" Diem lu pak bim, dah pulang aja sono. Kita mah ntaran aja! " susi merasa geram lantaran Bima tiba-tiba mendeket dan nimbrung diantara mereka bertiga.
" Ya kalo boleh si pengin ikutan ngegibah! " ucap bima yang lngsung mendapatkan pukulan dilenganya oleh wanda.
" Sembarangan aja lu pak bim, siapa yang mau ngegibah sii! Kita mah mau sidang, niih tersangkanya! " tunjuk wanda pada gina yang tengah asik minum jus alpulat yang tadi sempat dia pesan dari bu mun, penjaga kantin dikantor.
" Eh ko gue sih, emangny gue nyolong appan sampe jadi tersangka. " Ujar gina sembari menggrlingkan matanya. Sbenarnya dia sudah tau maksud dari ucapan wanda, namun gina hanya ingin menggoda sahabatnya itu.
" Aelah, lu lupa ya udah nyolong star nikah duluan. " celetuk susi sembari terkekeh.
Mendengar ucapan sahabatnya gin meletakan gelasnya dimeja. Matanya lngsung mengembun, ingatanya menerawang kala mendengar kata pernikahan. Pernikahan yang dilandasi dengan keterpaksaan dan beraakhir dengan penderitaan. Pernikahnya adalah awal penderitaaanya.
Tes tes
Hati gina begitu sakit jika tringat saat-saat menyakitkan itu. Ucapan-ucapan menyakitkan dari mantan suami dan ibu mertuanya begitu terngiang dielinganya. Bayangan kebersamaannya dengan arul yang slalu diliputi arimata seakan bermunculan kembali dalam pandangan matanya.
Penghianatan arul, kebersamaan arul dengan sinta serta bayangan buruk lainya begitu melekat dalam memori ingatanya.
" Hiks hiks. "
" Gin, kenapa lo nangis hem? " tanya susi sembari mengusap airmata gina.
" Biarkan dia menangis dulu sus, jika dengan menangis beban dihatimu berkurang makan menangislah! " kini wanda mendekap gina, membawanya kedalam pelukanya. Mengusap bahunya perlahan.
" Wanda benar gin, menangislah sepuas hati kamu sekarang. Tapi berjanjilah stelah ini tidak ada airmata lagi, jikapun ada harus airmata kebahagiaan! " Bima trlihat bersimpatik, sedari dulu bima memang dekat dengan mereka bertiga.
" A-aku akuu su-sudah hiks, sudah berpisah dengan suamiku. Huhuuuu. " mendengar apa yang gin ucapkan sontak ketiga orang itu terkejut bahkan Bima sampai melongo mendengar status gina yang sudah menjadi janda diusia pernikahanya yang baru seumur jagung.
" Astaga gin, kamu gak lagi becanda kan gin? Ucap susi dengan menatap gina dengan tatapan ragu. Dia merasa sahabtnya itu tengah berbohong.
" Gin, ucapan doa loh gin. Ayo srius napa gin, masa ya lu becanda, nih kita dah meresapi dan menghayati bnget loh biar bisa ikut nangis. " kini gliran wanda yang mendapat pukulan dilengan dari bima.
" Och, sakit pak bim! Jangan kdrt napa pak! " keluh wanda sembari melotot kearah bima.
" Ya elu ngaco wan, orang lagi sedih malah diajakin becanda. " Ucap bima sembari melirik gina yang kini masih trisak.
" Udah-udah kalian malah ribut sii. Diem gak, kalau gak diem gue timpuk nih pake gelas kopi! " ucap susi sukses membuat wanda dan bima terdiam dan kembali duduk dengan tenang.
" Gin, yo crita lagi. Apa yang ngebuat lu pisah sama suami lu? " Susi bertanya dengan hati-hati dan nada suara yang lirih.
Kemudia mengalirlah cerita gina mengenai tuntutan arul dan ibu mertuanya hingga berakhir pnghianatan arul dengan sinta.
Mendengar kisah sahabatnya susi dan wanda sampai menitikan airmata tak terkcuali bima. Seorang laki-laki pun merasa begitu iba mendengar kisah gina.
" Jadi lu sekarang lagi hamil dan suami lu gak tau gin? Kenapa lu gak kasih tau aja mereka kalau lu lagi hamil, dengam begitu pasti arul bakal ninggalin siulet bulu itu! " ucap wanda yang merasa gemas dengan sikap gina yang justru menyembunyikan kehamilanya.
" Untuk apa wan, suamiku sudah menghianatiku dan wanita itu juga hamil anaknya. Kasian jika dia hamil dan tidak dinikahi anaknya akan lahir tanpa seorang ayah dan statusnya pun tidak jelas karna dia bukan istri dari mas arul. " ucap gina
" Lalu bagaiman dengan anak yang ada dalam perut lu ginaa? Dia juga bakal lahir tanpa ayah, jika lu trus terang stidaknya dia tau jika lu hamil anak dia! " ujar susi menyayangkan sikap gina.
" Untuk apa sus? Lebih baik anakku tak pernah mengenal siapa ayahnya dari pada dia harus menerima kenyataan bahwa dia lahir tanpa rasa cinta dari ayahnya untuk ibunya. Itu akan menyakitkan buat dia, dia akan merasa jika dihadirkan karena keterpaksaan, karna demi sebuah warisan! " penjelasn gina membuat tiga orang didepanya mengangguk paham
" Trus lu skarang tinggal dimana gin? " Tanya bima yang sedari tadi sudah sangat penasaran ingin menanyakan itu.
" Dirumah dokter anye, dokter keluarga wiratama! " mendengar itu sontak ketiga orang itu lebih terkejut dengan mulut menganga.
" Ko bisa? Gimana critanya lo bisa kenal dengan dokter kuarga wiratama? " Wanda nampak begitu penasaran dengan itu.
" Bisa, karna waktu gue pingsan dijalan gue ditolong oleh pak anjaz dan dibawa pulang kerumahnya! " ucap gina sembari menghabiskan lagi jus alpukatnya.
" Seriusly? " si kanebo kering yang nolongin lu? " tanya wanda yang hanya dijawab anggukan kepala oleh gina.
******
" Anitaa, coba telfon cucuku kenpa jam sgini dia belum pulang! " titah wina pada menantunya yang tengah menyiapkan hidangan makan malam dimeja.
Anita menghela nafas panjang karna dari dua jam lalu wina sudah berulang kali meminta anita menelfon putranya.
" Ibuu, sbentar lagi anjaz pasti pulang. Kalau nita telfonin trus anjaz pasti marah. " Kilah anita padahal dia sama sekali belum menelfon putranya. Dia tau putranya tidak akan nyaman saat sedang bekerja ditelfon dari rumah, apa lagi hanya untuk menanyakan kapan pulang.
" Coba aja lagi, kalau yangtinya yang nelfon diagakan marah! Kamu ini disuruh nelfon ko ya banyak banget alasanya. " ucap wina sembari menarik kursi dan duduk didepan menantunya.
" Iya bu sebentar, nita slesein ini dulu ya bu! " ucap anita dengan lembut, meskipun wina trlihat galak daj cerewet namun sbetulnya wina adalah ibu mertua yang sangat baik. Begitupun dengan wirya, dia yang tak memiliki seorang putri sudah menanggap anita seprti putrinya sendiri. Bahkan anita diperlakukan sperti putri kandung oleh mertuanya dan terkadang membuat wisnu merasa menjadi menantu bukan lagi putra kandung.
Keluarga wiratama bergelimang harta namun tidak ada kebahagiaan karna masing-maisng dari mereka kurang bgitu dekat satu sama lain. Mereka terlalu banyak aturan dan tuntutan, itu yang membuat keluarga itu kaku, tak heran jika anjaz tumbuh dan menjadi pribadi yang kaku karna terlahir dan dibesarkan oleh orang-orang yang kaku.
" Kamu ini nit, gak disini gak dirumah masakan kamu tetep ini aja. Gak bisa ganti yang lain lagi nit? " tanya wina sembari melihat satu persatu makanan yang sudah tersajdi diatas piring.
" Yaa giman lagi bu, nita pbisanya ini ya masak ini. " Ucap anita dengan santainya. Dia tak pernah mengambil hati sikap dan ucapan mertuanya.
" Selamat malam ma, selamat malam yangtii, papa sama yangkung dimana? " Tiba-tiba dari arah luar anjaz masuk, karena srius berkomentar wina dan anita sampai tak sadar jika yang ditunggu sudah pulang dan berada didepan mereka.