
Agrif memasuki pekarangan rumahnya, dia sedikit heran melihat ada mobil asing di pekarangan rumah nya. Satpam tidak akan memberikan izin jika agrif tidak memberinya perintah.
"Kak Lea?" Nama itu langsung terlintas di benak Agrif, dengan cepat cowok itu berjalan masuk kedalam rumah nya. Dia mematung saat melihat seseorang didalam rumah nya, menatap foto nya bersama sang papa diatas nakas, Agrif bisa melihat punggung Lea membelakangi dirinya.
"Kak Lea."
Lea lagsung membalikan tubuhnya, dia melihat sosok cowok yang tengah berdiri di depan pintu utama, masih mengenakan pakaian sekolah nya. Anak itu begitu menjulang tinggi, tubuh kekarnya mengingatkan Lea pada sosok Daniel.
"Agrif?" Lea langsung menghampiri anak itu, meneliti penampilan Agrif dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rambut anak itu berantakan, sudut bibirnya luka, bahkan masih ada bekas darah di sudut bibir nya, wajahnya nampak memar, sudah di pastikan anak di depannya sudah berantem. Meski begitu tidak dapat mengurangi kadar ketampanan milik Agrif.
Andai Daniel masih hidup, dia bisa melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang tampan seperti dirinya.
Bertahun-tahun tidak bertemu, wajah milik Lea tidak berubah di mata Agrif, dia masih seperti Lea saat dia kecil.
"Agrif kangen." Agrif langsung memeluk Lea, membuat Lea membalas pelukan anak yang pernah dia rawat, saat Daniel setia berada di rumah sakit. "Maafin Agrif, seharusnya saat Agrif ke Jakarta, Agrif nyari kak Lea dulu," kata cowok itu masih setia memeluk Lea.
"Nggak apa-apa, kakak lihat kamu udah tumbuh dewasa kayak gini, buat kak Lea nggak nyangka. Anak kecil yang pernah kak Lea gandeng tumbuh menjadi anak yang sangat tampan." Lea mengusap punggung Agrif penuh kasih sayang.
Pelukan ini masih sama, pelukan ini yang Agrif rasakan saat papa nya sakit Lea yang menemani dirinya. Hingga dia ke Banjarmasin meninggalkan Lea.
Agrif masih ingat betul, dia pernah menyuruh Lea untuk menjadi mama nya, dan memaksa sang papa untuk menikahi Lea, karna dia nyaman berada di samping Lea. Berada di samping Lea membuat Agrif merasakan kehadiran sosok ibu di sekitar nya.
"Kak Lea udah nikah?" tanya Agrif dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Lea melepaskan pelukanya, lalu membawa anak itu duduk di sofa. Sofa yang masih sama.
"Agrif berantem sama siapa?" tanya Lea, sembari mencari kotak p3k. Seteleh menemukan apa yang ia cari, dia menghampiri Agrif di sofa, lalu mulai membuka kotak p3k tersebut. "Kak Lea obatin luka kamu dulu ya. Kalau di biarin bakalan infeksi." Agrif hanya mengangguk, membiarkan Lea membersihkan luka nya akibat perkelahian nya dengan Farel di sekolah.
Lea mulai mengobati luka anak itu, dia penasaran sama siapa Agrif berantem, hingga dia pulang secepat ini. Setelah membersihkan luka Agrif, Lea membereskan kotak p3k tersebut lalu menyimpan nya kembali pada tempat nya.
"Kak Lea sudah lama menikah?" tanya Agrif penasaran.
"Iya, Rif. Kak Lea udah punya dua anak. Satu cewek dan satu cowok. Yang ganteng sama kayak Agrif," jawab Lea dengan tawa kecil nya. Entah mengapa jika bersama Agrif, di akan menjadi sosok dewasa, padahal itu bukan dirinya sama sekali.
"Andai papa nggak pergi. Mungkin sekarang kak Lea menjadi mama Agrif," kata Agrif dngan suara rendah, membuat Lea langsung mengusap rambut Agrif.
"Agrif mau cerita?" tanya Lea membuat Agrif tersenyum tipis. "Soal kenapa Agrif sampai luka kayak gini."
"Agrif berantem sama Farel."
Deg...
Lea tentunya terkejut saat Agrif mengatakan, jika dia berantem dengan Farel.
"Farel?" gumam Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.
"Kenapa?" tanya Agrif melihat raut wajah sedikit terkejut.
"Farel itu adik suami kak Lea," jelas Lea membuat Agrif terdiam.
"Jadi, kak Lea menikah sama dokter yang itu?" tanya Agrif memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Tentu saja Agrif masih ingat, saat-saat Lea mengejar cinta seorang dokter, yang telah berhasil menjadi suaminya.
Agrif diam membuat Lea mengusap rambut anak itu. "Gara-gara Dyta?" tanya Lea lembut.
Agrif melirik Lea, lalu cowok itu berkata, "kak Lea tahu, Dyta di rumah sakit mana?" tanya Agrif.
"Kak Lea tahu."
"Gimana kondisi Dyta sekarang?" Agrif berusaha tidak menampakkan kecemasan nya, namun begitu Lea tetap mengetahui nya. Agrif hanya gengsi untuk mengakui, jika dia khawatir.
"Waktu kak Lea kesini, Dyta udah sadar. Agrif mau jengukin Dyta?" tanya Lea. "Biar kakak yang antar," tawar Lea dan Agrif masih diam.
Agrif menghembuskan nafas berat, "semua karena Agrif, kak. Dyta masuk rumah sakit." Agrif hanya mengakui kesalahannya kepada Lea, jika pada orang lain dia tidak sudi mengakui kesalahannya itu.
"Apa Agrif tahu, tujuan kakak datang kesini?" tanya Lea.
"Karna kangen sama Agrif 'kan," tebak Agrif membuat Lea mengangguk membenarkan ucapan anak itu.
"Selain itu?" tanya Lea lagi membuat Agrif nampak berpikir sejenak.
"Biar kak Lea kasi tahu." Lea mengatur nafasnya lebih dulu, sebelum melanjutkan ucapannya. "Karna kakak kesini, mau bawa Agrif kabur."
"Kabur?" beo Agrif tidak tahu, maksud kabur dari Lea. "Kabur apa?"
"Kabur dari masa lalu, yang buat Agrif kayak gini."
Deg..
Jantung Agrif berdetak kencang. "Kak Lea sayang sama Agrif, sama seperti dulu. Kak Lea nggak mau, lihat orang yang kak Lea sayang tersesat," lanjut Lea masih dengan suara yang sangat lembut membuat hati siapapun yang mendengarkan nya akan hanyut dan tersentuh.
"Apa Agrif tersesat?" tanya anak itu, menatap manik mata Lea, meminta jawaban yang sungguh-sungguh dari perempuan di depannya.
"Agrif tersesat, tapi belum terlalu jauh. Agrif bisa kembali, sebelum tersesat nya makin jauh," kata Lea lagi.
Ucapan Lea sukses membuat hati di porak-poranda kan.
"Kalau mau, kak Lea bakal bantu Agrif keluar," kata Lea dengan serius kepada Agrif.
"Agrif nggak tahu, mau berhenti atau lanjut," balas cowok itu dengan suara pelan, "Agrif kehilangan papa di depan mata Agrif sendiri," lanjut nya dengan suara rendah menahan tangis. "Agrif udah yatim piatu, tidak punya siapa-siapa lagi."
"Jangan ngomong gitu, kak Lea ada di sini dan akan selalu buat Agrif. Asal Agrif nurutin permintaan kakak." Lea menggengam tangan Agrif, "kakak nggak mau lihat, kamu akan menyesali seluruh perbuatan kamu. Kalau kamu lanjut. Apa kamu nggak tahu, papa kamu akan sedih diatas sana karna Agrif yang mau balas dendam. Semuanya sudah terbayarkan meski tidak sempurna."
"Kak Lea bakal ada untuk kamu. Gantiin peran mama sama papa kamu yang hilang," jelas Lea lagi membuat mata Agrif berkaca-kaca, "Agrif nggak sendiri, ada kakak di sini."
"Kamu nggak mau 'kan, kalau Dyta benci kamu. Dan nggak akan maafin kamu sampai kapanpun, kalau Agrif nggak berhenti dari sekarang."
***
Farel masuk kedalam ruangan Dyta, dia melihat gadis itu tengah bersandar dengan Dyra yang setia menyuapi nya makanan, namun Dyta menolak.
"Makan dikit aja, Ta. Nanti mama datang dan gue bakal ngomong kalau lo nggak mau makan," ancam Dyra.
Dyta memutar bola matanya malas, "gue sakit mata, Ra. Nggak ada hubungannya dengan makan bubur biar cepat sembuh," tolak Dyta, dia masih tidak mau jika makan bubur, dia tidak suka makanan selembek bubur.
"Dikit aja," pintah Dyra lagi.
"Biar gue suapin. Kalau dia nggak mau makan. Biar gue cium."
Dyta dan Dyra melihat kearah belakang, entah sejak kapan Farel sudah ada di sini.
Dan tunggu dulu, Dyta dan Dyra dapat melihat sudut bibir Farel memar di tambah lagi wajah nya memar.
"Habis berantem sama siapa lo?" tanya Dyta pada cowok itu yang berjalan menghampiri diri nya.
"Minggir, Ra," perintah Farel pada gadis itu, agar dia yang duduk di samping bansal Dyta menggunakan kursi, agar dia bisa menyuapi gadis itu.
Dyra memanyunkan bibirnya, "iya deh." Dyra berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Pintar." Farel mengusap rambut panjang Dyra membuat gadis itu menjadi salting.
"Kak Farel suka banget deh, buat Dyra baper kayak gini," kesal gadis itu, setelah dia sadar jika dia tengah baper.
Farel hanya terkekeh, lalu duduk di kursi, mengambil bubur diatas nakas.
"Mau makan atau nggak, gue nggak akan maksa," kata Farel santai.
"Lo berantem sama Agrif?" tanya Dyta memastikan dan dibalas anggukan oleh Farel membuat Dyta menghembuskan nafas berat.
"Kenapa?" tanya Dyta.
"Tanpa gue kasi tahu, lo udah tahu jawabannya," jelas Farel dengan nada santai.
Dyra meninggalkan mereka berdua, gadis itu memilih baring diatas sofa sembari menonton tv. Dari pada menonton drama antara kembaran nya dengan cowok yang dia sukai.
"Ini bukan salah Agrif, Rel. Mereka yang bully gue, bukan Agrif. Karna mereka udah tahu gue anak siapa," jelas Dyta pada cowok itu.
"Mereka nggak akan tahu, kalau bukan Agrif yang kasi tahu," balas Farel, "lo masih ingat kejadian di lapangan 'kan. Dari situ mereka semua tahu. Hal yang seharusnya nggak mereka tahu," lanjut Farel.
"Lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Dyta, "suruh Dyra obatin luka lo dulu."
"Gue nggak apa-apa, Agrif juga nggak apa-apa," ucap Farel membuat Dyta tertawa kecil.
"Makasih infonya," celetuk Dyta dengan senyuman kecil membuat Farel hanya mengangguk kecil saja.
"Yakin lo nggak mau makan?" tanya Farel dan dibalas anggukan Dyta.
"Gue nggak suka makan bubur. Mendingan lo kupasin gue buah aja."
"Mau buah apa?" tanya Farel, sembari menyimpan bubur diatas nakas, karna Dyta menolak nya.
"Buah mangga."
"Ok." Farel mengambil buah mangga, lalu dia mulai mengupas mangga tersebut.
Pintu ruangan Dyta dibuka, yang datang adalah Nathan bersama Kayla dan juga Valen.
"Dyta udah makan, Rel?" tanya Kayla lalu duduk di sofa dekat Dyra.
"Mau makan buah dulu tan," jawab Farel.
"Modus aja terus," celetuk Nathan kepada adiknya itu, yang tidak di gubris oleh Farel. Baginya ini bukan modus, adalah wujud kasih sayang nya kepada sahabat nya.
"Assalamu'alaikum!" Ini adalah suara Raka.
Mendengar suara Raka membuat Dyra beranjak dari sofa yang ia duduki.
"Balik lagi, katanya mau ke sekolah," kata Dyra menghampiri cowok itu.
"Gue cuman balik ngambil motor, baru balik kesini lagi," balas Raka.
Nathan menatap Farel dan Raka bergantian. Ipar dan adiknya tengah mendekati anak kembar Elgara dan Kayla.
"Modus sampai sini," kata Nathan yang di tujukan pada Raka, pria itu duduk di sofa singel sembari membuka ponsel nya. Lea sudah pergi satu jam lama nya, dan belum ada tanda-tanda wanita itu menelfon nya.
"Lama-lama gue pecat jadi asisten dokter," gumam Nathan, karna pria itu tidak mendapatkan pesan dari Lea maupun telfon.
"Gue bakal bilang sama kak Lea. Kalau suaminya mau mecat dia jadi asisten dokter," Ejek Raka yang sudah duduk bersama Dyta dibawa beralaskan karpet bulu.
"Berani ngomong, duit jajan saya potong," ancam balik Nathan membuat mereka tertawa.
Dyta mulai menikmati potongan mangga yang di kupas Farel.
"Masih mau?" tawar Farel dan dibalas gelengan kepala oleh Dyta.
Farel beranjak dari kursinya, lalu cowok itu mencuci tangannya di wastafel.
"Loh, Rel. Kamu berantem sama siapa?" Nathan baru memperhatikan wajah Farel, ini yang kesekian kalinya wajah adiknya memar karna berkelahi.
"Berantem sama Agrif." Bukan Farel yang menjawab, melainkan Raka yang.
Mereka bisa melihat dengan jelas wajah lebam milik Farel.
"Udah di obatin, Rel?" tanya valen dan dibalas gelengan kepala oleh Farel.
"Sini tante Valen obatin," ujar Valen mengambil kotak kecil di laci yang berada di ruangan ini.
Dia menyuruh Farel mendekat, lalu dia mulai mengobati luka Farel. "Kalau di biarin bakal infeksi," kata Valen.
"Dokter idaman," ujar Raka dengan tawa kecil, membuat Dyra langsung mencubit paha cowok itu.
"Jangan genit sama tante Valen. Kalau nggak mau om Rifal ngamuk." Dyra menyipitkan matanya kearah Raka.
"Becanda, Ra. Gue kan udah punya lo. "
***
Agrif memejamkan matanya diatas tempat tidur, setelah kedatangan Lea tadi membuat Agrif harus berpikir keras malam ini. Antara lanjut atau tidak?
Melihat Dyta sudah masuk rumah sakit, apa semuanya belum cukup?
Huft...
Cowok itu menghembuskan nafas berat, rasanya kepalanya ingin pecah malam ini juga.
"Dyta," gumam Agrif masih memejamkan mata, "maafin gue."
Agrif bangun dari tempat tidurnya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam, lalu netra matanya menangkap amplop putih dari sekolah. Dia tersenyum kecut. Siapa yang akan mewakili isi surat itu, tidak mungkin Jonatan karna pria itu tengah sibuk.
Agrif mengambil ponselnya, mencoba menelfon Lea. Wanita itu memberikan nomor telfon nya pada Agrif sebelum dia kembali ke rumah sakit.
Nomor Lea tidak aktif, membuat Agrif langsung melemparkan ponselnya diatas kasur. Seharusnya dia tidak menelfon Lea jam begini, karna pasti nya Lea tengah istirahat setelah bekerja. Padahal Agrif ingin sekali menjenguk Dyta melalui Lea, agar yang lain tidak melihat dirinya terutama Farel.
"Besok pagi gue telfon balik kak Lea," gumam cowok itu, melangkah mendekati nakas merobek amplop putih itu.
Setelah merobek amplop putih tersebut, Agrif kembali merabakan tubuh nya.