
Saat Rin tengah menyisir rambutnya di depan cermin pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan memunculkan kakak perempuannya yaitu Ayana yang menatapnya dengan tatapan tajam, Rin hanya meliriknya lewat pantulam cermin tanpa berbalik melihat ke arah Ayana.
" Apa yang akan kau lakukan sekarang? Setelah kau memberikan donor darah untuk rivalmu apa kau pikir semua akan baik-baik saja.? " Ayana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rin kemudian berbalik memandang sang adik.
" Aku tidak bodoh kak, Lagi pula darah yang di donorkan waktu itu bukan darahku tetapi orang lain yang telah ku siapkan sebelumnya. "
" Benarkah ? Jadi kau tidak benar-benar memberikan darahmu pada Hana? "
" Tentu saja, Aku sengaja melakukan hal itu agar Jun semakin percaya padaku.., Untuk saat ini aku membiarkan mereka bersama dulu, Tunggu sampai waktu yang tepat aku akan kembali beraksi. "
" Wah aku tidak menyangka kalau adikku sangat licik. "
" Tentu saja, untuk apa selama ini aku menjadi artis top kalau berakting seperti itu saja tidak bisa, Soal Jun akan sangat mudah mendapatnya kembali mengingat Ayahnya juga lebih menyukaiku. " Lanjutnya telah selesai menyisir rambut
" Benar juga, Aku tidak menyangka Ayahnya sengaja menyembunyikan saham dengan alasan seperti itu dan tiba-tiba bekerja sama dengan kita, Orang kaya memang selalu menggunakan cara yang licik. " Ucap Ayana tertawa kecil sambil memikirkannya
" Tapi aku penasaran dengan Ayah Jun, Kenapa dia sampai begitu tega memisahkan putranya dengan Hana, Tapi apapun itu aku merasa legah sebab untuk mendapatkan Jun akan sangat mudah. " Seru Rin di balas decakan mantap dari Ayana.
\*
Untuk sementara Rey yang menggantikan Jun untuk mengurus kantor selagi adiknya itu menemani Hana di rumah sakit, Walaupun dirinya masih dalam keadaan sedih karena sang ibu yang berada di penjara tak membuat Rey terpuruk, tentu dengan dorongan dari Himeka juga ia bisa bangkit dan meneruskan perusahaan semampunya.
Saat itu komputer di ruang kerja Rey di rumah sedang error sehingga ia membutuhkan komputer pengganti, Pria itu segera menuju ruang kerja sang ayah yang berada di lantai satu. Ketika ia mengetuk mendengar suara dari dalam ia pun langsung masuk.
" Rey, ada apa nak? Apa ada sesuatu yang penting? " Tanya Arata yang kebetulan saat itu sedang sibuk membaca sebuah buku.
" Komputer di kamarku sedang error dan aku harus mengirim file dokumen pada sekretarisku di kantor, Boleh aku meminjam komputer ayah? "
" Tentu saja, Kau boleh meminjamnya selagi itu untuk urusan kantor. "
Setelah mendapat izin dari beliau, Rey pun segera menggunakan komputer tersebut untuk mengakses data perusahaan kemudian di kirim lewat email pada sekretaris Rey yang berada di kantor, Tak lama setelah itu ketika pengiriman hampir selesai Rey tiba-tiba melihat data akurat dari penjualan saham Dream Corp di mana Rey segera membukanya karena penasaran di sana menjelaskan bahwa keadaan saham saat ini baik-baik saja dan di pindahkan pada perusahaan kecil yang berada di Yokohama, Perusahaan itu masih sangat baru namun memiliki nama pemilik Misugi yang artinya ada manipulasi data selama ini.
Rey melirik Ayahnya yang masih sibuk membaca sehingga tidak menyadari kalau Rey mencoba untuk meretas data perusahaan, Dari yang Rey lihat semua memang baik-baik saja dan tidak ada kendala, tapi kenapa kemarin Ayahnya sampai menyalahkan Jun atas kejadian tersebut, Ada apa yang sebenarnya terjadi, dan apa hubungannya dengan keluarga Sakuragi, Rey benar-benar penasaran dan hendak menyelidiki masalah ini.
" Aku sudah selesai, Aku harus ke kantor sekarang. "
" Oh baiklah, Kalau komputermu masih error kau bisa memanggil ahli komputer ke rumah. "
" Baik Ayah, Aku permisi. " Rey segera meninggalkan ruangan sang ayah dengan data yang telah di ambilnya dari komputer itu, dengan begitu ia mempunyai bukti kuat jika sewaktu-waktu di butuhkan.
\*
Jun baru saja memberhentikan kursi roda Hana di dekat tempat duduk kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi tersebut, Hana yang merasa malu terus di perhatikan membuatnya menyuruh Jun untuk mengalihkan perhatiannya itu. Bukannya menurut Jun semakin memperhatikan Hana dengan menyebut gadis itu cantik dengan rambut pendek sebahu.
" Hey kakak.., Ini rumah sakit jangan berpacaran di tempat umum. " Sahut seroang anak kecil yang tiba-tiba menarik perhatian mereka
" Anak kecil tahu apa soal pacaran? " Sahut Jun menatapnya heran
" Sejak tadi kau memandang kakak cantik itu dengan tatapan cinta, Lalu itu apa kalau bukan pacaran? " Balasnya sontak membuat Hana salah tingkah dengan tingkah lucu anak laki-laki yang masih berusia 8 tahun itu.
" Hey adik, Apa kau juga pasien di rumah sakit ini? " Tanya Hana lembut.
" Hmm.. Aku bukan pasien lagi, Tapi rumah sakit ini sudah menjadi rumahku sejak dulu. " Jawabnya seketika terdengar menyedihkan
" Hiro chan, apa yang kau lakukan di sana cepat kembali ke kamarmu. " Teriak seorang suster sontak membuat anak laki-laki yang bernama Hiro itu melarikan diri
Jun dan Hana hanya dapat melihat kepergian anak laki-laki itu dengan seribu pertanyaan atas jawaban yang masih terasa ambigu, Suster yang meneriakinya barusan kini berada di depan Hana dan Jun dengan wajah kelelahan akibat mengejar Hiro.
" Maaf, kalau boleh aku tahu sebenarnya apa yang di idap Hiro sampai dia bersikap seperti itu? " Tanya Jun pada Suster tadi.
" Dia Hiroshi aoyama, Pasien penderita kanker hati sejak dia di lahirkan bisa di katakan dia sudah lama berada di sini, Menjelang operasinya yang ke 2 ini dia selalu bersikap seperti itu, Selalau melarikan diri hingga membuat kami para suster kewalahan. " Jelasnya terengah-engah
Hana dan Jun saling melihat satu sama lain dengan wajah sendu mendengar penyakit yang di derita Hiro adalah penyakit berbahaya, Namun melihat tingkah cerianya tadi membuat Hana salut dan ingin mengenal Hiro lebih banyak.
Suster barusan kembali mengejar Hiro yang saat ini sedang meledeknya dari kejauhan, Hana dan Jun hanya dapat menyaksikan mereka saling kejar-kejaran dengan perasaan khawatir akan kondisi Hiro.
Setelah berada di taman cukup lama, Kini Jun segera mengantar Hana kembali ke kamar agar Hana dapat beristirahat lagi, Namun saat berada di lantai satu rumah sakit keduanya kembali bertemu dengan Hiro yang duduk termenung di lobby, wajahnya sendu dan pucat sehingga membuat Hana meminta Jun untuk mendorongnya sampai ke sana.
" Hiro chan, apa yang kau lakukan di sini.? " Tanya Hana lirih
" Aku tidak mau di operasi, dokter itu selalu berbohong kalau aku di operasi maka sakitku akan menghilang, Tapi saat aku menjalani operasi pertamaku sakitnya semakin banyak, bukankah dokter itu sudah jahat padaku." Hiro mulai menitihkan air matanya sehingga membuat Hana ikut terbawa suasana.
Hana mencoba untuk menghibur Hiro dengan menunjukkan trik sulap andalannya, Setelah Hana mendapat koin dari Jun ia pun memulai aksinya, namun saat pertunjukan sulap pertamanya Hana membuat kesalahan sehingga membuat Hiro meremehkan Hana, tak sampai di situ Hana kembali memainkannya dan kali ini berhasil, sulapnya barusan membuat mata Hiro membulat terkesan dengan keberhasilan yang Hana buat, Ia bahkan meminta kepada Hana untuk mengajarkannya trik barusan.
" Kau lihat, tidak selamanya sesuatu yang di lakukan dua kali akan gagal seperti yang pertama, Yang terpenting kau memiliki keyakinan untuk tetap hidup dan kau pasti akan mendapatkan apa yang kau harapkan itu. " Ucapan Hana barusan berhasil membuat kepercayaan diri Hiro bangkit, Dengan penuh percaya diri Hiro melangkah menuju kamarnya dan hendak memberitahu orang tuanya untuk segera melakukan operasi.
" Aku bangga padamu, Kau bisa membangkitkan semangat anak itu untuk mau operasi. " Ucap Jun pelan
" Aku berharap hasilnya adalah yang terbaik, Bagaimana pun juga sulap tidak bisa di kaitkan dengan kesehatan, Semoga Hiro baik-baik saja. " Lontar Hana dengan mata yang berkaca-kaca