Stay With Me

Stay With Me
Awal yang baik


Farel tidak ke kerumah Nathan, melainkan kerumah Frezan, karna pria itu menyuruhnya kerumah nya, karna di sana ada Nathan menunggu diri nya.


Farel seperti menjadi orang penting saja, di tunggu oleh dua kakak tampan nya.


Tidak butuh waktu lama, motor milik Farel memasuki pekarangan rumah Frezan. Cowok itu menyeritkan alis nya saat melihat mobil milik Sahrul ada di sini, itu berarti mereka ada di rumah?


"Pulang nggak bilang-bilang," kesal Farel seraya membuka helm nya, "tumbenan Tegar pulang cepat, perasaan dia baru balik beberapa minggu ini." Farel tentu saja heran, namun dia tidak peduli, yang penting keponakan tampan nya ada di sini.


Cowok itu melangkah masuk, langsung di sambut oleh Rara.


"Assalamualaikum, mbak." Farel mencium punggung tangan Rara membuat wanita itu mengusap punggung Farel.


"Waalaikumsalam. Ayok ikut, mbak. Kak Frezan sama Nathan sama Lea, udah nunggu di ruangan kerja Kak Eza." Rara langsung menggandeng tangan Farel menuju ruangan Frezan.


"Oiya, mbak. Farel lihat diluar ada mobil Sahrul, sahabat Tegar. Apa mereka ada di sini?" tanya Farel memastikan dan dibalas anggukkan kepala oleh Rara.


"Mereka semalam sampai di sini, mungkin Tegar lupa ngabarin kamu," balas Rara dengan tawa kecilnya.


"Tegar emang nggak pernah ngabarin om tampan nya ini, kalau dia mau pulang," dramatis Farel membuat Rara hanya tertawa.


Mereka sudah sampai di depan ruangan Frezan, Rara langsung memasukkan password pintu ruangan Frezan, yang merupakan tanggal pernikahan mereka.


Farel dan Rara langsung masuk, dan di dalam sudah ada Lea, Frezan dan juga Nathan.


Farel langsung mencium punggung tangan Lea, Nathan dan juga Frezan, lalu ikutan nimbrung di sofa.


"Udah kumpul aja, saudara kesayangan Farel, " kata Farel sembari menyandarkan tubuh nya di sandaran sofa.


Nathan memutar bola matanya malas, "asal lo tahu, Za. Semalam Farel nggak tidur di rumah."


Ucapan Nathan sukses membuat Farel meneguk salivanya susah payah, dia melirik Frezan yang menatap nya dingin.


"Apa sih. Bang Nathan kok ngomong gitu," bisik Farel tepat di telinga Nathan, karna mereka duduk berdampingan, di samping Nathan ada Lea. Sementara di sofa depan di isi oleh Rara dan Frezan.


"Emang kamu nggak pulang semalam, 'kan?" Nathan sengaja menaikkan suaranya, membuat Farel mengumpat Nathan dalam hati nya. Dia yakin, Frezan akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Hmm... Tanpa Farel kasi tahu, kak Eza udah tahu, Farel kemana." Farel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, karna dia tahu Frezan punya banyak mata diluar sana, jadi bukan hal sulit lagi, jika Frezan tahu, semalam dirinya dimana dan sama siapa.


Lea dan Rara kompak tertawa, sementara Nathan hanya tersenyum tipis. Frezan mempertahankan wajah dingin nya.


"Asal jagain ponakan mbak ya, Rel. Jangan di apa-apain. Mbak Rara percaya sama kamu." Rara berkata sembari tersenyum hangat pada ipar nya itu, yang sudah ia anggap seperti anak nya sendiri.


Nah, 'kan, apa yang Farel katakan benar, jika Frezan sudah tahu. Tanpa perlu dia jelaskan lagi, kemana dirinya dan sama siapa.


Bukti nya saja, Rara berkata seperti tadi. Sudah pasti Rara mengetahuinya dari sang suami.


"Iya, mbak. Farel jagain Dyta. Nggak lampaui batas, cuman peluk doang kok, sama cium tipis-tipis," balas Farel dengan senyuman tipis membuat Lea melirik ipar nya itu.


"Kenapa, Lea?" tanya Rara membuat ketiga laki-laki itu menatap Lea dan Rara secara bergantian.


"Farel sama Raka udah resahin anak gadis orang kak. Raka udah pernah keciduk nyium kembaran Dyta, sih Dyra. Di rumah Lea kak. Raka cium Dyra di saksikan Steven sama Layla." Lea berkata atas apa yang di katakan Layla, anaknya tidak akan mungkin bohong soal ini.


Nathan tertawa keras, sementara Frezan menggelengkan kepalanya pelan, Rara hanya bisa tersenyum. Dia tidak tahu harus bicara apa, karna anaknya sendiri sudah di cium oleh seseorang, yang Rara tidak ingin tahu nama nya.


"Nggak apa-apa, Lea. Mereka 'kan pacaran. Jadi wajar aja, kalau Raka cium Dyra. Itu masih wajar dalam berpacaran," kata Rara tanpa beban membuat Natnan menahan tawa, takut-takut jika tawa nya pecah, Frezan akan menonjok dirinya.


Sementara Farel langsung memalingkan wajahnya, dia yakin jika wajah Frezan saat ini sudah masam, atas apa yang dikatakan Rara tadi.


Lea hanya cengo, selugu-lugu nya dirinya, dia masih tahu mana yang positif dan mana yang negatif.


Lea menggeleng kecil, sembari tertawa kecil, dia pikir otak nya lebih lalod, ternyata otak Rara jauh lebih lalod ternyata.


"Ra," panggil Frezan, sehingga Rara melirik nya.


"Kenapa?" tanya Rara, dia masih bisa melihat wajah Frezan yang dingin menghembuskan nafas berat.


"Jangan sampai kamu kasi izin untuk Zhar, cium anak kita. Karna itu nggak baik, kamu tahu sendiri, 'kan, pikiran orang beda-beda. Apa lagi Hasya sama seperti kamu," kata Frezan dengan suara pelan.


Ucapan Rara sukses membuat Frezan bungkam, mengapa pula ucapannya yang itu yang harus Rara ingat.


Jika seperti ini, sama saja membuat Frezan tersudut, 'kan. Dia menyuruh Lea, Nathan dan Farel menunggu dirinya di sini, dia langsung menarik tangan Rara lembut keluar dari sini. Jangan sampai, segala sesuatu yang Frezan ajarkan pada Rara, di ajarkan pula pada anak gadis mereka, sungguh Frezan tidak mau hal itu terjadi, melalui anak gadis nya.


Frezan sudah membawa Hasya keluar dari ruangan nya.


"Kenapa?" tanya Rara saat Frezan membawa nya ke kamar mereka, padahal mereka tengah kumpul di ruangan Frezan, karna ada yang ingin mereka bahas mengenai Agrif.


"Kamu tunggu aku di sini, ada yang ingin aku katakan." Frezan berkata lembut, sembari menyelipkan rambut Rara di belakang telinga istrinya itu.


"Katanya mau ng--"


Frezan langsung meletakkan jari telunjuk nya di bibir Rara. "Dengerin aku," kata Frezan sembari tersenyum tampan di depan Rara.


Rara akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Frezan, "yaudah, aku di sini nunggu kamu. Tapi kamu harus bilang sama aku, apa yang kalian bahas tentang Agrif."


"Iya, sayang. Tanpa kamu minta, pasti aku cerita sama kamu." Frezan mendekatkan dirinya dengan sang istri, membuat Rara memejamkan mata nya. Dia sudah tahu apa yang akan Frezan lakukan sebelum meninggalkan dirinya di sini.


Cup...


***


Seperti janjinya kepada Dyra, mereka berdua tengah bersiap-siap menuju rumah sakit, mereka akan menjenguk Aldi malam ini. Kabar mengenai Aldi sadar, di ketahui Dyra dari Zayn, jika Aldi sudah sadar, dan mengharapkan Dyra datang, itu adalah pesan Aldi kepada Zayn untuk di sampaikan kepada Dyra.


"Udah minta izin lo?" tanya Dyra, sembari menyemprotkan parfum di area tertentu, saat Dyta masuk kedalam kamar nya, gadis itu hanya mengenakan hodie hitam serta celana jeans di lututnya sedikit sobek.


Berbeda dengan styles Dyra malam ini, gadis itu tampil perfek dan sangat cantik sekali, bahkan Dyta memuji kecantikan Dyra.


Hanya ingin kerumah sakit, gadis itu tampil perfek, seperti ingin pergi jalan-jalan saja.


"Gue sengaja tampil elegant dan cantik malam ini. Ini adalah cara gue mutusin Aldi. Dia harus lihat kecantikan gue sebelum gue putusin dia. Agar dia tahu, kalau gue adalah mantan tercantik yang dia punya." Dyra tersenyum bangga di depan cermin.


"Ada-ada aja lo, Ra," gumam Dyta dan hanya dibalas kedipan mata oleh Dyra saja.


"Gue udah minta izin sama mama, dia kasi izin buat jenguk Aldi. Tapi kita harus hati-hati, karna kita nggak tahu isi hati orang," jelas Dyta dan dibalas anggukkan paham oleh kembarannya, dia paham atas apa yang Dyta katakan.


Mereka berdua langsung keluar kamar, berjalan menuruni anak tangga, untuk segera ke rumah sakit.


"Kita nggak ngajak Farel?" tanya Dyra sembari mengambil kunci mobil Kayla, mama nya sudah memberikannya izin untuk berkendara..


"Gue ajak nya Zayn." Dyta menjawab lalu masuk kedalam mobil membuat Dyra menggeleng pelan, lalu kemudian masuk. Dia yang akan menyetir mobil menuju rumah sakit.


Dyra langsung membawa mobil meninggalkan pekarangan rumah milik kedua orang tuanya.


"Lo sama adik nya Zhar akrab?" tanya Dyra sembari matanya fokus menatap jalan kedepan.


Dyta melirik Dyra, lalu berkata, "lumayan, semenjak dia nyelamatin gue," jelas Dyta.


"Awas aja kalau Farel sampai tahu, kalau kak Farel sampai tau, lalu sakit hati, gue bakalan datang Ngehibur kak Farel, biar dia suka sama gue, dan nggak mandang gue sebagai adik lagi." Dyra tertawa kecil membuat Dyta memutar bola matanya malas, padahal adiknya itu baru saja mengakatan jika dia mencintai Raka.


Kalian harus wajar Ya, karna bagaimanapun Dyra dan Hasya selalu di manjakan oleh Farel saat mereka kecil, dan di situlah Dyra menyukai Farel entah sebagai apa. Dia tidak rela jika Farel bersama gadis lain, tapi jika Farel bersama Dyta dia sangat bahagaia dan mendukung keduanya untuk jadian. Tapi namanya Dyta, dia tetap menganggap Farel sebagai sahabat nya.


"Kalau Farel nya mau," balas Dyta sembari tersenyum tipis, gadis itu kembali mengingat momen nya semalam dengan Farel.


Dia tidak bisa menahan diri, entah mengapa ucapan Farel semalam seperti sulap. Iya, sulap, karna cowok itu berhasil membuat jantung nya berdetak tidak karuan, mungkin karna semalam Farel mengatakan dari hati, tanpa adanya candaan sama sekali.


Sekitar tiga puluh menit mengendarai mobil, akhirnya mobil milik Dyra sudah sampai di rumah sakit, kedua gadis itu turun dari mobil membuat pasang mata di parkiran tertuju padanya, terutama penampilan Dyra yang paling mencolok, gadis itu tampil perfek padahal mereka hanya kerumah sakit.


"Zayn mana, Ta?" tanya Dyra sembari menutup pintu mobil, andai saja kacamata hitam nya tidak ketinggalan, dia akan mengenakan kacamata hitam menjenguk Aldi.


"Tuh," tunjuk Dyta menggunakan dagu nya melihat Zayn berjalan kearah mereka dengan sedikit gontai.


Dyra tersenyum kearah Zayn, lalu menyapa cowok ganteng itu, "cowok yang deketin kembaran gue, rata-rata ganteng," kata Dyra dengan bangga, di selingi dengan senyuman.


Zayn yang merasa ganteng jadi makin besar kepala, dia memang ganteng dan banyak yang mengakui hal itu, tapi Zayn jadi insecure jika di sandingkan dengan Farel, karna Zhar pernah mengatakan padanya, jika Farel juga tak kalah tampangnya, dan itu adalah musuh berat Zayn, cowok yang gadis itu sukai. Tapi setidaknya Zayn maju satu langkah, karna sekarang dia bisa akrab dengan Dyta karna kejadian waktu itu. Dan ini adalah awal yang paling baik untuk cowok itu.