
Suara dering bel baru saja membuat seorang wanita yang tengah menggambar desain baju langsung menundanya dan bergegas menemui tamu yang datang pagi itu, Ketika monitor Intercom di nyalahkan wanita itu mengernyit heran dengan kedatangan seorang pria yang tak asing di ingatannya. Ketika ia membuka kunci otomatis ia pun bergegas menyambutnya di pintu masuk.
" Ohayo Gozaimasu Arizawa San, Saya Misugi Jun. " Ucap Jun sedikit pelan
" Aku tahu, Ada apa kau datang ke rumahku? " Tanyanya penuh selidik.
" Ada sesuatu yang ingin ku katakan pada anda. " Lanjut Jun berubah serius
Sana segera menyuruh Jun untuk masuk dan membahasnya di dalam, Di rumah yang sebesar itu Sana hidup sendirian namun karena pekerjaan yang sibuk ia bisasa meninggalkan rumah itu dalam keadaan kosong dan sesekali di isi jika dirinya ada perlu di Jepang, Hidup sendiri adalah kebebasan yang sudah di lakukan Sana sejak dulu. Kembalinya Sana dari membuat teh untuk Jun langsung di balas dengan ucapan terima kasih dari pria itu.
" Jadi katakan ada apa menemuiku? " Sana kembali mengintrogasi Jun setelah ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa berhadapan dengan Jun.
" Apa anda mengenal foto bayi ini? " Jun menyerahkan sebuah foto Hana ketika masih bayi kepada Sana, Untungnya semalam Jun sempat meminta foto dari Hana agar dapat memudahkannya menggali informasi tentang Sana.
Sana yang mulai memperhatikan foto tersebut tampak tidak memberikan ekspresi apa-apa, Dia kemudian melirik Jun dengan heran sembari mengembalikan foto tersebut.
" Maaf saja tapi aku tidak mengenal bayi itu, Sebenarnya apa maksud dan tujuannmu datang menemuiku sampai memperlihatkan foto bayi itu. "
" Apa anda yakin tidak mengenalnya? Hokkaido tepat saat musim semi tiba dan anda menitipkan seorang bayi pada wanita setengah baya.? "
Sana tiba-tiba merasa ada sambaran petir yang mengguncang ingatannya, Sana dapat mengingat sesuatu yang sebelumnya ia lupa, samar-samar bayangan kejadian waktu itu terulang.
*25 Tahun Yang lalu
Wanita itu menangis sejadi-jadinya di depan makam suaminya yang masih baru, Di tangannya terlihat seorang bayi perempuan yang cantik ikut menangis akibat mendengar suara tangisan sang ibu. Beberapa keluarga di belakangnya berusaha menenangkan Sana namun tidak berhasil, Sana terus menangis histeris meminta kepada tuhan agar suaminya kembali ke dunia.
Tepat pada usia sebulan anaknya lahir, Suami Sana meninggal akibat kecelakaan hebat yang membuatnya langsung tewas di tempat, Mendengar kabar duka tersebut lantas membuat Sana hancur dan kehilangan separuh hidupnya. Di makam itu dia terus menangis, memohon serta berteriak tidak jelas layaknya orang yang kehilangan kendali.
Pihak keluarga terpaksa memanggil dokter untuk menangani Sana, Saat itu Sana di bawa paksa dengan suntikan bius dan di rawat di rumah sakit hingga kondisinya membaik sementara itu bayi perempuannya di rawat oleh Ibu kandung Sana.
Seminggu di rawat dengan bantuan medis serta pelatihan psikologi membuat Sana sedikit lebih tenang, Ia pun sudah dapat pulang kembali dan langsung menggendong bayinya begitu tiba di rumah.
" Ibu akan menamai mu dengan Hana Arizawa, Hana yang berarti bunga dan Arizawa nama terakhir Ayahmu, Semoga kamu menjadi anak yang baik dan penuh kasih ya sayang. " Sana memeluk Hana dengan penuh kasih sayang, tiba-tiba saja seorang pria yang baru saja lewat di di seberang jalan membuat Sana terkejut dan spontan memanggil pria itu dengan sebutan Kira Arizawa yang tak lain adalah mendiang suaminya.
Pria yang mirip dengan Kira berjalan sangat cepat sehingga membuat Sana kewalahan mengejarnya di tambah dengan harus menggendong Hana yang saat itu tiba-tiba menangis keras, Melihat seorang wanita yang tengah berdiri di pinggir jalan lantas membuat Sana menitipkan Hana sebentar, Ia berlari dengan cepat mengejar pria yang di lihatnya tanpa memperhatikan wajah wanita yang di titipnya tersebut.
Sana yang telah berlari mengejar pria yang di anggapnya suaminya baru saja kehilangan jejak sehingga membuat Sana kembali menitihkan air mata, Tepat di tepi jalan Sana merunduk sedih dan kembali melangkah tanpa memperhatikan lampu lalu lintas, Sana berjalan tepat di saat lampu berwarna hijau sehingga sebuah mobil tanpa sengaja menabrak Sana hingga membuat wanita itu terpental cukup jauh dan langsung tak sadarkan diri.
Akibat kecelakaan parah yang di alami Sana ia pun di bawa ke luar negeri oleh keluarganya untuk mendapatkan pengobatan terbaik, Sayangnya ketika Sana terbangun dari koma panjangnya ia harus menerima kenyataan bahwa putrinya Hana sudah meninggal tepat pada saat dirinya mengalami kecelakaan juga, Selama di luar negeri Sana mendapatkan pengobatan yang membuatnya dapat melupakan kenangan pahit hingga membuat Sana menjadi seorang wanita yang kuat saat ini.
\*
Hana melongo ketika Jun datang bersama Sana ke rumah sakit, Sana memandang Hana dengan mata yang sembab dan sekarang kembali berlinang air bening di pelupuk matanya, Jun hanya dapat terdiam dan menunggu sampai Sana siap bicara.
" Ada apa ini, Kenapa Arizawa San menangis, Jun ada apa ini sebenarnya? " Sahut Hana mencoba menenangkan Sana dengan meraih tangannya.
" Biarkan Arizawa San yang mengatakannya, Aku akan membiarkan kalian berdua bicara, Aku permisi keluar dulu. " Jun yang keluar dengan tiba-tiba membuat Hana semakin kebingungan
Sana mulai menatap Hana dengan tulus kemudian meminta izin untuk memeluk Hana, Gadis itu hanya dapat mengangguk setuju kemudian Sana dengan lembut memeluknya seraya mengucapkan kalimat maaf yang membuat Hana kebingungan.
" Kenapa kau minta maaf Arizawa San? Kau bahkan tidak pernah salah apa-apa padaku, Sebenarnya apa yang telah terjadi. " Hana melirik Sana sebentar sebelum wanita itu melepas pelukannya.
" Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik, Aku senang bisa melihatmu sekarang. " Lagi-lagi kalimat yang keluar dari mulut Sana terasa begitu ambigu di telinga Hana.
" Kau pasti bingung kenapa aku tiba-tiba bersikap seperti ini, " Hana mengangguk mantap kemudian di sambut senyum simpul dari Sana.
" Tunggu waktu yang tepat, belum saatnya untukmu mengetahuinya..., Aku harap saat waktu itu tiba kau tidak akan membenciku, Tetaplah menjadi anak yang kuat dan pemberani, Aku sangat mencintaimu. " Batin Sana sambil menyibakkan rambut Hana
" Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap seperti ini padaku? " Hana ikut membatin melihat Sana yang hanya terdiam tanpa kata.
Tak lama setelah itu Sana pamit kepada Hana yang masih menyisahkan perasaan janggal akan sikapnya, Di luar ia kembali bertemu dengan Jun kemudian mengucapkan terima kasih karena sudah mempertemukan dirinya dengan Hana, Sesuai perjanjian Sana masih belum boleh mengaku kepada Hana bahwa dia adalah ibunya sampai waktu yang tepat tiba, kapan waktu yang tepat itu ? Nanti setelah Sana menemui Naori dan menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi.