Stay With Me

Stay With Me
Ngambek atau marah?


Di dalam mobil hanya ada keheningan yang  menyelimuti, bahkan Hasya sedari tadi merasakan hawa yang tidak baik untuk nya, saat berdekatan dengan Zhar, dia tidak tahu apa salahnya hingga cowok itu enggan untuk mengajaknya mengobrol, bahkan wajah Zhar yang Hasya lihat, jauh lebih dingin lagi, membuat nya bergedik ngeri, dan itu membuat Zhar melihat pergerakan Hasya melalui ekor mata nya.


"Nggak mikir kalau lo salah?"


Nah, ini adalah suara Zhar, setelah 15 menit mereka berdiam diri di dalam mobil, suara Zhar yang berat mampu membuat Hasya meneguk saliva nya susah payah.


"Hasya salah apa sama kak Zhar? Apa karna tindakan aku yang semalam?" tanya gadis itu takut-takut.


Wajah Zhar yang tadi sedingin es balok, berangsur pudar, saat Hasya mengingat kecupan semalam pada nya. Memikirkan itu saja mampu membuat Zhar melunak seperti ini.


"Bukan itu," tolak Zhar berusaha menyembunyikan senyum tipis dibalik wajah nya itu.


"Yang mana?" tanya balik Hasya, berusaha menatap wajah Zhar, namun cowok itu malah menghindari nya membuat nya jadi kesal. "Hasya nggak tahu, yang buat kak Zhar ngambek sama aku apa," jelas gadis itu lagi membuat Zhar langsung melirik Hasya.


"Gue, ngambek?" tanya Zhar entah pada siapa dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya. "Kata siapa gue ngambek? Kata ngambek pantas nya buat cewek, bukan buat cowok," jelas Zhar membuat Hasya makin manyun dibuat cowok itu.


"Emangnya cuman cewek doang yang tahu ngambek? Cowok juga tahu kok ngambek," balas Hasya tak ingin kalah, "lagian, kak Zhar ngambek nggak jelas sama Hasya."


Zhar menatap Hasya sejenak, lalu kembali fokus menyetir, "gue nggak ngambek ya, Sya. Terus, gue juga marah nya jelas, bukan nggak jelas," tutur Zhar lagi.


"Kak Zhar nggak ngambek, tapi marah, gitu?" tanya nya dengan polos yang tidak di gubris oleh Zhar lagi.


"Kak Zhar marah sama Hasya karna apa?" Bersamaan dengan pertanyaan itu, mobil milik Zhar sudah sampai di butik langganan keluarganya.


"Nanti lanjut nya, lo turun dulu," perintah Zhar kepada Hasya yang masih setia menatap nya lamat-lamat.


Hasya menatap ke depan, dimana butik di depan nya sangat mewah, tapi nampak sepi, seperti tidak ada pengunjung yang datang.


"Bukannya nggak ada pengunjung, tapi mama udah bilang sama pemilik butik nya, Kalau cuman kita yang hari ini boleh datang." Zhar yang sudah tahu isi pikiran Zhar angkat bicara, sembari keluar dari mobil, di ikuti oleh Hasya.


"Kka Zhar!" panggil gadis itu, saat Zhar mulai ingin mendorong pintu kaca di depan nya, "tungguin Hasya. Hasya nggak mau masuk sendirian!" teriak gadis itu sembari berlari kecil agar segera berdampingan dengan Zhar.


Setelah Hasya berada di samping nya, Zhar mulai mendorong pintu kaca di depannya, di ekori oleh gadis cantik di belakangnya.


Kedatangan Hasya dan Zhar langsung di sambut baik oleh pemilik butik.


"Dari tadi kedatangannya di tunggu," ujar pemilik butik tersebut, sembari mengeluarkan alat yang akan mengukur tubuh Hasya.


Hasya tersenyum ramah kearah wanita itu, "maaf tan, di jalan macet, heheh," balas gadis itu membuat nya makin cantik jika dia tertawa seperti ini.


Bahkan pemilik butik itu damai melihat wajah Hasya, yang cantiknya sangat alami.


"Kita langsung mulai ya," kata wanita itu dan dibalas anggukan kepala oleh Hasya.


Pemilik butik yang akan terjun langsung mengukur tubuh gadis itu. Dia tidak ingin ada kesalahan sedikitpun yang dibuat karyawannya, sehingga dia yang mengambil alih semua nya.


Pegawai butik membawa Zhar untuk melihat setelan baju dan celana yang akan dia kenakan di saat hari pernikahannya tiba.


"Suka nya warna apa?" tanya wanita tersebut sembari mengukur lengan gadis cantik itu.


"Sukanya warna biru sama pink," jawab gadis itu dengan semangat empat lima.


"Nanti tante selipin mutiara berwarna kesukaan kamu, di kebaya ini."


"Terimakasih."


"Iya sama-sama anak cantik."