Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 66


"Bisa diem nggak sih, diem diem!" bentak Vivi pada bocah kecil itu yang terus menangis.


Perempuan itu dibuat stress sendiri dengan gadis kecil yang diduga anak mantan suaminya. Seharusnya anak itu menjadi putrinya dan mereka hidup bahagia tanpa Ajeng. Namun, sekenario telah berubah dan semua kacau gegara kemunculan Hanan yang begitu tiba-tiba waktu itu.


"Gue benci banget sama ibu dan om lo yang songong itu, nangis aja terus, gue bakalan balas," jawab Vivi seenak kata.


Rasa kesal dan benci sudah mendarah daging gegara ditolak Abi. Hidupnya kacau luar biasa setelah pria itu memutuskan perceraian. Berharap pria itu mendapatkan kehancuran yang sama, beruntung masih selamat dengan kecelakaan maut itu.


Vivi hendak memukul gadis kecil yang sedari tadi rewel itu. Namun, urung, hati kecilnya terusik. Ia mungkin tak segan melukai bahkan berbuat kejam secara halus pada manusia dewasa. Namun, mendadak ia mempunyai rasa tidak tega melukaimu gadis kecil itu yang terlampau lucu.


"Diam, minum susunya! Mau pulang ke rumah papa, 'kan?" sentak Vivi gemas dan stress sendiri lantaran gadis kecil itu tak kunjung berhenti menangis.


Sementara perempuan yang mengasuh Ruby, sudah Vivi eksekusi lebih dulu. Dengan mengamankan untuk pulang ke kampung halaman, atau maut akan menghampirinya jika membuka tabir penculikan ini.


Sayangnya keputusan itu malah membuatnya pusing kepala lantaran Vivi tak bisa mengurus bayi. Setidaknya sampai besok pagi sebelum perempuan itu menyusun strategi lain untuk memeras Abi.


Sementara Abi dan Ajeng sendiri masih mencari putri mereka tanpa kepastian. Suara tangisan Ruby yang terkirim lewat nomor gelap ke ponselnya jelas membuat pria itu dan juga Ajeng shock. Putrinya dalam bahaya, dan tidak lain dan tidak bukan. Vivi menghubunginya meminta imbalan uang yang besar.


Tindakan Vivi kali ini sungguh tak termaafkan. Abi yang sempat merasa kasihan jika Vivi benar-benar sakit, sekarang bahkan bilang respekc karena ulahnya yang begitu kejam.


"Jangan sakiti anak saya! Jahat kamu, Vi!" sentak Ajeng di balik telepon. Suara Ruby yang tengah menangis semakin membuat perempuan itu nelangsa.


Abi pun bertindak cepat. Ia lebih baik kehilangan uang dari pada sampai Ruby kenapa-napa. Sayang sekali Vivi meminta penebusan yang terlalu besar, sedang transaksi malam hari jelas tidak mungkin Abi mengambil uang, tentu saja bank tidak beroperasi.


"Saya mau uangnya besok kamu siapkan! Jangan coba-coba menghubungi polisi atau kamu akan mendengar kabar Ruby tidak baik-baik saja!" ancam Vivi lantang.


Semua keluarga jelas panik, Ajeng yang sudah ketakutan terjadi hal buruk pada Ruby. Mengingat perempuan itu terlalu kejam bila diingat sepak terjangnya dulu.


Malam terasa semakin panjang, tidak ada yang tidur di kediaman Abimanyu. Semua nampak gelisah menanti siang. Tentu saja kabar Ruby yang paling dinantikan.


Sementara Vivi tertidur sendiri, membiarkan Ruby berkeliaran sendiri setelah memberikan susu. Tidak peduli, setelah Ruby terdiam, Vivi pun melempar tubuhnya ke kasur untuk tidur. Sedang Ruby kecil yang sudah kenyang, dan belum begitu paham akan bahaya bermain sendiri tanpa pengawasan. Gadis kecil itu melakukan banyak hal dengan kesibukannya versi bayi, yang entah apa pun dijadikan mainan.


Pagi datang begitu cepat untuk Vivi. Perempuan itu sudah menyusun strategi dan mengatur jadwal pertemuannya di suatu titik, yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


Sementara Abi, diam-diam jelas lapor polisi. Kali ini tak termaafkan, dia sudah menyiapkan sejumlah uang cash sesuai permintaan sangat mantan sebagai alat penebusan. Ajeng dan Bu Warsa pun ikut serta dalam satu mobil.


Mereka tengah menuju keberangkatan untuk menjemput putri kecilnya dengan harapan besar. Air mata Ajeng bahkan hingga mengering pagi ini, ia menolak makan hanya untuk sekedar mengisi tenaga pagi ini. Abi jelas yang dirundung khawatir, pria itu bisa merasakan bagaimana takutnya diri ini dan keluarga sekarang bila Ruby tak kunjung dalam pelukan.


"Apa kabar, Mas, lempar uangnya, saya akan pergi dan silahkan ambil Ruby di dalam!" ucap Vivi menghadap Abi di depan rumah usang yang tidak cukup layak untuk dihuni.


Abi melempar uang dalam tas yang berjumlah cukup banyak itu. Vivi kabur lewat samping setelah meraih tasnya. Sementara pria itu dan Ajeng langsung masuk mencari keberadaan Ruby.


.


Tbc


.


Teman-teman sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!