Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 59


"Ma, besok aku rencananya mau nempatin rumah kami, Mama nggak pa-pa kan kalau aku mulai mandiri lagi," ucap Abi usai makan bersama. Setelah beberapa hari tinggal di rumah ibunya, nampaknya pria itu sudah mantap mengisi rumah kosong miliknya.


"Yah ... mama kesepian lagi dong, emang nggak bisa ya tinggal di sini aja." Bu Warsa yang sudah terlanjur sayang apalagi dengan cucunya merasa keberatan.


"Ajeng tinggal sini aja ya, mama seneng banget dengan kehadiran kalian yang menghidupkan suasana rumah," ujar Bu Warsa nampaknya tak ingin ditinggal.


"Ajeng mau Ma, terserah Mas Abi aja," ucap perempuan itu sama sekali tidak keberatan harus tinggal bersama mertuanya.


"Mama kan bisa main setiap hari ke rumah, kita juga pindahnya nggak jauh kok."


"Mas, kita bahas nanti lagi ya," ujar Ajeng menenangkan.


Ajeng tidak ingin debat terlalu panjang. Toh mertuanya tinggal sendirian. Bukan hanya itu, Bu Warsa yang baik dan perhatian itu seperti menggantikan sosoknya sebagai seorang ibu yang kadang Ajeng rindukan. Rasa rindu itu merasa terobati ketika dekat dengan beliau.


Abi yang sebelumnya merasa khawatir, atau takut merasa istrinya kurang nyaman. Namun, tak disangka malah Ajeng merasa betah.


Abi pun akhirnya setuju, sesungguhnya ia begitu bahagia melihat istri dan ibunya terlihat dekat satu sama lain. Hal yang tak pernah Abi temui di pernikahannya dulu. Bahkan, mantan istrinya selalu tidak senang bila ibunya berkunjung. Beruntung Ajeng sangat menyayangi ibunya dan terlihat tulus. Tentu saja hal itu semakin menumbuhkan rasa bangga dan cinta memiliki perempuan seperti Ajeng sebagai pendamping hidupnya.


"Kamu beneran nggak pa-pa tinggal di sini? Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, katakan sayang!" seru Abi setelah mereka hanya berdua.


"Nggak pa-pa Mas, emangnya kenapa?"


"Nggak ada Sayang, aku seneng aja punya kamu yang nggak neko-neko dan penurut," jawab Abi tersenyum lembut.


"Nggak juga, aku juga bisa galak kalau memang itu perlu," sahut Ajeng benar adanya.


"Masa sih, pengen lihat galaknya Ayu Rahajeng kalau di ranjang dong, request boleh?"


"Apa sih Mas, jangan resek deh!" kesal Ajeng menimpuk gemas.


"Sepertinya nanti malam kita perlu mencoba gaya baru, udah nggak sakit kan? Ku bilang juga apa, makin sering makin candu," ucap pria itu seduktif.


"Mas, bisa diem nggak sih!" ucap Ajeng dengan pipi memanas.


"Iya aku diem-aku diem!"


Perdebatan kecil yang tanpa sadar saling menumbuhkan suasana romantis di antara keduanya. Nampaknya baik Ajeng dan Abi tengah menikmati indahnya pacaran setelah halal. Keduanya akan merasa rindu satu sama lain padahal hanya terpisah jarak antara kantor dan rumah.


Abi akan menelponnya setiap siang hari hanya untuk mengabari, atau memberikan perhatian kecil untuk istri dan anaknya. Seperti siang ini, Abi sudah menelponnya dua kali hanya untuk memastikan istrinya sudah makan, dan Ruby tidur siang.


"Iya Mas, ini sebentar lagi mau tidur. Selamat bekerja, cepat pulang."


Setelah mengakhiri panggilan, Ajeng menggendong putri kecilnya ke kamar. Ayahnya yang super perhatian dan disiplin itu bahkan sudah mewanti-wanti dengan perhatian.


"Ruby sayang, udah mainnya ya, bobok siang dulu," ujar Ajeng menyeru putri kecilnya. Perempuan itu menuju kamar putrinya.


Sementara Abi merampungkan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal.


Tanpa sadar hari sudah sore, perempuan itu terjaga bahkan di saat Ruby sudah tidak ada di sampingnya. Lantaran kaget, langsung terbangun begitu saja, Ajeng menjadi sedikit pusing kepala.


"Ruby!" seru Ajeng mencari keluar.


"Ada apa, Sayang? Kok teriak-teriak!" Abi menghampiri istrinya yang terlihat cemas.


"Loh, Mas sudah pulang? Kok aku nggak denger. Ruby mana Mas? Aku malah ketiduran," sesal perempuan itu dengan muka bantalnya.


"Owh ... lagi mandi sama bibik, tadi habis main. Nggak usah khawatir, kalau masih ngantuk tidur lagi aja."


"Hah, main, mandi? Kok aku bisa nggak tahu gini, emang aku tidurnya pules banget ya?" tanya Ajeng malu sendiri.


"Lumayan, capek banget ya?" tanya Abi tersenyum.


"Iya Mas, tubuhku rasanya lelah," jawab Ajeng masih sedikit lemas. Ditambah baru bangun tidur rasanya sayup-sayup malas.


"Sore ini nggak usah masak ya, kita makan di luar!" ujar Abi pengertian.


"Beneran?"


"Iya, maaf ya kalau belakangan ini kurang perhatian, kalau ada waktu pasti aku sempetin," ucap pria itu sungguh-sungguh.


"Mama sama Ruby ikut kan Mas?" tanya Ajeng memastikan.


"Pengennya gitu, tapi kayaknya mama ada pertemuan gitu, nggak tahu, coba kita lihat nanti."


"Kalian berdua saja, biar Ruby sama mama, nanti dibantu bibik. Nikmatilah waktumu berdua yang sempat tertunda, jangan lupa juga bikin cucu yang banyak untuk mama."


"Siap Ma, dengan senang hati," jawab Abi tersenyum senang. Sementara Ajeng, jelas canggung sendiri.


.


TBC


.


Sambil nunggu novel ini up, teman-teman mampir di karya temenku yuk!