
Malam ini Abi untuk pertama kalinya dinner bersama Ajeng di sebuah restoran romantis. Abi sengaja mengajaknya keluar mumpung ada kesempatan. Ia harus banyak-banyak berterima kasih dengan ibunya yang begitu perhatian.
"Mas, kita beneran ke sini?" tanya Ajeng merasa terlalu spesial.
"Iya, kenapa sayang? Kamu nggak suka tempatnya?" sahut Abi menatap tanda tanya.
"Bukannya mahal ya, kenapa nggak makan di tempat biasa aja," protes Ajeng kurang setuju.
"Pengen manjain kamu, nggak pa-pa kan? Jangan khawatir, finansialku cukup aman untuk hidup dengan tujuh turunan. Hehe."
Ajeng menatap datar mendengar jawaban Abi.
"Eh, kok natapnya gitu, nggak bermaksud sombong Sayang, cuma memastikan biar kamu nyaman, makan dengan tenang."
Abi memang banyak berubah, terlihat jelas cara pria itu memperlakukan wanitanya. Hingga kadang membuat Ajeng merasa tersanjung, dan pastinya sebagai seorang perempuan merasa senang diperlakukan spesial.
Keduanya dinner romantis layaknya pasangan baru. Pacaran setelah halal itu sesuatu banget. Lebih kek ada manis-manisnya. Bebas apa aja tanpa beban dosa.
Keduanya keluar dari restoran cukup malam. Sengaja menikmati waktu berdua. Bahkan Abi meminta menginap di hotel, sayang perempuan itu tidak setuju kalau tidak pulang.
"Malam ini aja, nggak pa-pa, mama pasti jagain Ruby, mau ya sayang."
"Di rumah sama aja, bebas juga, kamu mah mau-maunya aja!"
"Terus gimana?"
"Pulang," jawab Ajeng tetap ingin pulang ke rumah.
"Itu handphone kamu bunyi, siapa?" Ajeng merasa terusik dengan dering ponsel suaminya.
"Nggak tahu, dari tadi siang nomor siapa?" sabut Abi cuek. Merasa tidak penting mengingat tidak ada didaftar kontak.
"Angkat dong siapa tahu penting."
"Males, kalau bener penting kan bisa konfirmasi lewat chat. Biarin aja," ujar Abi malah fokus dengan keinginannya.
"Jadi gimana?"
"Terserah," jawab Ajeng pada akhirnya.
"Kalau terserah biasanya boleh. Asyik ... booking ya berarti untuk malam ini."
Ajeng menatap tak percaya, suaminya malah tersenyum simpul.
"Ayo, tunggu apa lagi!" ajak Abi tak sabaran. Menuntun istrinya yang berjalan santai.
"Jangan di sini, sabar dong Mas, tempat umum," tegur Ajeng memberi jarak.
"Maaf, terlalu bersemangat." Abi nyengir sendiri dengan tingkah polahnya bak abg yang tengah kasmaran. Indahnya jatuh cinta dengan istri sendiri. Begitu mendamaikan, seakan semua hari yang menemuinya penuh warna keindahan. Setelah hampir dua tahun mengenyam nestapa hati, akhirnya Abi benar-benar menemukan cinta sejati miliknya yang sempat hilang.
Keduanya benar-benar menghabiskan malam indah di hotel. Bahkan Abi sengaja menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin diganggu waktunya. Pria itu ingin bermanja-manja dengan istri tercinta hingga perempuan itu menyerah dengan kata manis.
"Makasih sayang, kenapa kamu senikmat ini? Jangan bosan buat senengin aku," ucap Abi setelah melewati petualangan panjang yang cukup melelahkan.
Ajeng terdiam saat lagi-lagi suaminya menghujani dengan kecupan manis. Tubuhnya terasa begitu lelah, dan mengantuk. Ia bahkan hanya bergumam kecil dengan mata terpejam saat Abi menggumamkan kata-kata pujian penuh cinta.
Entah di jam berapa Ajeng terjaga. Ia terkaget saat menemukan kamar yang berbeda. Perasaannya langsung lebih baik begitu mendapati Abi di sampingnya.
"Mas, bangun, pulang yuk!" seru Ajeng mengguncang bahu suaminya yang tengah terlelap damai.
"Jam berapa ini?" tanya Abi merasa baru saja terlelap.
"Setengah satu Mas, maaf terpaksa membangunkan dirimu, aku ingin pulang. Kasihan mama jagain Ruby terus," ucap perempuan itu merasa sungkan.
"Kenapa? Kan mama yang nyuruh kita berdua, yang tenang ya, nggak pa-pa kok."
"Aku pengen pulang," rengek Ajeng yang membuat Abi tak bisa menolak.
Akhirnya mereka chek out sebelum pagi. Ajeng langsung menyambangi kamar Ruby begitu sampai di rumah. Namun, ternyata sangat nenek ikut tidur di sana. Perempuan itu membuai putrinya sejenak, lalu menciumnya. Setelahnya kembali ke kamar langsung tertidur. Abi yang melihat itu ikut mengisi ranjang sebelahnya.
Keesokan paginya, Ajeng terjaga lebih dulu. Perempuan itu menyiapkan keperluan suaminya ke kantor seperti biasanya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya?" pamit Abi pada istrinya.
"Iya Mas, hati-hati di jalan. Nanti siang mau aku bawain apa?"" ujar Ajeng perhatian.
"Apa aja, masakan kamu pasti yang paling enak. Pergi dulu."
Abi meninggalkan jejak sayang di kening istrinya setelah perempuan itu menyambut uluran tangan suaminya. Pria itu berangkat dengan senyum dan semangat.
Bekerja pun rasanya tenang dan ingin cepat pulang. Tentu saja karena sudah merasa rindu dengan yang di rumah.
Sementara di luar ruangan, terdengar suara gaduh seseorang yang menerjang masuk ke ruang CEO.
"Maaf, Pak, saya sudah melarangnya, namun Ibu ini ngeyel masuk katanya penting, ingin bertemu dengan Bapak!"
Abi yang tengah fokus meneliti dokumen menghentikan aktifitasnya sejenak. Menatap wanita di depannya yang pernah mengisi hidupnya beberapa tahun silam yang lalu.