Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 54


Deg degan, itulah yang dirasakan Ajeng. Melihat wajah Abi yang sedikit tegang membuatnya sedikit nervous dan terharu tentunya ketika pria itu dengan lancar mengucap ijab qobul dalam satu tarikan napas.


Seketika urat wajah yang sedikit kaku itu menerbitkan senyum berbarengan ucapan syukur alhamdulillah. Ini memang bukan yang pertama untuk Abi, tetapi rasanya sungguh berbeda dan lega serta bahagia luar biasa.


Keduanya menandatangani dokumen pernikahan secara bergantian. Lalu menyematkan cincin di masing-masing jari manis pasangannya.


"Selamat Kak, akhirnya hari ini pun tiba, semoga kebahagiaan selalu menyertai kakak dan keluarga kecilnya," ucap Hanan yang beberapa menit lalu baru saja menjadi walinya.


"Terima kasih, Hanan, aamiin ... doa terbaik kembali untukmu," jawab Ajeng memeluk adik semata wayangnya. Tak terasa netra keduanya berkaca-kaca.


Abi mengusap-usap punggung istrinya yang tersedu. Ikut terenyuh menyaksikan kedua kakak beradik yang saling menyayangi satu sama lain.


"Kini Kak Ajeng telah menjadi tanggung jawab Mas Abi sepenuhnya, titip Mas, tolong jaga dan cintai sepenuh hati. Jika suatu hari ada rasa yang tidak berkenan padamu, jangan katakan apa pun padanya. Kembalikan padaku, aku akan dengan senang hati menerima dengan kedua tanganku," pesan Hanan bijak dan sangat dewasa.


"Insya Allah, akan kujaga cinta ini, keluarga kecil kami, semoga selalu bersama sampai nanti," jawab Abi mengangguk yakin.


Satu persatu orang yang hadir menjadi saksi terikatnya kedua sejoli itu memberi selamat. Acara dilangsungkan di rumah Ajeng cukup sederhana. Namun, tertata dengan elegan. Tetangga, teman dekat dan masyarakat sekitar ikut hadir memberikan doa termasuk Pak Harsa yang datang seorang diri.


"Selamat Ajeng, aku masih belum percaya sampai akhirnya benar-benar menyaksikan ini. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warohmah," ucapnya memberi doa.


"Terima kasih sudah hadir, terima kasih doanya," jawab Ajeng balas tersenyum.


Menjelang sore hari, tamu-tamu pamit untuk pulang. Sementara Bu Warsa kembali ke hotel beserta rombongan dari keluarga Abi. Tersisa pria itu yang rencananya akan memboyong Ajeng ke Jakarta esok hari setelah urusan di Bandung selesai.


Perempuan itu tengah membersihkan make up ketika Abi masuk ke kamarnya. Ada suasana yang berbeda, entahlah tetapi yang jelas kecanggungan begitu terasa di antara keduanya.


Ruby sendiri tengah tertidur setelah seharian ikut sibuk sendiri dengan keriwehan versi bocah itu.


"Perlu bantuan?" tawar Abi mendekat, duduk persis di depan Ajeng. Lebih tepatnya di pinggir meja rias.


"Nggak, kamu jangan di sini," tegur Ajeng merubah posisi duduknya. Terasa aneh saat hanya berdua saja. Yang jelas Ajeng merasa canggung, mungkin karena masih belum terbiasa.


"Padahal pengen bantu, nggak boleh ya?" ujar Abi salah tingkah.


"Keluar bentar Mas, aku mau ganti," usir Ajeng yang membuat Abi melongo.


"Jangan kaget gitu, cepetan keluar aku pengen ganti udah nggak nyaman," tegur Ajeng mendadak tak sabaran.


"Tapi kan kita udah—"


"Aku masih malu," jawab Ajeng cepat. Menarik tangan Abi agar pria itu keluar dari kamar.


Abi menurut dengan wajah pasrah dan juga bingung. Cukup lama menanti Ajeng selesai menukar pakaiannya. Perempuan itu keluar dengan menggendong Ruby yang sudah terbangun.


"Eh, udah bangun, sini sayang sama papa," ujar Abi melentangkan kedua tangannya.


Pria itu memangku putrinya, sementara Ajeng ke bilik belakang menyiapkan makan malam. Suasa sudah sepi, hanya ada keluarga inti. Tidak begitu banyak kerepotan di rumah karena semuanya menggunakan jasa catering untuk jamuan tadi siang.


"Mas, Hanan, makan dulu!" interupsi perempuan itu setelah menyiapkan piring. Masih banyak makanan di meja makan.


Abi yang merasa lapar pun mengiyakan. Memang benar, ia belum mengisi perutnya sedari siang.


"Mau sama apa, Mas?" tawar Ajeng menyiapkan untuk suaminya.


"Ngambilin buat aku?" tanya Abi merasa heran sekaligus terharu.


"Iya, atau mau ambil sendiri?"


"Eh, enggak, aku tersanjung, makasih udah diambilin, sini!" ujar Abi merasa senang.


Keduanya makan dalam diam. Apalagi Abi terus menatapnya, membuat Ajeng sedikit kesusahan nyampai ke kerongkongan.


"Mas, makan, jangan lihatin aku terus," tegur Ajeng melirik sengit.


"Kamu lucu, Sayang, masa sama suami sendiri malu. Ajaib tapi nyata."


Ajeng tidak menyahut, menghabiskan isi piringnya dengan cepat. Sementara Abi fokus mengunyah, setelah selesai berniat membantu ikut membereskannya.


"Nggak usah, kamu temani Ruby saja sana," tolak Ajeng mengusirnya.


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya?" pamit Abi lalu berjalan keluar. Menggendong Ruby mengajaknya main di kamar.


Sementara Ajeng menyelesaikan sedikit cucian lalu menyusul ke kamar.


Terlihat Abi dan putrinya tengah mengobrol dengan anak itu lebih mendominasi.


"Udah? Sini sayang gabung," ucap Abi melambaikan tangannya agar istrinya mendekat.


Ajeng melangkah mendekati ranjang. Memposisikan dirinya di samping Ruby yang jelas agak jauh dengan Abi.


"Ruby, tidur sayang, sudah malam, mama tidur dulu ya," ujar Ajeng yang merasakan lelah dan mengantuk.


"Kamu istirahat saja, biar Ruby aku yang temani. Pasti capek, 'kan?"


"Iya Mas, terima kasih, aku tidur duluan ya."


Tak menunggu waktu lama Ajeng benar-benar tertidur. Abi mendekat, membenahi selimutnya lalu mencium keningnya agak lama. Setelah Ruby tertidur, pria itu baru bisa terlelap menjemput mimpi.


.


Tbc


.


Teman-teman sambil nunggu novel ini up, mampir ke cerita temanku yuk!