Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 45


Ajeng terdiam, tidak membalas pernyataan Abi yang cukup mencengangkan itu. Perempuan itu masih seperti tak percaya, pria yang kemarin-kemarin begitu tajam jika berkata-kata, kini bisa berubah haluan begitu manis. Apakah hanya karena ada Ruby? Atau memang benar-benar sudah mencintainya?


Perempuan itu membuyarkan lamunan sesaatnya, lalu kembali menimang Ruby. Agak siangan juga Hanan pulang. Pria itu baru saja mencari kost untuk tempat tinggal sementara dan usaha barunya di sekitar kampus di mana ia di terima, lebih tepatnya di Bandung.


"Assalamu'alaikum ... maaf Kak, meninggalkan Kakak sampai menginap, apa terjadi sesuatu?" tanya pria itu langsung menyapa keponakannya dalam gendongan.


"Waalaikumsalam. Tidak ada, bagaimana? Dapat?"


"Dapat, tapi tempatnya agak mahal, kalau di pinggir bisa juga kebeli, tapi harus jual rumah kita yang lama, gimana menurut kakak?"


Hanan sedikit bimbang. Pria itu sudah memikirkan sedemikian rupa untuk usaha kecil-kecilan sambil kuliah. Setelah dinyatakan diterima di salah satu kampus di Bandung.


"Bagaimana baiknya saja, aku akan mengikutimu, lagian rumah itu sudah lama ditinggal, tidak apa jika dijual demi kelancaran usaha yang baru."


"Tapi rumah itu satu-satunya peninggalan ibu dan bapak yang tersisa, aku bingung, atau ngontrak dulu saja." Keduanya berdiskusi cukup serius.


"Kalau dijual, aku berangkat ke Bandung, kakak ikut ya, kita tinggal dan mulai usaha di sana, jangan tinggal di sini dengan Ruby saja, aku tidak tega," kata Hanan mendadak galau.


"Ada hal yang ingin aku bagi denganmu, Hanan, kemarin Mas Abi ke sini, aku sebenarnya bingung. Denis juga menanyakan kejelasan statusku, kakak harus gimana ya?" Ajeng mulai galau dengan perasaannya.


Setelah kemarin dibuat baper, sekarang Ajeng benar-benar dibuat galau. Apalagi perlakuan Abi yang terlampau manis, tentu membuat sedikit banyak mengusik hati Ajeng yang sesungguhnya hanya wanita biasa. Sama halnya dengan perempuan pada umumnya, suka dimanja dan disayang. Terlebih diperhatikan sampai diperjuangkan, merasa dicintai sesungguhnya.


"Aku tidak akan memaksa ataupun mencegah, kakak berhak memberikan keputusan mutlak yang sekiranya baik untuk ke depannya. Perkara tentang kecelakaan aku tempo dulu, aku sudah ikhlas, asal tidak ada yang membuat kakak dalam kesulitan lagi."


"Bagaimana kalau Abi terlibat, apa itu namanya bukan sebuah tindak kejahatan yang keji? Aku masih ragu, walau hati kecilku berharap tidak," kata Ajeng mulai gamang.


"Aku masih berharap tidak, walaupun tidak punya cukup bukti, aku hanya melihat bahwa perempuan itu mengendarai seorang diri. Perkara memanfaatkan situasi, ini yang sulit dipahami, karena aku sendiri dalam tidak sadarkan diri di rumah sakit."


"Apa sebaiknya aku harus menunggu keputusannya, biar bagaimanapun aku masih terikat, dan Ruby anaknya, aku takut Mas Abi murka dan ini akan menyulitkan kita nantinya kalau kita pergi begitu saja."


Memang seharusnya perkara nantinya pindah atau tetap tinggal tanpa mengikuti Hanan, Ajeng harus membicarakan dengan Abi karena ini juga akan menjadi tempat tinggal Ruby.


"Kalau itu yang terbaik, kakak harus meminta pendapatnya. Baru setelahnya kita pikirkan kembali sambil nunggu rumahnya terjual," ujar Hanan memberi jeda waktu.


Sebenarnya Ajeng sore itu menanti kedatangan Abi, namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang hingga pagi. Perempuan itu sedikit gelisah lantaran harus memusyawarahkan apa keputusannya nanti. Apakah alasannya hanya itu? Kenapa Ajeng mendadak gelisah sekali tanpa kabar pria itu.


"Dihubungi saja Kak, dari pada nggak tenang gitu, mungkin saja Kak Abi sedang sibuk, jadi nggak sempat telpon kakak," usul Hanan demi melihat kakaknya mondar mandir tak karuan.


"Hufh ... katanya cinta, dasar pria, di saat mulutnya begitu manis, ternyata janjinya penuh kepalsuan belaka," gumam Ajeng menggerutu sendiri. Mengingat perlakuannya kemarin-kemarin begitu manis, bahkan tak pernah absen bertelepon dalam sehari walau sekali, dan berdalih menanyakan Ruby.


Bahkan waktu bergulir hingga seminggu ini Abi meninggalkan rumah tanpa kabar. Ajeng jelas kembali mengabaikan perasaannya, perempuan itu sudah tidak ingin berharap apa pun, biar itu untuk kebutuhan Ruby sekalipun. Entah mengapa, Ajeng mendadak sakit hati dan tak tentu begini hatinya.


Seharusnya perempuan itu menyadari, bahwa dirinya memang tidak harus bersamanya, karena pria itu hanya main-main, tidak sungguh mencintai, dan pada akhirnya pasti memilih Vivi kembali.


"Aku sudah memutuskan akan ikut denganmu, sebaiknya memang yang di sini dijual saja, walau sederhana kita punya tempat yang baru," ujar Ajeng penuh solusi. Mengambil keputusan yang tepat setelah berkongsi dengan hati.


Dengan tidak ada kabarnya sama sekali dari Abi, Ajeng mengira bahwa pria itu telah kembali merajut rumah tangganya dengan istrinya. Mungkinkah pria itu tidak jadi bercerai dan kembali memilih rujuk, mengingat dulu pria itu begitu menggembar-gemborkan pernyataan cintanya pada Vivi, bahkan melarang keras melibatkan dalam bentuk perasaan.


"Kakak ingin memperjelas statusnya? Apa tidak seharusnya kita datangi rumahnya, biar semuanya jelas," ujar Hanan cukup kasihan dengan kejelasan status pernikahan kakaknya.


Andai Abi sudah jelas menceraikannya, tentu saja kebebasan perempuan itu bisa langsung diraih setelah masa iddah, bagaimana kalau begini, apakah Ajeng harus mengesahkan sendiri perihal pernikahan sirinya agar mudah mengajukan gugatan cerai.


Perempuan itu jelas galau, status yang digantung cukup mengusik hatinya. Terlebih perasaannya yang terombang-ambing antara pria itu dan Denis sudah menunggu cukup lama.


"Maaf, Kak, aku membebaskan dirimu untuk menentukan pilihan, tolong jangan menungguku, aku tidak bisa menjanjikan apa pun dengan statusku sekarang," ucap Ajeng sore itu ketika Denis kembali berkunjung.


Perempuan itu jelas galau, sedang masuk keluarga Denis, Ajeng cukup tahu diri. Orang tuanya pasti tidak akan merestui mengingat statusnya kini dan juga ada Ruby.


"Aku bisa bujuk mama dan papa, asal kamu benar-benar jelas sudah tidak terikat, aku bingung Ajeng, orang tuaku berniat menjodohkan aku kalau dalam waktu dekat ini belum bisa membawa seorang gadis ke rumah."


"Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik, orang tuamu pasti sudah memilihkan sesuai kriterianya."


"Bagaimana dengan perasaan kita, aku masih sangat mencintaimu, Ajeng, seharusnya kita berjuang sedikit lagi," ujar Denis sendu.


Pria itu akan tetap membawa Ajeng ke hadapan orang tuanya jika status Ajeng benar-benar bebas, karena tidak mungkin pria itu mengenalkan di saat pujaan hatinya bahkan masih terikat pernikahan dengan orang lain.


.


tbc


.


Teman2 sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!