
"Mau langsung pulang atau ke mana dulu?" tanya Abi memastikan setelah keluar dari area kantor.
Pria itu membawa mobil sendiri tanpa Pras.
"Mampir super market bentar Mas, susunya Ruby mau habis," ujar Ajeng yang sedari tadi memang niat mampir belanja setelah mengantar makan siang. Hasilnya ngaret sebab harus menunggu paksu dan malah ketiduran.
"Oke, nggak sekalian keperluan lain aja?" tawar Abi sekali jalan.
"Boleh sih, kamu mau nunggu kalau lama?"
"Beli aja sekalian, aku antar dan aku tungguin buat istri tersayang," sahut pria itu tersenyum.
Mobil baru melaju setengah perjalanan, tiba-tiba handphone Abi berdering. Pria itu pun menghubungkan earphones sembari menerima panggilan dari ibunya.
"Di mana? Ajeng sama kamu, nggak?" tanya Bu Warsa dari sebrang telepon dengan nada panik.
"Iya, Ma, ada apa?" tanya Abi santai.
"Coba suruh Ajeng hubungi mbak Maya, ngajak Ruby keluar beli jajan belum pulang. Perasaan mama nggak enak," ujar Bu Warsa membuat Abi langsung mengiyakan.
Abi sampai menepikan mobilnya karena mendadak ikut tak tenang.
"Kenapa Mas, kok berhenti?" tanya Ajeng keheranan.
"Coba kamu hubungi Maya, bawa Ruby keluar belum pulang," titah Abi mencoba tenang.
"Loh, emangnya ke mana?" tanya Ajeng langsung mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag-nya.
Ajeng menghubungi asisten rumah tangga belum genap dua bulan bekerja di rumah itu. Hingga deringan ketiga belum juga diangkat, membuat Ajeng ikut tak tenang.
"Kok malah mati? Maya ke mana sih!" Ajeng terlihat khawatir bercampur kesal.
"Kamu tenang dulu ya, kita langsung pulang aja, soalnya juga mama nelpon gitu nggak diangkat," ujar Abi menenangkan.
Mereka gagal mampir berbelanja, langsung bertolak ke rumah setelah mendapat kabar kurang mengenakan tentang putri kecilnya. Jelas Ajeng mulai panik ketika ponsel Maya malah tidak aktif sama sekali.
"Mas, gimana? Kok nggak bisa?" Ajeng hampir menangis mengingat putrinya bersama orang lain.
"Kamu yang tenang ya, kita bentar lagi sampai rumah," ujar Abi yang sebenarnya juga sama-sama khawatir.
Abi kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih. Begitu sampai rumah Ajeng langsung menanyakan pada orang rumah, dan ternyata putri kecil mereka belum pulang.
Abi masuk ke ruang control mengecek rekaman CCTV hari ini. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan yang ditampilkan oleh kamera pengawas seharian ini.
Siang sekitar pukul dua lewat, Ruby dalam gendongan Maya keluar pagar. Tidak membawa apa pun, menurut Mbok Inah asisten rumah tangga lainnya. Ruby sedikit rewel lalu dibawa ikut keluar membeli sesuatu.
Hingga petang ini bocah dua tahun itu belum kembali, dan asisten rumah tangga yang membawanya tidak bisa dihubungi.
"Gimana Mas, Ruby di mana?" Ajeng mulai menangis. Perempuan itu tidak bisa membayangkan terjadi hal buruk pada putrinya.
"Kita coba cari ya, lewat google maps, semoga ada jalan di mana Ruby," ujar Abi menenangkan istrinya yang sudah menangis sedari tadi.
Abi juga menghubungi Pras untuk membantunya dalam pencarian. Hilangnya Ruby dari rumah jelas membuat geger.
Ajeng dan Bu Warsa ikut juga dalam satu mobil. Berhubung belum dua puluh empat jam, mereka tidak bisa menghubungi polisi.
Mobil terus melaju sesuai petunjuk GPS dalam peta. Tempat yang belum begitu jauh dari rumah. Pras menghentikan mobilnya setelah sampai pada titik objek yang tergambar dilayar.
"Seharusnya di sekitar sini, tapi kok tempatnya tanah lapang gini," ujar Pras menyusuri jalanan sekitar begitu turun dari mobil.
"Pak, ini ponselnya di sini!" pekik Pras menemukan ponsel yang diduga milik Maya.
"Iya bener ini ponselnya Mbak Maya, ke mana orangnya?" Ajeng meneliti benda pipih itu yang tak asing lagi. Jelas punya Maya, masalahnya orangnya mana, dan Ruby dibawa ke mana?
Pencarian terus dilakukan hingga malam, sayang sekali tidak mendapatkan hasil apa pun. Membuat satu keluarga dibuat tidak tenang. Apalagi Ajeng yang terus menangis, membuat Abi ikut panik dan tak tega. Kekhawatiran itu terjadi semalaman, karena belum juga ada kabar. Bahkan, satu rumah tak ada yang istirahat menunggu keajaiban kabar.
"Mas, aku nggak mau pulang, mau ikut nyari sampai anak kita kembali dalam pelukan," ujar Ajeng yang enggan beristirahat.
"Tunggu di rumah sayang, biar aku sama orangku yang nyari, tunggu kabar dari kami. Kamu istirahat di rumah sama Mama," ujar Abi membujuk istrinya untuk stay di rumah saja menunggu kabar.
"Nggak Mas, aku nggak bisa tenang!" Ajeng jelas menolak. Ia belum pernah terpisah dari Ruby barang sejenak pun. Apalagi hingga semalam, Ibu mana yang tenang. Ajeng jelas khawatir dan tak bisa tenang sedikit pun.
.
Tbc
.
Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!