
"Maaf, beneran nggak niat nerima tamu tak diundang, bila perlu aku bikin pengecualian untuk tidak boleh datang ke kantorku," bujuk Abi meyakinkan istrinya.
"Hatiku cuma satu Mas, udah terlanjur aku berikan padamu, tolong jangan buat aku kecewa."
"Tentu saja aku paham, sekarang percaya kan kalau aku benar-benar nggak ngrespon," bisik Abi sembari memeluknya makin erat, membuat Ajeng susah untuk melarikan diri.
"Percaya tapi masih kesel dikit," ucap Ajeng berusaha melepas tangan suami yang mendekapnya, memberi jarak.
"Gimana ceritanya, kesel tapi dikit, berarti banyak nggaknya dong, oke kita baikan ya?" ujar pria itu lembut. Kini beralih saling tatap satu sama lain.
"Hmm, udah sana, ngapain nempelin mulu, udah dimaafin, sana jauhan!" usir Ajeng menolak saat Abi lagi-lagi mendekat dengan rayuan.
"Kok ngusir? Aku udah bela-belain pulang cepet loh, masa nggak kita manfaatin. Jarang banget bisa berdua gini siang-siang, gimana kalau kit—"
"Nggak, aku mau nyuapin Ruby, nemenin sebentar lalu saatnya tidur siang. Nggak usah ngadi-ngadi!" tolak Ajeng bahkan sebelum Abi merampungkan pembicaraannya.
"Ada bibik yang bantu jagain, sayang, tunggu dong." Abi mengekor istrinya yang keluar dari kamar.
Pria itu terus mengikuti Ajeng yang beranjak ke kamar Ruby. Terlihat putri kecilnya tengah ditungguin ART di rumah itu. Sejenak meninggalkan kamar lalu kembali dengan menenteng makanan.
"Rubinya biar sama aku, Mbak," ujar Ajeng memberikan ruang untuk ARTnya meninggalkan ruangan.
"Mama ni punya mainan balu," ucap Ruby menunjuk boneka princess miliknya.
"Wah ... cantik ya, seperti Ruby. Anak mama makan dulu ya, terus bobo," bujuk Ajeng sembari menyuapi putri kecilnya.
"Sayang, aku mandi dulu ya, habis ini nyusul ya," pamit Abi meninggalkan keduanya.
Sementara Abi membersihkan diri, mengganti pakaian ala rumahan. Ajeng masih di kamar Ruby baru usai menyuapinya. Perempuan itu tengah membantu putri kecilnya mengemas mainan ke tempatnya agar tersusun rapi kembali. Setelahnya, bahkan lupa begitu saja malah ketiduran sambil ngelonin Ruby.
"Ya ampun ... ditungguin malah bobok di sini," gumam Abi menilik kamar putrinya.
"Sayang, pindah yuk!" bisik Abi merusuh gemas. Ikut merebah di belakangnya sembari memeluk mencari kenyamanan.
"Mas, jangan gini geli, minggir aku ngantuk," usir Ajeng malas merespon.
"Di sini boleh, ayo dong, mumpung Ruby udah tidur, gabut," ujar Abi yang biasanya sibuk mendadak tidak ada kerjaan selain mengganggu istrinya.
"Ish ... yang bener dong, Mas, aku tuh masih kesel," jawab Ajeng sembari merubah posisinya. Keduanya saling tatap dalam diam.
"Keselnya jangan lama-lama, nggak kuat, pindah yok!"
"Mager, kamu udah mandi?"
"Aku gendong ya, ayok!" rengek pria itu mengiba.
Ajeng tersenyum melihat kelakuan suaminya yang mupeng sedari tadi. Perempuan itu melirik seraya berjalan keluar melarikan diri.
"Eh, lagi ngumpul di sini toh ternyata," sapa Bu Warsa yang hendak menyambangi kamar cucunya.
"Iya Ma, baru pulang?" sahut Ajeng menyapa ramah.
"Abi sudah di rumah? Tumben pulang cepet," tanya Bu Warsa menatap keheranan.
"Eh, mama ganggu ya, cuma mau nengok Ruby," sahut Bu Warsa menggeleng kecil.
"Enggak Ma, Mas Abi ngarang-ngarang aja, Ruby sedang tidur, ada yang bisa Ajeng bantu?" tawar Ajeng dengan senang hati.
Abi menggeleng seraya menatap mamanya dengan wajah mengkode. Membuat Bu Warsa paham betul dengan kelakuan putranya yang ingin berdua saja.
"Nggak ada Sayang, udah sana ikut istirahat saja mumpung Rubynya juga lagi bobok."
"Tuh sayang, istirahat," kata Abi berbinar.
"Kamu aja Mas, aku mau bertanam, bunga-bungaku di belakang butuh perawatan."
Ajeng bukannya masuk ke kamar malah sibuk di samping rumah dan halaman belakang. Menyiangi dedaunan yang sudah tua untuk dibersihkan dari pot-pot.
Abi menatapnya dengan kesal. Namun, pria itu mengikuti juga kesibukan istrinya.
"Aku bantuin ya, biar cepet selesai," ujar Abi menekan sabar.
"Emang bisa?" tanya perempuan itu tersenyum sendiri.
Nampaknya perempuan itu menguji kesabaran suaminya hingga petang. Alhasil mereka pun melewati sore itu begitu saja. Setelah makan malam, Ruby yang tumben-tumbenan bobok cepet pun enggan beranjak dari kamar dan ingin menempel pada bundanya. Membuat Abi tidak ada kesempatan untuk menyentuh istrinya hingga pagi.
Alhasil, pria itu berangkat ke kantor pagi ini dengan semangat lima puluh persen.
"Nanti bawain maksi seperti biasa ya, Dek," pinta Abi sembari pamit. Mencium kening istrinya adalah wajib setelah Ajeng menyalim takzim tangannya.
Perempuan itu mengangguk dengan senyuman. Siang ini Ajeng kembali datang ke kantor suaminya, kali ini tanpa Ruby.
Abi sudah menunggu dengan lapar, dan haus kasih sayang.
"Masak apa?"
"Sambel cumi, ayam, sama sayur lodeh, makan dulu Mas!"
"Aku pengen makan kamu dulu," ucap Abi menatap sungguh-sungguh.
"Di sini? Di kantor?" tanya Ajeng tak percaya.
"Iya, ada yang salah?"
"Tapi Mas—"
.
Tbc
.
Sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!