
"Nggak pa-pa, Pras!" Abi mengkode asisten pribadinya untuk membiarkan perempuan itu masuk.
"Tuh kan kubilang juga apa? Dia pasti ngijinin aku masuk!" tukas Vivi menatap kesal pada aspri mantan suaminya.
Vivi berjalan santai mendekati meja Abi, nampak perempuan itu tersenyum tanpa canggung.
"Ada apa, Vi? Cepat katakan, saya tidak punya banyak waktu," kata Abi dingin. Merasa tidak nyaman saat mantan istrinya tetiba datang menemuinya.
"Maaf, Mas, beri aku waktu beberapa menit. Aku terpaksa datang ke sini, kenapa kamu tidak mengangkat telponku? Sesibuk itu sampai tidak bisa angkat telpon?" protes Vivi mengomel.
"Owh ... jadi nomor yang dari kemarin berisik itu nomor kamu, kenapa aku harus angkat telepon dari kamu. Tidak ada yang perlu dibahas di antara kita, jadi saya rasa tidak penting," sahut Abi santai. Membenarkan jas miliknya dengan elegan.
"Itu menurut kamu, Mas, lima tahun kita pernah hidup bersama, memangnya tidak ada lagi sisa cinta kamu untukku sedikit saja. Bahkan, aku susah move on loh dari kamu," jelas Vivi terdengar lucu.
Abi menanggapinya dengan santai, memang tak ada sisa cinta yang tersemat. Bahkan, hampir lupa kalau dirinya pernah berumah tangga dengan wanita berambisi seperti mantan istrinya.
"Owh ya, setelah hampir dua tahun ini, aku nggak percaya, tolong tinggalkan ruangan saya!" usir Abi dingin. Nampaknya pria itu tidak ingin terlihat apa pun dengannya.
Mungkin Vivi lupa, lima tahun pernah bersama telah membuat Abi hafal betul dengan sifat dan karakter seorang Vivi. Dia ratu drama. Dulu, Abi juga tidak tahu kenapa sering kali menutup mata, bahkan rela berbohong di depan mamanya demi menutupi kesalahan yang telah dibuatnya.
"Kamu jangan tegaan gitu Mas, aku datang ke sini baik-baik. Aku minta maaf udah mengabaikan kamu setelah perceraian itu. Jujur, itu karena aku kesal dan sakit hati. Kamu benar-benar ninggalin aku hanya untuk sebuah cinta yang baru. Kamu tuh jahat Mas, tidak sepenuhnya itu salah diriku, tapi nggak pa-pa, mungkin karena aku memang nggak sempurna, namun setelah aku renungi selama ini, aku masih sayang, aku ingin menebus kesalahanku. Tolong beri aku kesempatan, setidaknya di sisa umurku," papar Vivi dengan wajah sendu. Mendekati Abi hingga membuat pria itu berdiri dari kursi dan memberi jarak aman.
"Maaf, Vivi, kamu salah tempat. Mungkin memang benar semua itu bukan hanya salah kamu, aku pun salah sebagai seorang suami tidak bisa membimbingmu ke jalan yang baik. Aku akui, aku juga banyak salah dalam segala hal. Namun, hubungan kita sudah berakhir, kita tidak mungkin bersama lagi," jawab Abi cepat. Selain karena sudah mati rasa, Abi sekarang begitu mencintai istrinya.
"Tapi Mas, aku hanya meminta kesempatan untuk dimaafkan. Aku ingin dekat disisa-sisa waktuku." Vivi mulai menangis, entah itu drama untuk mengambil simpati Abi, atau benar-benar merasa terluka.
"Maaf, Vi, aku tidak bisa, ada perasaan wanita yang harus aku jaga. Dia telah berjiwa besar menerima aku kembali, bahkan di saat aku udah bikin dia menangis sepanjang malam tanpa kejelasan."
Perjuangan Abi untuk mendapatkan Ajeng kembali tidaklah mudah, Abi tidak ingin rumah tangganya terusik. Apalagi ada Ruby anak mereka, yang akan menjadi korban bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
"Siapa Mas? Ajeng kah?" tanya Vivi berusaha menahan diri. Kabar kecelakaan yang menimpa mantan suaminya dan hilangnya Ajeng, tentu angin segar untuk Vivi kala itu yang memang tengah menaruh dendam. Sampai hari ini pun, rasanya Vivi tidak rela kalau mereka pada akhirnya bersama.
"Mas, aww ... kepalaku sakit Mas." Vivi tiba-tiba merasa lemas. Menyender di tubuh Abi tanpa canggung.
Pria itu terdiam kaget, bingung dan terlihat tak responsif. Namun, sebagai manusia ia tidak mungkin juga abai begitu saja.
"Kamu kenapa Vi, duduk dulu!" Abi memberi jarak, jujur ia kasihan kalau Vivi beneran sakit. Namun, kondisinya saat ini tidak boleh menjadikan alasan yang bisa menghancurkan rumah tangganya.
Sementara Ajeng yang baru saja selesai memasak, mengemas bekal untuk makan siang suaminya. Perempuan itu sengaja datang ke kantor untuk mengirim makan siang yang telah direquest Abi sebelumnya.
"Pras!" Abi memanggil asisten pribadinya untuk membimbing Vivi keluar.
"Mas, kepalaku masih pusing, aku tidak mau dengan dia," tunjuk Vivi enggan beranjak.
"Pras, atasi, sebentar lagi istriku sampai, aku tidak mau dia salah paham," titah pria itu bernada pelan.
Abi sampai keluar ruangan demi menghalau rasa khawatir. Takut Ajeng datang saat bahkan Vivi masih ada di dalam dan bertingkah.
"Mas, tunggu Mas, aku butuh kamu, tolong jangan abaikan aku begini. Aku sedang sakit," keluh Vivi menahan Abi hendak keluar.
Hal yang tak diinginkan pun terjadi, tepat di saat Ajeng datang menghampiri bersama putri kecilnya.
.
Tbc.
Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!