
"Sebentar, biar aku carikan punya Hanan, bajuku kecil, tidak muat di kamu," ujar perempuan itu keluar dengan langkah cepat.
Menuju kamar adiknya, mencari kaus dengan ukuran yang besar. Hanan dan Abi nampaknya ukurannya hampir sama. Perempuan itu menarik kaus seadanya dan kain sarung yang paling simple.
Abi sendiri masih menunggu di kamarnya seraya memainkan ponselnya. Tak sadar Ajeng sudah kembali masuk dengan membawa pakaian ganti untuknya.
"Ini, sementara pakai ini saja," ujar Ajeng menyodorkan ke hadapan suaminya.
Pria itu langsung menaruh ponselnya, beralih menatap Ajeng yang tengah memberikan pakaian dengan wajah sengaja menghadap ke samping. Tentu saja tidak ingin mata sucinya ternoda dengan penampilan Abi yang bertelanjang dada.
Merasa gemas, pria itu meraih pakaian serta menarik tangannya hingga istrinya terjatuh ke dalam pangkuan suaminya.
"Aaa ...." jerit Ajeng cukup kaget.
"Shhhtt ... jangan kenceng-kenceng, nanti anak kita bangun," ucap Abi memperingatkan hingga membuat perempuan itu langsung terdiam.
"Lepasin Mas, aku mau mandi," pinta perempuan itu merasa tak nyaman dan deg degan dalam pangkuan seorang pria.
"Nanti, diam di sini sebentar saja," cegah Abi menahan tubuh istrinya agar terdiam. Mengunci tubuhnya dalam pelukan.
Pria itu menjatuhkan keningnya di bahu Ajeng, seakan ingin berkeluh kesah banyak hal.
"Maaf, Mas, aku tidak nyaman," ujar Ajeng berusaha meloloskan diri.
"Lima menit, tetap diam dan tenang, aku masih suami kamu, jadi seperti ini sangat wajar," ucap Abi tenang.
Ajeng yang tidak tenang, rasanya ia seumur-umur belum pernah didekap pria telanjang dada begini, bagaimana tidak grogi.
"Jangan gerak-gerak, kamu membuat sesuatu pada diriku tidak nyaman. Bagaimana kalau meronta? Kamu mau tanggung jawab?" ujar Abi ambigu sekali. Membuat Ajeng berpikir keras setelah merasa ada pergerakan yang tak biasa di bawah sana.
Sungguh ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya yang mulai gugup. Terlebih penampilan Abi yang terbuka, dan suasana rumah yang sepi.
"Aku akan segera mengesahkan pernikahan kita di catatan sipil. Kita akan menikah secara resmi, aku tidak mau pisah," ucap Abi lirih. Masih dengan posisi yang sama, membuat Ajeng mati gaya.
Perempuan itu hanya diam, tidak bisa berpikir dengan jernih, benar-benar situasi yang tidak Ajeng harapkan sama sekali. Ajeng tahu betul, suaminya ini adalah pria dewasa yang tentu saja normal.
"Beri aku waktu untuk menjawab semuanya. Aku tidak mau berurusan dengan Mbak Vivi yang nantinya menjadi sengketa rasa. Sebaiknya urusi dulu pernikahan kalian dengan baik-baik."
"Sudah, tinggal menunggu ketuk palu saja. Tidak ada mediasi karena kami sama-sama mantap untuk berpisah. Vivi juga sudah mendapatkan sebagian apa yang aku hibahkan untuknya."
"Bagaimana aku yakin kalau kamu tidak terlibat, sementara kamu tiba-tiba datang memberikan penawaran yang begitu mengejutkan."
"Sudah aku katakan, semua informasi tersebut dari Dokter Stela. Kamu bisa tanya Anto, atau mama aku. Besok, mau ya ketemu dengan mama."
"Maaf, Mas, aku belum bisa jawab sekarang, tunggu saja proses perceraian kamu selesai, dan tunjukan padaku bahwa kamu tidak terlibat sama sekali, baru aku pertimbangkan," ujar Ajeng dengan yakin.
Mana ada yang tahu kalau pria itu tidak jadi menceraikan istrinya. Hati manusia tidak ada yang tahu, dan saat ini yang Ajeng rasakan adalah bimbang.
"Aku tunggu secepatnya, aku tidak mau terpisah terus dari Ruby."
Kediaman Ajeng yang sekarang cukup jauh dengan kantor Abi, membuat pria itu merasa ingin segera berkumpul dengan anak istrinya di tempatnya yang lebih layak dan nyaman.
Ajeng melepaskan diri dari dekapan Abi yang memeluknya, lalu bergegas menyambar handuk di gantungan. Mengambil pakaiannya asal dari lemari karena kadung grogi. Untung saja tidak lupa dengan dalemannya, dan cukup beruntung karena menarik piyama panjang.
Perempuan itu langsung melesat ke kamar mandi, sementara Abi merebahkan tubuhnya begitu saja di samping Ruby dengan tubuh masih belum mengenakan pakaian.
Gejolak hasratnya seperti hidup kembali setiap kali berdekatan dengan Ajeng yang membuatnya kadang susah menguasai diri. Sayang sekali belum ada sambutan manis yang mampu mensejahterakan dirinya saat ini yang jelas butuh asupan kasih sayang.
Ajeng mandi dengan perasaan entah. Rasanya ingin mengosok tubuhnya yang baru saja ditempel Abi. Kenapa jadi begini, bukankah dia suaminya? Kenapa rasanya aneh, dan begitu asing. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah pria itu menginginkan sesuatu dari dirinya. Pikiran itu membuat Ajeng berlama-lama di kamar mandi.
Baru keluar setelah ketukan pintu terdengar, rupanya pria itu menyusulnya.
"Ajeng! Kamu nggak pa-pa? Kenapa lama sekali, ini sudah malam nanti masuk angin!" pekik Abi sambil menggedor pintunya.
"Bentar Mas!" sahut perempuan itu yang sesungguhnya sudah selesai sedari tadi.
"Kenapa lama sekali?" protes Abi menunggunya sambil duduk di ruang tengah.
Ajeng keluar sudah berpakaian lengkap, rambutnya yang basah digulung dengan handuk sedang. Membuat Abi leluasa menatap leher jenjangnya yang mulus dan tentu saja menggoda.
"Aku keramas, makanya lama," jawab Ajeng ada benarnya.
"Aku mau pesan makanan, kamu mau apa?" tawar Abi merasa lapar.
"Aku nggak, mau masak saja, kamu kalau mau pesan terserah."
"Kalau ikut nungguin masakan kamu boleh nggak?" ujar Abi penuh harap.
"Makananku sederhana dan seadanya, nanti tidak sesuai dengan selera lidah orang kaya, jadi mending jangan."
"Kenapa harus bahas strata terus, bukankah kita makhluk sama di hadapan Tuhan?"
"Pada kenyataannya begitu Mas, mengantisipasi, takut kamu kaget. Masakanku tidak seperti ala restoran yang akan memanjakan perutmu."
"Cukup tangan trampil kamu aja yang memanjakan urusanku. Apa yang ingin kamu masak?" tanya pria itu mendekati Ajeng yang tengah meneliti isi kulkasnya.
Perempuan itu punya ayam ungkep dan sayur kangkung yang tadi sudah sempat disiangi, namun karena repot belum sempat dimasak. Sekarang waktunya mumpung Ruby sudah tidur.
"Perlu aku bantu?" ujar Abi nimbrung ke dapur yang lumayan sempit.
"Tidak usah, kamu tunggu saja," tolak Ajeng malah merasa tidak nyaman diperhatikan terus.
Abi yang sudah diusir sekalipun tidak beranjak sama sekali. Malah berlama-lama menikmati wajah cantik istrinya dengan cekatan menguasai dapur. Sayangnya pria itu kurang paham, kalau perempuan itu sebenarnya tidak nyaman dan mati gaya diperhatikan terus-menerus.
"Aww ....," Tanpa sengaja pisau dalam genggaman menggores jarinya saat tengah memotong bawang.
Abi yang tak jauh dari sana langsung mendekat. Spontan mengulum jarinya agar darah yang keluar tidak makin banyak. Kejadian itu pun membuat keduanya tanpa sadar saling menyapa tubuh mereka dalam kedekatan yang begitu natural.
.
Tbc
.
Gaes sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!