
Ajeng menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan Abi. Menatap lurus pada suaminya dengan seorang wanita yang begitu ia kenal. Perempuan itu berjalan mendekat sambil menuntun putrinya.
Sementara Vivi terdiam, berdiri di dekat mantan suaminya dengan wajah tak suka. Abi sendiri langsung menepis tangan Vivi yang sedari tadi menahannya.
"Apa kabar, Mbak Vivi?" sapa Ajeng ramah dan cukup tenang.
Abi terdiam heran melihat perangainya yang begitu tenang, bahkan tidak ada sedikit pun emosi atau nyala cemburu di sana. Atau memang sikap Ajeng yang lembut dan ramah sehingga menganggap baik semua orang.
"Ajeng? Kamu, ada urusan apa datang ke sini?" tanya Vivi menatap keduanya. Antara ibu dan putri kecilnya dalam tautan genggaman tangan.
"Tidak begitu penting, hanya mengantar makan siang untuk suamiku. Ini makanan kesukaan kamu, Mas, sesuai permintaan," ujar Ajeng tersenyum kalem.
"Iya Sayang, ayo masuk!" sahut Abi mendekati putrinya lalu menggendongnya.
Vivi terdiam di tempat. Pras tentu tahu tugas krusial ini tanpa dikode terlalu jauh, pria itu langsung membimbing perempuan yang diduga mantan istri bosnya itu keluar.
"Maaf, Buk, mari saya antar keluar!" usir Pras dengan nada lembut.
"Apaan sih, saya masih ada urusan, dari tadi kenapa ngurusin saya. Ngeselin banget!" Vivi mengomel, ditambah sifat Abi yang menanggapi dingin dan seakan tidak merespon apa pun tentang mantan istrinya. Bukan maksud menyakiti, namun kalau Abi tidak abai akan hal ini, jelas itu menyakiti Ajeng yang sekarang adalah prioritas dan tanggung jawabnya.
Abi menurunkan Ruby di sofa setelah mereka masuk ke ruangan. Ajeng menaruh bekal makan siang di meja, lalu beranjak mencuci tangan. Sementara Abi mengikutinya, sebenarnya ia masih bertanya-tanya dalam hati dengan rasa khawatir.
"Kamu marah?" tanya Abi pada akhirnya.
"Emang aku kelihatan marah?" Ajeng balik bertanya. Namun, dari sikapnya yang sulit ditebak membuat Abi cemas sendiri. Tanpa diminta, pria itu ingin menjelaskan sendiri.
"Bahas nanti saja Mas, bukankah sekarang waktunya makan siang?" ujar Ajeng enggan menanggapi.
Bohong kalau seorang istri tidak marah ataupun cemburu melihat kedekatan suami dan mantan istrinya. Namun, Ajeng berusaha percaya dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun hatinya kesal, ia berusaha menahan diri, terlebih ini di kantor yang atas sikapnya bisa memperjelek citra suaminya di depan banyak orang.
Abi terdiam, tidak berani menyela, memperhatikan istrinya yang tengah menyiapkan makan siang untuknya. Membuka bekal, lalu mempersilahkan suaminya menyantap makan siang dengan tenang.
"Kamu nggak makan? Ini porsinya banyak, buat berdua kan?" Abi sesungguhnya sudah merasa sangat bersalah, walaupun istrinya masih begitu lembut menjamu dirinya.
Mungkin kalau istri-istri di luar sana melihat adegan tadi yang kurang tidur dipandang mata sudah pasti murka, marah-marah, bahkan melempar bekalnya begitu saja.
"Aku sudah kenyang, makanlah!" titah Ajeng datar.
Abi yang merasakan aura berbeda dari diri perempuan yang begitu ia cintainya tak pandai mengunyah. Bahkan, pria itu sampai kesulitan menelan hingga tersedak.
"Kamu belum makan, aku suapin ya, tidak mungkin kenyang hanya dengan menatap. Jangan menghukum diriku dengan caramu yang sulit aku mengerti, tolong, aku tidak bisa tenang," ucap Abi pada akhirnya. Sungguh sikap diam, dan dinginnya seorang istri adalah teguran baginya.
Ajeng menatap suaminya yang kini tengah menyorotnya dengan tatapan mengiba. Dia tahu betul sikap Ajeng yang begitu lembut, namun kenapa merasa ancaman untuk dirinya hanya dengan respon yang berbeda.
Ajeng menurut, sesungguhnya ia memang tengah kesal dan berusaha menahan diri. Perempuan itu menolak suapan suaminya, namun makan bersama dalam satu wadah.
"Aku sudah kenyang, aku pulang ya," pamit Ajeng enggan membahas apa pun.
"Ruby masih ingin main, kamu bisa menungguku di ruang dalam," ujar Abi tak rela membiarkan istrinya pulang begitu saja.
Sungguh hati pria itu masih belum tenang, padahal memang pada kenyataannya ia juga tidak melakukan pelanggaran apa pun. Dirinya bahkan merasa tidak nyaman atas kehadiran mantan istrinya.
"Biar nanti mainnya di rumah saja, nanti membuatmu tidak nyaman."
"Aku ikut pulang sekarang, biar kuselesaikan pekerjaan aku di rumah saja."
Dari pada kerja tak tenang, akhirnya Abi mengalah pulang. Sepertinya Ajeng masih belum mau membahas jika ada putri kecil mereka.
Abi mempersilahkan istrinya masuk ke mobil, Ruby kecil dalam pangkuan. Sementara Abi fokus menyetir. Tak ada percakapan apa pun hingga sampai rumah. Keduanya saling diam, lebih tepatnya Ajeng yang mogok berbicara, karena Abi sudah berusaha berbicara. Namun, tidak direspon sama sekali, malah Ajeng melangkah cepat ke kamar.
Abi menitipkan Ruby pada asisten rumah tangganya untuk menemani di kamar. Bocah kecil itu sudah melewati lebih dulu dengan polah lincahnya. Setelah memastikan putri kecilnya dalam pantauan orang dewasa, Abi menyusul Ajeng ke kamar.
"Sayang, kamu terlihat marah, maaf tadi di luar kendali," ucap Abi mencoba klarifikasi.
"Terserah kamu Mas, itu hak kamu mau bersikap apa pun. Emang boleh aku marah?"
"Maaf, jangan gini, aku tahu kamu cemburu, tapi jangan gini, serem, aku nggak tenang kalau kamu cuek padaku." Abi mengikis jarak, langsung menariknya dalam dekapan.
.
Tbc
.
Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!