My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 68 - MBV -


Dokter bilang Venus mengalami koma dan tidak bisa diprediksi kapankah Venus akan sadar. Kondisi Venus sangat lemah, kecil kemungkinan wanita itu bisa siuman dalam waktu dekat.


Sedangkan bayinya yang baru lahir harus masuk incubator. Seolah belum cukup cobaan yang dialami Jenderal Virendra, kini dia harus menghadapi kenyataan bayinya sangat rapuh karena dilahirkan sebelum waktunya.


Letnan Dean yang baru datang segera memberi laporan pada Jenderal Virendra. Pemimpin Negara Aleister itu terlihat sangat lelah karena selama 2 hari tidak tidur. Dia menjaga Venus untuk memastikan istrinya itu baik-baik saja hingga dia sendiri tidak bisa tidur.


"Lapor Jenderal! Keadaan Tuan muda saat ini lebih baik karena ada Velly dan Martha yang menjaga. Untuk penyelidikan, orang suruhan saya menemukan secarik kertas sepertinya pancingan untuk Nyonya."


Letnan Dean menyerahkan secarik kertas yang diterima oleh Venus. Tulisan itu terlihat asing oleh Jenderal Virendra, sepertinya musuh dalam selimut ini pandai bermain-main.


"Terus selidiki, untuk sementara aku akan terus berada di sini sampai Venus stabil." Ucap Jenderal Virendra dengan nada lelah, pria itu bersandar pada sofa di dalam ruang rawat Venus.


"Bagaimana keadaan Nyonya, Jenderal?" tanya Letnan Dean.


"Keadaannya belum stabil, dokter bilang tidak bisa memprediksi kapan Venus akan siuman."


"Saya berdoa agar Nyonya segera siuman dan bisa kembali sehat," ucap Letnan Dean dengan tulus.


Jenderal Virendra hanya mengangguk, dia juga tidak berhenti untuk terus berdoa agar Venus segera siuman. Jenderal Virendra memikirkan anak mereka yang masih terlalu rapuh dan membutuhkan sentuhan hangat Ibunya.


"Jenderal, kalau begitu saya permisi." Letnan Dean menunduk hormat dan segera pergi dari ruang rawat Venus.


Kini hanya tinggal Jenderal Virendra yang menatap kosong pada wajah pucat Venus. Jenderal Virendra menggenggam erat tangan Venus, seolah mengatakan bahwa dia akan selalu ada di sisi Venus.


"Tolong cepat sadar, anak kita membutuhkanmu." Bisik Jenderal Virendra sebelum mendaratkan kecupan hangat dikening Venus.


*


*


Di Istana tidak ada hentinya Velly dan Via bertengkar. Mereka memperebutkan siapa yang berhak menjaga Varest. Selama 2 hari ini Via mulai menunjukkan sifat aslinya. Wanita itu seolah ingin berkuasa di Istana ini.


"Berhenti bersikap sok kuasa, Via!" teriak Velly marah ketika melihat Via menyuruh pelayan lain dengan arogan.


"Kakak ipar, aku bingung kenapa kakak ipar selalu berteriak padaku? Tadi pagi kau berteriak karena aku menjemput Tuan muda, sekarang kau berteriak karena apa?"


"Aku tidak berkuasa di sini, tidak ada yang salah dengan sikapku kakak ipar!" bantah Via dengan wajah polosnya.


Velly sudah akan memarahi Via ketika tiba-tiba seorang pelayan mendekat. Velly mengenal pelayan ini sebagai salah satu pelayan kepercayaan Jenderal Virendra.


"Maaf mengganggu, saya mendapat pesan Jenderal meminta Tuan Sean untuk menyiapkan pakaian Jenderal. Saya sudah mencari Tuan Sean, tapi belum bertemu dengan beliau."


"Kau pergilah, biar aku yang mengabari suamiku." Ucap Velly bergegas untuk mencari keberadaan Sean.


Via yang mendengar hal itu ikut mencari Sean. Dia ingin meminta sesuatu pada Sean dan Velly tidak boleh mengetahuinya atau wanita itu akan mengamuk.


Tidak lama Via berhasil menemukan Sean yang ternyata baru kembali ke Istana. Via segera mendekati Sean dan bermasuk menyatakan keinginannya.


"Kakak, tadi pelayan menyampaikan sesuatu. Pelayan bilang, Jenderal ingin kakak menyiapkan pakaian untuknya." Via langsung mengatakan maksudnya tanpa berniat menyapa Sean lebih dulu.


"Baiklah, terima kasih karena sudah menyampaikan pesan ini." Ucap Sean tersenyum hangat pada Via sembari mengacak pelan rambut adik sepupunya itu.


"Kakak, boleh Via minta sesuatu?" tanya Via pelan.


"Apa itu?"


"Via ingin ikut kakak saat mengantarkan pakaian untuk Jenderal. Bolehkan, kak? Via ingin melihat pemandangan di luar sebentar saja."


Belum Sean menjawab, Velly yang baru datang lebih dulu menyela pembicaraan keduanya. Wanita itu menatap Sean dengan tajam.


"Kau pikir kau siapa, Via? Jika kau ingin keluar silahkan keluar, tapi jangan harap kau bisa masuk lagi!" Velly berkata dengan tegas tanpa memedulikan tatapan tidak suka dari Sean.


"Velly, kau tidak boleh kasar seperti itu." Tegur Sean menarik pelan lengan Velly yang segera ditepis wanita itu.


"Aku tidak kasar Sean, aku berbicara yang sebenarnya. Aku minta kau jangan terus menuruti keinginan tidak masuk akal dari sepupu jelekmu ini!"


Baik Sean dan Via menatap tidak percaya pada Velly. Sungguh ucapan Velly sebuah penghinaan bagi Via yang merasa dirinya begitu cantik dan mempesona.


TBC