
Ketika tiba di kediamannya, Jenderal Virendra mendapati Venus yang tampak merenung. Gadis itu terlihat tengah memikirkan sesuatu hingga tidak menyadari kehadiran Jenderal Virendra.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jenderal Virendra yang sudah berdiri di hadapan Venus.
Venus menoleh kaget, "Jenderal, maaf Venus tidak menyadari kedatangan Jenderal."
"Tidak apa, Venus. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jenderal Virendra lagi.
"Jenderal ... bagaimana jika Ayahku benar-benar seorang pengkhianat?" Venus bertanya dengan ragu.
Mendengar pertanyaan Venus membuat Jenderal Virendra cukup terkejut. Pasalnya, siang tadi gadis itu terlihat optimis Ayahnya tidak bersalah dan kini keraguan itu datang menghampiri.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak percaya pada Ayahmu?" Jenderal Virendra mendudukkan dirinya di samping Venus, menatap istrinya itu dengan dalam.
"Ayah adalah orang yang baik, tapi bagaimana jika kita bisa membuktikan bahwa Ayah tidak bersalah?"
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi hingga kau menjadi ragu seperti ini?"
Mata Venus berkaca-kaca, terlihat ragu untuk mengatakan apa yang mengganggu pikirannya.
"Venus hanya menyampaikan kemungkinan yang akan terjadi. Jika Ayah terbukti bersalah dan identitas Venus terbongkar, semua orang akan membenci Venus."
Venus akhirnya menangis, membayangkan jika dia tidak berhasil memberi nama Ayahnya. Venus pasti akan dibenci oleh rakyat dan lebih mengerikan lagi jika Jenderal Virendra meninggalkannya.
Jenderal Virendra terdiam sesaat, dia sekarang tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Venus.
"Aku yakin Ayahmu tidak bersalah, kita akan membuktikannya dan menutup mulut orang-orang yang selama ini menuduh Ayahmu."
"Tapi ... Jenderal, bagaimana jika identitas Venus terbongkar bahkan sebelum kita berhasil membuktikan Ayah tidak bersalah?" Venus bertanya, menyuarakan kegelisahan hatinya karena ucapan Sella sore tadi.
"Kau takut rakyat akan membencimu?" tanya Jenderal Virendra tepat sasaran.
"Ya, Jenderal. Bagaimana jika rakyat membenciku dan meminta Jenderal meninggalkanku?"
"Sekalipun orang-orang membencimu, percayalah aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu memilihmu, baik delapan tahun yang lalu, sekarang dan di masa depan."
"Jenderal, apakah Anda menyukai Venus?" tanya Venus hati-hati.
"Aku mencintaimu Venus. Sejak delapan tahun yang lalu hingga kini. Aku selalu menunggumu hingga siap menjadi istriku, meski kita menikah karena keadaan aku tidak pernah menyesal."
Pernyataan cinta Jenderal Virendra berhasil menggetarkan hati Venus. Jantung gadis itu berdebar kencang, pipi merona malu tampak semakin cantik.
"Venus ... tidak tahu apa yang Venus rasakan. Hanya saja, bersama dengan Jenderal membuat Venus nyaman dan bahagia."
Untuk saat ini Jenderal Virendra tidak membutuhkan kalimat cinta dari Venus karena dia tahu betapa polosnya Venus. Cukup dengan Venus nyaman dan bahagia di sisinya sudah bisa Jenderal Virendra artikan gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Keduanya saling tatap, memancarkan cinta yang begitu dalam lewat tatapan. Tidak ada yang berbicara hingga tanpa sadar keduanya mendekat.
Jenderal Virendra menyentuh lembut pipi Venus, membelainya penuh kehati-hatian seolah takut melukai pipi gadis itu.
Venus terhanyut dalam pesona yang Jenderal Virendra pancarkan. Suaminya itu begitu tampan dan mempesona, pantas saja banyak gadis yang mengejarnya.
Perlahan, Jenderal Virendra mendekatkan wajah mereka hingga hidung keduanya beradu lembut. Venus memejamkan matanya, terlalu malu menatap wajah Jenderal Virendra dari jarak sedekat ini.
Jenderal Virendra mengambil keputusan, setelah ini dia tidak akan berhenti. Dia akan mengikat Venus dengan erat hingga gadis itu tidak bisa pergi darinya. Jenderal Virendra tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Pria itu memejamkan matanya, menyatu bibir dinginnya dengan bibir lembut milik Venus. Ciuman pertama yang begitu hangat dan mendebarkan. Setelahnya, semua terjadi begitu saja. Jenderal Virendra dengan keyakinan akan mengikat Venus, sedangkan gadis itudengan hanya pasrah mengikuti keinginan Jenderal Virendra.
TBC
Ada novel menarik karya author senja_90
yuk, kepoin ceritanya dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : PEMBALASAN SANG PELAKOR