My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 47 - MBV -


Kondisi Venus berangsur-angsur membaik. Wanita itu sudah sadarkan diri dan kini tengah menyusui sang buah hati. Melihat pemandangan itu membuat Jenderal Virendra merasa begitu tersentuh.


Hatinya menghangat, menatap kedua orang yang dia cintai. Mata Jenderal Virendra menatap lekat keduanya, merekam momen indah ini untuk dia kenang dikemudian hari.


Venus yang menyadari kedatangan Jenderal Virendra segera menoleh dan tersenyum lembut.


"Kau mau menggedongnya?" tanya Venus lembut.


Jenderal Virendra mengangguk dan bersiap menggendong Varesh dengan kaku. Bayinya begitu kecil dan rapuh, dia takut akan menyakiti sang anak.


"Dia tampan," bisik Jenderal Virendra pelan seolah takut suaranya membangunkan Varest yang tertidur nyenyak.


"Ya, wajahnya sangat mirip dengan kau. Dia pasti nanti menjadi rebutan gadis-gadis di luar sana sama seperti Ayahnya."


Venus tertawa kecil membayangkan Varest yang begitu tampan menjadi rebutan para gadis, sama seperti Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra tersenyum bahagia melihat tawa Venus. Rasanya sangat melegakan melihat Venus baik-baik saja.


"Dia akan menjadi pria sejati yang setia pada wanitanya, sama seperti aku." Ucap Jenderal Virendra dengan bangga seraya dengan hati-hati meletakkan Varesh kembali ke tempat tidurnya.


"Terima kasih karena telah menjadi pria yang setia," Venus berbisik lirih, matanya memancarkan ketulusan.


"Seharusnya aku yang mengucapkan hal itu. Terima kasih karena telah menjadi wanita hebat yang mau bertahan di sisiku dan telah melahirkan anak yang tampan."


Venus menggenggam erat tangan Jenderal Virendra, menatap penuh cinta pada prianya itu.


"Vir ... aku mencintaimu," bisikan itu membuat senyum diwajah Jenderal Virendra semakin lebar.


Jenderal Virendra memeluk Venus dengan erat, sesekali mengecup lembut kepala wanita itu.


"Aku juga mencintaimu, terima kasih telah bertahan di sisiku." Jenderal Virendra mengeratkan pelukannya, menyalurkan rasa cinta pada pelukan hangat ini.


Dalam diam keduanya meresapi rasa cinta yang mereka miliki. Mengulang kembali perjalanan panjang kisah cinta yang telah mereka lalui.


Keduanya berharap tidak akan ada lagi ujian berat yang akan mereka lalui. Mereka ingin hidup bahagia dan damai bersama sang buah hati.


*


*


Beberapa bulan kemudian.


Persiapan pernikahan kembali di gelar di Istana. Pasangan yang cukup menggemparkan seisi Istana karena tidak ada yang menyangka mereka menjalin kasih. Mereka adalah Sean dan Velly, mata-mata kepercayaan Jenderal Virendra.


Orang yang paling senang saat mendengar mereka akan menikah adalah Venus. Sudah sejak lama Venus menjadi penggemar keduanya. Venus menyukai interaksi yang tidak biasa dari mereka.


"Kau sudah seperti orang tua yang ingin menikahkan anaknya." Ucapan bernada godaan itu datang dari Jenderal Virendra yang baru saja tiba di aula penikahan.


Jenderal Virendra menatap penuh tanya pada Venus, Tidak mengerti ucapan Venus.


"Kau tidak lihat mereka menggemaskan. Aku sudah menduga sejak lama kalau mereka menjalin kasih." Venus menunjuk Sean dan Velly yang sedang bercanda dengan mesra.


"Biasa saja, aku pikir kita lebih dari mereka," Jenderal Virendra berucap dengan datar seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.


"Kau benar, kita lebih menggemaskan dari mereka." Venus tersenyum lebar sambil bersandar manja pada lengan Jenderal Virendra.


Siapa saja yang melihat mereka tentu saja merasa iri. Mereka tampan dan cantik, terlihat begitu sempurna.


Tidak lama Bibi Martha datang sambil menggendong Varesh yang tampak tenang. Anak itu sangat menyukai Bibi Martha, mungkin dia tahu siapa yang selama ini merawat kedua orang tuanya.


"Varest!" Venus berseru senang dan segera mengambil alih Varest dalam gendongannya.


Melihat tingkah Venus membuat Jenderal Virendra sadar bahwa wanita yang dia cintai ini memang masih sangat muda. Tingkahnya begitu menggemaskan hingga membuat Jenderal Virendra ingin mengurung Venus di dalam kamar saja.


"Kau seperti tidak bertemu dengan anakmu selama bertahun-tahun saja," komentar Bibi Martha dengan nada mengejek.


"Tidak melihatnya satu jam saja sudah membuatku rindu. Baby Varestku sangat menggemaskan jadi aku tidak tahan berpisah jauh darinya." Venus menjawab dengan santai sembari menciumi pipi chubby Varest.


"Sudah, kau akan membuatnya menangis nanti." Bibi Martha segera mengambil Varest lagi saat melihat bayi itu sudah bersiap ingin menangis.


Venus hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, Varest terlalu menggemaskan dan Venus suka sekali mengganggu anaknya itu.


"Nanti setelah Varets berusia lima tahun Venus ingin anak perempuan lagi. Bagaimana Vir? Apa kau setuju?"


Pertanyaan Venus membuat Jenderal Virendra tersentak kaget. Dia tidak menyangka Venus berencana memiliki anak lagi. Memang Jenderal Virendra belum mengatakan kondisi Venus yang sebenarnya karena pria itu tidak ingin membuat sang istri bersedih.


"Bagaimana Vir?" Venus kembali bertanya saat Jenderal Virendra tidak memberinya jawaban.


Jenderal Virendra sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia akan menentang keinginan Venus demi keselamatan wanita itu? Atau dia memilih berbohong agar tidak menyakiti perasaan Venus?


TBC


Yuk, mampir dikarya baru author judulnya "Marriage with (out) Love"



Blurb :


Elnara wanita cantik yang begitu pandai hingga dikagumi oleh banyak orang terutama kaum Adam. Sayangnya, kecantikan dan kepintaran Elnara tidak bisa menaklukan hati Zayan. Segala cara Elnara lakukan demi bisa menikah dengan Zayan, termasuk menggunakan kekuasaan keluarganya agar Zayan mau menikah dengannya.


Mampukan Elnara menaklukan hati Zayan? Atau justru Elnara memilih menyerah dan membebaskan Zayan dari belenggu pernikahan tanpa cinta?