
Venus masih berada di dalam kamarnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari luar. Para pengawal dan pelayan yang berjaga di luar kamar melarang dengar kerasa Venus keluar. Menekan rasa penasaran dan khawatirnya, Venus mau tidak mau menuruti keinginan pengawal dan pelayan.
"Kenapa perasaanku tidak enak?" gumam Venus resah.
Venus tidak tahu mengapa perasaan tidak nyaman mengahantuinya. Dia yakin ada hal buruk yang sedang terjadi. Keyakinan Venus terbukti ketika Jenderal Virendra membuka pintu kamar dengan kasar dan langsung memeluknya dengan erat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Jenderal Virendra dengan suara bergetar, dia segera memeriksa tubuh Venus yang terlihat baik-baik saja.
"Vir, ada apa? Kenapa di luar ribut sekali?" Venus balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Jenderal Virendra tadi.
Jenderal Virendra menolak untuk menjawab pertanyaan Venus. Pria itu hanya menarik pelan lengan Venus dan membawanya ke depan pintu rahasia. Perilaku Jenderal Virendra ini membuat Venus yakin ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Masuklah ke dalam, terus berjalan lurus ke depan. Di dalam sangat gelap, kau bisa membawa ini. Kau tenang saja ada Bibi Matha yang menunggumu." Jenderal Virendra menyerahkan sebuah lampu kecil dan dengan pelan mendorong Venus masuk ke dalam ruangan rahasia.
Venus menoleh bersiap untuk bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, akan tetapi Jenderal Virendra segera menutup pintu seakan menghindari pertanyaan Venus. Pintu ruang rahasia itu dibuat khusus hanya Jenderal Virendra yang mampu membukanya karena itulah Venus tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti perkataan Jenderal Virendra tadi.
*
*
Setelah memastikan Venus pergi, Jenderal Virendra segera menghubungi Letnan Dean dan Sean. Jenderal Virendra mengabari Varest telah diculik dan mereka harus segera membuat strategi baru.
Ketiganya bergegas menuju markas persembunyian. Mereka akan membahas rencana selanjutnya. Untuk saat ini Jenderal Virendra harus fokus pada pencarian Varest karena Venus bisa dipastikan aman bersama Bibi Martha.
"Aku telah mengamankan Venus bersama dengan Martha." Ucap Jenderal Virendra sembari menggelar peta khusus Negara Aleister yang di dalamnya terdapat jalur-jalur rahasia.
"Saya akan meminta Velly menemani Nyonya dan juga Martha." Sean segera menghubungi Velly dan meminta istrinya itu untuk menjaga Venus dan juga Bibi Martha.
"Untuk saat ini aku yakin mereka tidak akan menyentuh Venus karena target utamanya adalah Varest. Sebelum hari mulai gelap, segera kirim pasukan melewati jalur khusus kepung pemberontak di perbatasan." Jenderal Virendra memulai strateginya, menunjuk beberapa jalur khusus yang menuju daerah perbatasan.
"Jenderal, apakah menurut Anda dalang di balik ini semua ada seseorang yang pernah bekerja di Istana?" tanya Letnan Dean.
"Ya ... aku yakin dalangnya adalah orang yang sama saat aku diculik dulu. Aku yakin mereka akan menggunakan strategi yang sama. Untuk saat ini kirim pasukan khusus untuk menyamar dan menyusup masuk ke dalam pengasingan. Salah satu diantara mereka pasti hidup di daerah pengasingan."
Setelah Letnan Dean dan Sean pergi, Jenderal Virendra segera mengganti pakaiannya. Pria itu menggunakan seragam militer yang biasa dia gunakan saat berperang saja.
"Berani sekali kalian menyentuh anakku dengan tangan kotor kalian itu. Akan ku pastikan kalian menyesal dan memohon ampun di bawah kaki Varest!" Jenderal Virendra berkata penuh dendam, matanya menyala mengobarkan api dendam yang membara.
*
*
Venus menatap khawatir pada Bibi Martha yang menunggunya seorang diri. Mata Venus mencari-cari sosok Varest yang membuatnya gelisah. Namun, yang ada di hadapan Venus hanya Bibi Martha seorang.
"Bibi ... di mana Varest? Di mana anakku?" tanya Venus dengan suara yang mulai bergetar.
Rasa takut seketika menguasai Venus. Perasaan khawatir yang dia rasakan tadi kini kembali mengantuinya.
"Maaf, Venus ... maafkan Bibi." Bibi Martha bersujud di hadapan Venus sembari menangis.
Hanya kata-kata itulah yang Bibi Martha bisa ucapkan. Wanita tua itu merasa bersalah karena lalai dalam menjaga Varest hingga anak itu diculik.
Venus menggeleng lemah, air matanya menetes begitu saja. Venus terduduk di tanah sembari menangis histeris meneriakan nama Varest berulang kali.
"Varest ... Ibu di sini, Nak!"
Venus menangis dalam pelukan Bibi Martha. Tangisnya terdengar memilukan, membuat siapa saja yang mendengar ikut merasa sakit.
Dari balik pohon ada Velly yang diam-diam ikut menangis. Wanita itu tahu seperti apa perasaan Venus saat ini karena dia pernah merasakannya. Hati Ibu mana yang tidak terluka saat tahu anaknya tidak baik-baik saja?
Venus terus menangis sambil meneriaki nama Varest berulang kali hingga wanita itu jatuh pingsan. Melihat hal itu Bibi Martha dan Velly panik. Mereka tahu kesehatan Venus sedang menurun dan kejadian hari ini pasti menjadi pukulan keras untuk Venus.
TBC