My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 46 - MBV -


Venus tiba-tiba mengalami pendarahan hebat. Melihat hal itu Jenderal Virendra benar-benar panik, tidak tahu harus berbuat apa.


Para dokter segera mengambil tindakan, nengupayakan agar Venus selamat. Ini adalah hal yang mereka prediksi. Melahirkan diusia muda memiliki beberapa resiko besar, salah satunya adalah pendarahan usai melahirkan.


"Jenderal, Nyonya mengalami perdarahan postpartum. Perdarahan pasca persalinan ini karena riwayat anemia yang diderita Nyonya. Jenderal bisa menunggu di luar, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Jelas Dokter Tessa yang terlihat berusaha setenang mungkinkah karena dia tahu pasti bukan hanya nyawa Venus yang harus dia selamatkan, tapi juga nyawanya dan nyawa dokter yang lain.


Jenderal Virendra memilih untuk bersikap baik dan menunggu dengan perasaan gamang di depan pintu ruangan Venus. Dalam hatinya, pria itu tidak berhenti memanjatkan doa agar Venus bisa selamat dan kembali ke sisinya.


Di samping Jenderal Virendra, ada Sean dan Velly yang menunggu dengan cemas. Mereka merasa khawatir dengan kondisi Venus yang tiba-tiba memburuk.


"Sean, katakan pada Letnan Dean aku tidak akan kembali ke Istana. Tunda rapat dan urus beberapa dokumen penting, aku percayakan semua padanya!" ucap Jenderal Virendra memberi perintah pada Sean yang segera menjalankan tugasnya.


Hanya tersisa Velly yang masih setia menunggu. Pakaian gadis itu sudah berubah, tidak lagi memakai seragam pelayan. Velly memakai seragam khusus anggota elit Negara Aleister yang biasa bertugas menjadi mata-mata.


Velly adalah anggota elit Negara Aleister yang ditugaskan Jenderal Virendra untuk memantau orang-orang di sekeliling Venus. Gadis itu bahkan menyamar sebagai pelayan agar lebih dekat dengan Venus.


*


*


3 jam menunggu, akhirnya Dokter Tessa keluar ruangan. Dokter Tessa segera menemui Jenderal Virendra dan mengajak pria itu untuk berbicara serius.


"Jenderal, kondisi Nyonya saat ini sudah membaik hanya saja masih terlalu lemah. Mungkin hingga besok Nyonya tidak akan sadarkan diri, ini demi memulihkan tenaga Nyonya." Lapor Dokter Tessa yang terlihat gugup, bahkan wanita itu berjalan tergesa-gesa.


Jenderal Virendra sedikit bernapas lega mendengar penjelasan Dokter Tessa. Setidaknya, Venus sudah membaik dan itu cukup melegakan hati Jenderal Virendra.


"Ehm ... tapi Jenderal, ada sedikit masalah." Ujar Dokter Tessa dengan suara pelan seraya mempersilahkan Jenderal Virendra untuk duduk.


"Kondisi rahim Nyonya lemah dan kemungkinan jika Nyonya hamil lagi akan mengalami masalah yang sama. Kemungkinan terparahnya, Nyonya bisa kehilangan nyawa."


Mata Jenderal Virendra berkilat mendengar kondisi Venus. Dia tidak menyangka akan kondisi buruk yang dialami oleh Venus. Lagi-lagi dia harus menghadapi cobaan dalam rumah tangganya.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istriku, meski dia tidak bisa tidak hamil lagi. Pastikan dia sehat dan selamat, cukup hal itu yang harus kau lakukan."


Jenderal Virendra segera pergi meninggalkan Dokter Tessa yang gemetar ketakutan. Aura Jenderal Virendra begitu mengerikan karena itulah dia terlihat begitu gugup menyampaikan berita ini.


Jenderal Virendra segera masuk ke dalam ruangan Venus dan mendapati sang istri terbaring lemah tidak sadarkan diri. Jenderal Virendra mendekat dan berdiri di sisi Venus, menggenggam erat tangan pucat itu.


"Rasanya pasti sangat sakit," bisik Jenderal Virendra pada Venus yang belum sadarkan diri.


Jenderal Virendra mengalihkan tangannya, mengusap lembut kening Venus. Entah seperti apa Jenderal Virendra ingin menjelaskan bahwa saat ini dirinya kacau. Tidak pernah sekalipun dia merasa sekacau ini.


Bayangan Venus yang penuh darah, wajah pucat wanita itu serta rintihan sakitnya seakan menghantui Jenderal Virendra. Baru tadi dia merasa bahagia bisa mendekap sang anak dan kini kenyataan lain menamparkan dengan keras.


Bahkan ketika kehilangan kedua orang tuanya, Jenderal Virendra tidaklah sekalut ini. Namun, sosok Venus yang polos mampu menjungkir balik dunianya. Wanita itu mampu merampas semua ketenangan yang dimiliki Jenderal Virendra.


Satu hal tidak akan Jenderal Virendra sangkal, bahwa dia tidak ingin kehilangan Venus. Dia mencintai Venus dan akan selalu melakukan apa saja demi kebahagiaan wanita itu.


TBC


Mampir ya ke nove baru author judulnya "Marriage with (out) Love"