My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 58 - MBV -


Venus benar-benar merasa tidak tenang karena Jenderal Virendra belum memberi kabar baik mengenai keberadaan Varest. Sebagai seorang Ibu, tentu Venus merasa sangat bersalah karena tidak bisa berbuat banyak hal untuk menyelamatkan putranya sendiri.


Venus menatap sekeliling kamarnya, matahari hampir terbit dan keadaan di sana sangat sunyi. Venus yakin saat ini semua orang sedang tertidur pulas. Keadaan inilah yang membuat Venus bertindak berani dengan kabur dari tempat persembunyian.


Venus tidak bisa menunggu dengan sabar. Dia harus menemukan putranya sendiri dan memastikan buah hatinya itu baik-baik saja.


"Maaf Bibi dan Velly, aku harus segera menemukan Varest." Venus bergumam lirih sembari mengendap-ngendap keluar dari kamar.


Venus bernapas lega karena tidak menemukan siapapun di luar. Sepertinya Tuhan sedang memudahkan jalan dalam mencari Varest.


Setelah berhasil keluar Venus segera mencari keberadaan Varest mengikuti kemana langkah kakinya melangkah. Hingga akhirnya langkah kaki Venus berhenti pada sebuah tempat yang sangat dia rindukan.


*


*


Setelah menyiksa Endo dengan kejam, akhirnya Letnan Dean berhasil mendapatkan informasi tempat Varest disembunyikan. Segera Letnan Dean memberitahu Jenderal Virendra yang bergegas membawa pasukan menuju tempat Varest.


Sepanjang perjalanan Jenderal Virendra terus bedoa semoga Varest ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Jenderal Virendra tidak ingin kembali merasakan kehilangan.


"Berhenti, Letnan Dean!" Perintah Jenderal Virendra membuat pasukan segera berhenti berjalan.


"Ada apa, Jenderal?" tanya Letnan Dean bingung.


"Aku rasa membawa pasukan sebanyak ini terlalu mencolok." Jenderal Virendra segera berbalik menatap para pasukan yang jumlahnya sekitar 100 orang.


"Benar, Jenderal. Jadi apa yang harus kita lakukan? Saya pikir mereka juga tengah menyiapkan pasukan untuk menghadang kita."


"Tidak apa-apa, aku hanya membutuhkanmu Letnan Dean. Kita yang akan masuk ke dalam hutan itu beda dan pasukan yang lain berpencar untuk mengintai dari jauh!"


"Siap laksanakan, Jenderal!" Pasukan segera bubar dan berpencar mengintai dari jauh. Mereka akan keluar ketika Jenderal Virendra dan Letnan Dean membutuhkan pertolongan.


Setelah semua pasukan bubar, Jenderal Virendra dan Letnan Dean segera masuk ke dalam hutan. Matahari sudah terbit, sepertinya mereka sedikit terlambat. Namun, Jenderal Virendra tetap meyakinkan dirinya jika Varest pasti akan segera ditemukan.


"Jenderal, sepertinya saya melihat sebuah gubuk tua. Saya rasa itulah tempatnya." Letnan Dean menghentikan langkahnya dan berbisik pelan memberi kode pada Jenderal Virendra.


"Cepat bawa anak itu pergi, sepertinya mereka sudah tahu tempat ini karena si bodoh Endo itu!" Kalimat bernada memerintah itu datang dari seseorang yang Jenderal Virendra yakini adalah salah satu pemimpin dari kelompok pemberontak.


Para anak buahnya segera membuka pintu gubuk dan tidak lama sebuah suara ribut-ribut terdengar. Jenderal Virendra menajamkan pendengarannya, dia ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana.


"Ketua, anak itu hilang! Lihat dia membolongi tembok dan sepertinya dia kabur lewat tembok itu!"


Jenderal Virendra mendengar kalimat itu membuat jantungnya berpacu cepat. Hal ini pernah Jenderal Virendra ajari pada Varest dan putranya itu bisa melakukan hal luar biasa seperti ini.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kalian tertipu anak kecil! Cepat cari atau ketua bisa membu*nuh kalian semua!"


Jenderal Virendra bisa melihat para pemberontak itu berlari mencari keberadaan Varest. Saat itulah Jenderal Virendra dan Letnan Dean bergerak cepat agar bisa menemukan Varest lebih dulu.


*


*


Venus merasa letih setelah perjalanan yang cukup jauh. Kini dia berada di rumah lamanya, tempat di mana dia dan keluarganya diasingkan karena tertuduh sebagai pengkhianat Negara.


Venus masuk ke dalam rumahnya yang masih tampak terawat karena Jenderal Virendra selalu meminta pelayan merawat rumah ini. Venus duduk termenung disebuah bangku kosong, matanya menatap foto dirinya dan kedua orang tuanya.


"Venus merindukan kalian," Venus menangis menumpahkan sakit hati dan gelisah seolah sedang bercerita pada kedua orang tuanya.


Disaat Venus menangis, langkah kaki terdengar menuju ke arahnya. Venus berbalik dan sangat terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Varest!" Venus berlari memeluk anaknya dengan erat.


"Ibu!" Varest menangis dalam dekapan hangat Ibunya.


Ibu dan anak itu menangis, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam. Venus meyakinkan hatinya bahwa ini semua nyata, bukanlah sebuah ilustrasi belaka.


"Ibu merindukanmu, sangat merindukan Varest kecil Ibu!"


TBC