
"Tok...
"Tok...
Monica yang sedang terlelap seketika melonjak berdiri.
"Tok..
"Tok..
Lagi-lagi terdengar ketukan keras di pintu.
Dengan mata terpejam, wanita itu membuka pintu kamarnya. Monica terlihat acak-acakan. Rambutnya pun kusut masai. Semalaman ia menangis memikirkan Gabriel dan Erinka. Monic sangat merindukan keduanya.
"Cepat ke kamar tuan Luigi. Lukanya banyak mengeluarkan darah", perintah Dana di depan pintu Monica.
"Sebentar aku mengambil jubah tidur ku", ucap Monica yang sudah mendapatkan kesadaran sepenuhnya.
"Tidak ada waktu! Cepat! Bos bisa marah kalau kau lamban Monica", ketus Dana kesal.
Monica mengurungkan niatnya. Ia mengikuti Dana dengan pakaian tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Monica melipat kedua tangan nya ke depan dada. Begitulah satu-satunya jalan, agar tubuhnya tidak terekspos berlebihan. Ia terpaksa memakai pakaian tidur itu karena ada di wardrobe kamarnya.
Kemarin, tiba-tiba pakaian tersusun rapi di wardrobe yang ada di kamar. Menurut Dana, Monica boleh memakai semua pakaian di sana. Namun anehnya pakaian tidur malah berupa lingerie semua. Tentu saja Monica bingung, kenapa ia harus memakai lingerie di tempat seperti itu.
"Tok..
"Tok..
"Ceklek!
Carlo membuka pintu kamar Luigi, mempersilahkan Monica masuk. Dan memberi isyarat pada Dana agar ikut dengannya keluar kamar.
Monica melihat Luigi, bersandar di ujung tempat tidurnya yang berukuran luas sekali. Kepalanya menengadah ke atas. Monica tahu laki-laki itu menahan sakit. Monica tak bergeming dari tempatnya.
"Shittt. Apa kau akan berdiri terus di sana, sampai luka sialan ini menganga lagi?!"
Ucapan ketus laki-laki itu menghentak kesadaran Monica.
Tanpa memedulikan keadaan dirinya Monica seperti di bimbing segera mendekati Luigi. Tanpa pikir panjang ia duduk di dekat laki-laki itu.
Tak terdengar suara apapun. Ketika jemari lentik halus Monica menyentuh perut Luigi. Jemari-jemari itu terasa begitu dingin.
Luigi mengalihkan perhatiannya pada Monica yang fokus mengobati lukanya. Gadis itu sangat seksi. Rambut acak-acakan seperti itu semakin membuatnya terlihat seksi. Ditambah hanya lingerie tipis berwarna putih, menutupi tubuhnya.
Luigi bisa dengan jelas melihat pakaian dalam Monica. Bra dan panties berwarna hitam.
Monica mengganti kain kasa yang berlumuran darah. Melihat penampakan lukanya. Luigi di pastikan banyak menggunakan otot perutnya.
"Apa ia bermain begitu brutal dengan ja*angnya, hingga mengeluarkan darah sebanyak ini", batin Monica pada diri nya sendiri.
"Sebaiknya kau rebahan saja agar pendarahan nya berhenti", ucap Monica tanpa melihat Luigi. Ia menyusun kembali peralatan medis dalam tas.
Monica hendak beranjak, namun lengannya di tahan Luigi. "Kau di sini saja, memastikan luka ini tidak berdarah lagi". Suara Luigi terdengar serak ketika berucap. Netra biru laki-laki itu menatap Monica secara intens.
Mata Monica membulat sempurna. Ia baru sadar. Monica segera melipat kedua tangannya ke depan dada, berniat menutupi agar Luigi tidak melihat tubuhnya yang terekspos. Namun tindakan Monica justru fatal. Laki-laki itu menarik tengkuk Monica dan menyatukan bibirnya pada Monica.
Tindakan Luigi membuat Monica kaget. Kedua mata nya terbelalak tak percaya. Dengan nafas menderu Luigi mencium bibir dingin Monica. Berusaha menekan agar gadis itu membuka mulutnya.
Sekuat tenaga Monica menahan diri hingga bibirnya terasa perih. Ketika ada kesempatan untuk menyudahi. Monica mendorong kuat dada Luigi.
"Plakkkk..
Tamparan keras di layangkan Monica ke wajah Luigi. Yang langsung menyentuh bekas tamparan itu.
"Jangan pernah menyentuh ku! Aku peringatkan pada mu", ketus Monica mengusap bibirnya. Membersihkan bekas ciuman Luigi.
"Aku bukan ja*ang yang bisa kau perlakukan sesuka hati mu!", sambung Monica tegas sambil membalikkan badannya dengan setengah berlari meninggalkan kamar itu.
Nampak jelas seringai di wajah Luigi. "Tentu saja kau bukan ja*ang. Hm .. Dia sangat cantik!"
Beberapa saat yang lalu laki-laki itu menemui salah satu ja*ang simpanan nya. Seperti biasa Sonnia sangat senang ketika Luigi memilihnya menghabiskan malam. Namun wajah Monica selalu hadir mengacaukan segalanya. Luigi kembali ke kamarnya dan memanggil dokter itu untuk merawatnya.
*
Monica bersandar di belakang pintu. "Apa yang ia lakukan pada ku.."
Perlahan gadis itu meraba bibirnya. Masih sangat terasa ciuman kasar Luigi.
Mónica menggelengkan kepalanya. "Aku harus fokus mencari jalan agar bisa keluar dari tempat ini!"
"Berada di tempat ini, membuat ku seperti tawanan. Aku harus segera keluar. Sepertinya Luigi dan anak buahnya bukan orang baik, aku tidak tahu apa bisnis mereka sesungguhnya. Bisa saja mereka mafia, bandar narkoba atau melakukan perdagangan manusia".
Memikirkannya membuat tubuh Monica bergidik ngeri.
...***...
Tinggalkan komentar kalian ya di setiap bab 🙏