MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
ADA RUANG RAHASIA


Sudah tiga hari Monica berada di mansion mewah milik Luigi. Meskipun ia sudah mencari tahu siapa laki-laki itu melalui orang-orang yang bekerja di mansion tersebut, tapi Monica tidak mendapatkan informasi apa-apa.


Berulangkali Dana mengingatkan Monica jangan coba-coba melanggar perintah majikannya, atau berakhir kesialan untuk dirinya maupun keluarganya.


Monica bertugas merawat Luigi. Kondisi laki-laki itu mulai membaik. Walaupun ia masih rebahan di tempat tidur. Luka tembak yang di alami Luigi tidak berdampak infeksi.


Monica menjepit ujung kain kasa, setelah mengganti kasa baru di tubuh Luigi. Tepatnya di bagian perut. Bagi Monica yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter sudah biasa melihat luka dan darah seperti itu.


Saat pertama melihat tubuh Luigi yang di penuhi bekas luka maupun tembakan sempat membuat Monic kaget bergidik ngeri. Begitu banyak bekas sayatan di tubuh atletis laki-laki itu. Namun kini biasa saja ketika melihatnya. Monica bertindak profesional sebagai dokter yang sedang mengobati pasiennya.


"Kondisi mu, semakin baik. Luka tembakan tidak mengeluarkan darah lagi", ucap Monica tersenyum. Ia berusaha bersikap senormal mungkin untuk mencari celah kabur dari tempat itu.


Tidak ada jawaban Luigi seperti biasanya. Laki-laki itu selalu memasang wajah dingin dan tidak bersahabat. Bahkan Monica sempat berpikir apakah Luigi memang seperti itu keseharian nya. Selalu dingin seperti beruang kutub. Irit bicara.


"Good. Bantu aku berdiri", ucap Luigi tiba-tiba.


Monica membelalakkan kedua matanya, saking kagetnya seakan-akan dua bola mata wanita itu seperti mau keluar.


"Tidak...tidak! Tentu saja anda belum boleh bergerak. Aku tidak mengizinkan mu–"


"Shitt. Lepaskan aku! Aku membayar mu mahal, ingat itu! Jadi jangan menghalangi", hardik Luigi kesal sambil menghunus tatapan tajam pada Monica.


"Tuan Luigi, luka anda belum kering jika terlalu banyak bergerak luka itu akan terbuka kembali menyebabkan pendarahan". Monica berusaha mencegah tindakan Luigi.


"Ceklek!


"Ada apa tuan Luigi?"


Carlo masuk ke dalam kamar bos-nya setelah mendapat kabar dari salah satu penjaga, terdengar keributan di dalam kamar.


"Kau panggil Valentino, untuk merawat ku, Carlo! Aku tidak membutuhkan dokter ini lagi. Lihatlah sudah tiga hari aku tidak bisa apa-apa selain di tempat tidur!", perintah Luigi yang saat ini sudah berdiri.


Monica menatap laki-laki itu tidak percaya. Sungguh nekat. Ia belum pernah berurusan dengan pasien seperti Luigi.


Kedua netra Monica semakin terbelalak. "Apa dia akan bercinta sekarang? Laki-laki ini benar-benar sudah tidak punya akal sehat. Bisa-bisa nya dalam keadaan seperti itu malah memikirkan urusan satu itu", batin Monica terheran-heran.


"Aku muak menghadapi pasien keras kepala seperti mu. Sia-sia saja pekerjaan ku. Lebih baik kau biarkan aku pergi dari tempat terkutuk ini!", ucap Monica geram.


"Tentu saja kau tidak akan kemana-mana. Semua yang berada di tempat ini, tidak mudah untuk keluar. Tanpa kecuali", balas Luigi menatap nyalang Monica.


"Oke. Apa tujuanmu menahan ku? Kau sudah sehat sekarang, bahkan kau akan bermain-main dengan ja*ang mu", ucap Monica cukup keras. "Aku mohon biarkan aku pergi. Aku memiliki bayi. Anak ku membutuhkan ibunya. Aku janji tidak akan bercerita pada siapapun pernah mengobati mu malam itu", sambung Monica lagi.


Luigi menyipitkan matanya, sementara Carlo hanya diam.


"Aku yang menentukan kapan kau boleh keluar dari tempat ini. Cam-kan itu!"


"Carlo bantu aku!", perintah Luigi. Laki-laki itu berjalan pelan. Tampak sekali masih menahan sakit.


"Keadaan seperti itu, sempat-sempatnya ia berpikir untuk bercin*a", batin Monica menatap Luigi yang tidak mau mendengarkannya.


"Hm ..iya tuan".


Carlo membantu bos-nya berjalan keluar kamar. Tak lama kemudian Monica mengikuti mereka keluar juga. Monica bisa melihat kedua orang itu menuruni tangga.


Monica pun begitu, turun tangan. Monica melihat Luigi dan Carlo masuk ke salah satu pintu yang selalu terkunci. Monica beberapa kali hendak melihat ke dalam ruangan tersebut namun selalu di ingatkan Dana jangan coba-coba mendekati nya ataupun ingin tahu.


Monic berpikir ruang itu semacam tempat rahasia di rumah ini.


Monica memilih kembali ke kamarnya.


...***...


Tinggalkan komentar kalian di setiap bab ya 🙏