
Monica merasakan perjalanan cukup panjang. Hingga mobil yang membawa dirinya berhenti sempurna.
Monica tidak bisa melihat apapun, kecuali merasakan guncangan mobil. Ia juga merasakan kepala laki-laki yang ada di pahanya berguncang.
Laki-laki itu sering kali bergumam tidak jelas, sambil memanggil Adelle. Entah siapa Adelle itu.
Terdengar suara ramai-ramai. Dan Monica merasa pahanya seketika ringan tanpa beban lagi. Orang-orang itu sudah mengangkat laki-laki yang terluka parah itu.
"Turun!", terdengar bentakan keras.
Tutup mata Monica terbuka paksa, kepalanya pun tertarik kebelakang saking mereka menarik paksa simpul ikatan.
Monica memejamkan kedua matanya. Sinar lampu serasa menusuk tajam ke retinanya setelah di tutup lama.
Saat pengelihatan Monica kembali normal, kedua netranya beberapa kali mengerjap-ngerjap. Kemudian mengalihkan perhatiannya pada sekeliling.
Dihadapannya kini berdiri bangunan sangat megah berwarna off white. Tubuh Monica sedikit terhuyung ke depan ketika ada yang mendorong tubuhnya agar melangkah. Monica tidak tahu di mana ia kini.
Wajah Monica semakin memutih ketika tiba di dalam, melihat banyak laki-laki bertubuh besar dan berwajah bengis namun tidak ada yang mengalahkan laki-laki yang bernama Carlo yang memiliki wajah sangat bengis dan memiliki tato di sekujur leher nya. Bak pembunuh berdarah dingin.
Seketika tubuh Monica bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
"Ikut aku!", suara ketus membuyarkan lamunan Monica.
Wanita berpakaian pelayan berumur sekitar empat puluh tahun memberi perintah pada Monica agar mengikutinya. Monica patuh. Gadis itu melangkah mengikuti wanita itu ke salah satu pintu yang banyak laki-laki berbadan kekar berdiri di depannya berjaga-jaga dengan senjata lengkap.
Wanita itu membuka pintu. Ia menolehkan wajahnya pada Monica memberi isyarat agar masuk. Monica patuh.
Wajah Monica kian memutih ketika di dalam sana melihat laki-laki yang ia obati berada di atas tempat tidur pasien. Ia terlihat lebih tenang sekarang. Monica lega melihat laki-laki itu jauh lebih tenang di bandingkan saat di mobil sangat gelisah.
Sementara Carlo memberi perintah agar wanita pelayan membuka ikatan tangan Monica. Wanita itu dengan hormat menuruti perintah Carlo yang terlihat sangat berkuasa di tempat itu.
Monica mengusap pelan lengannya, saking kuatnya ikatan membuat aliran darah nya membeku. Membuat tangan putih itu memar berwarna merah kebiru-biruan.
Wajah Monica terlihat sangat lelah. Namun sekuat tenaga ia tetap berdiri tegap. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Namun dalam otaknya, Monic berpikir untuk segera melarikan diri dari tempat ini. Jika ada kesempatan. Untuk sekarang Monica akan menuruti apa yang di inginkan orang-orang di rumah ini.
"Apa yang kau inginkan dari ku? Tuan mu sudah tenang, sebentar lagi ia akan bangun", ujar Monica berusaha suara nya terdengar setenang mungkin di hadapan Carlo dan pelayan yang masih berdiri di belakang nya. Seakan menjaga Monica agar tidak nekat berlari.
Monica terdiam mendengar permintaan itu.
"Kalau aku menolak?"
"Bersiaplah kau kehilangan gadis dan bayi itu!!!", ketus Carlo menghunuskan pedangnya tepat ke netra Monica.
Monica menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Sepertinya kau tidak memberitahuku pilihan tuan".
"Baik, aku bersedia merawat bos mu, dengan catatan kau dan orang mu tidak akan mengambil satu helai rambut adik dan anak ku!", balas Monica dengan ketus.
Carlo memangut-mangut. "Aku menjamin keselamatan keluarga mu dokter".
Monica mengunci mulutnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
"Dana...antar dokter Monica ke kamar sekarang. Biarkan ia istirahat. Jangan ada yang mengganggu nya!".
Wanita pelayan bernama Dana menganggukkan kepalanya.
"Ikut aku!", perintah Dana sekilas menatap tajam Monica yang terlihat sangat lelah.
Dana menaiki tangga lengkung. Monica mengikuti wanita itu.
Tiba di lantai dua, Dana membuka pintu. Seketika kamar berukuran besar dengan furniture mewah terpampang di hadapan Monica. Gadis itu tidak perduli dengan keadaan sekitar. Yang di pikirkan nya ingin segera tidur mengembalikan lelah tubuhnya.
Ketika Dana pergi, benar saja... Monica langsung melompat ketempat tidur. "Ah, tubuhku lelah sekali. Semoga aku cepat pulih dan bisa melarikan diri dari tempat ini. Aku harus membawa Gabriel dan Erinka pergi jauhhh..."
...***...
To be continue
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya