MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
BERUSAHA


Monica melihat taman yang di maksud Gretta. Monica meraba-raba mencari dinding tembok yang menurut Gretta ada celah untuk melarikan diri.


Ya benar. Monica melihatnya. Celah itu tertutup ranting-ranting pohon.


Tanpa berpikir panjang Monica masuk ke dalam celah sempit itu. Benar kata Gretta tubuh nya muat, meskipun harus menahan nafas.


Monica berhasil. Monica tidak bisa melihat apa yang ada di hadapannya kini. Hari masih gelap. Namun Monica sempat terpekik kala kakinya merasa terbenam di air.


"Ya Tuhan di mana aku sekarang. Apa ini rawa-rawa?", ucap Monica terus berjalan. Aku harus menjauh. Bisa saja penjaga itu mengetahui Gretta tidak sendirian", gumam Monica pelan.


Tangannya bisa merasakan tumbuhan. Ia yakin sekarang berada di rawa-rawa. Meskipun Monica tidak tahu akhirnya akan sampai di mana karena hari masih sangat gelap gulita. Tidak ada pencahayaan sama sekali.


"Gabriel, mommy sangat merindukan mu sayang. Satu minggu mommy tidak bisa memelukmu. Mommy yakin sebentar lagi berjumpa dengan mu. Mommy akan membawa mu dan bibi mu pergi yang jauh".


"Kita kembali ke Rusia. Italia tidak aman untuk kita", ucap Monica dengan suara bergetar. Ia menggigil kedinginan. Sepanjang langkah yang dilaluinya hanya air bercampur lumpur yang sangat dingin. Apalagi semalam hujan rintik-rintik membasahi bumi.


"Aku harus menghemat tenaga ku", ujar Monica sesaat menghentikan langkahnya.


Andai saja tempatnya sekarang daratan tentu Monica bisa berlari sekencang mungkin. Tapi saat ini ia merasakan berada di hamparan rawa-rawa.


Tempatnya kini bisa saja membahayakan keselamatan dirinya. Mungkin ada hewan buas yang hidup di tempat itu.


"Aku harus pergi. Inilah kesempatan ku", ucap Monica pelan.


Waktu berlalu..


Perlahan Monica bisa melihat tempat seperti apa yang di laluinya. Benar seperti dugaan nya. Di hadapannya hanya nampak hamparan rawa-rawa yang di tumbuhi tumbuhan liar.


"Semangat Monica, terus melangkah pasti akan ada ujungnya", ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


Benar saja kedua netra Monica menangkap sebuah jalan yang masih cukup jauh dari tempatnya kini.


Semangat dalam diri Monica kian menyala, meskipun sesungguhnya begitu melelahkan.


Monica berusaha menepi dan memanjat tebing berbatu tajam. Tangannya mencengkram kuat bebatuan itu. Satu persatu kakinya menapaki batu-batu yang terjal itu.


"Ya...aku berhasil. Aku akan segera bertemu anak ku–"


"Selamat datang di pintu kematian mu, dokter Monica. Yaa kau berhasil. Kau menemui anak mu di neraka!"


Monica membelalakkan matanya. Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap ke atas tebing laki-laki yang berdiri menjulang sambil menodongkan senjata api padanya.


"C-arlo?!"


Tubuh Monica merosot ke bawah, gadis itu sengaja melakukannya. Tentu ia memilih tetap berada di rawa dari pada di paksa kembali ke rumah itu.


"Hahhaaa...berlari lah sejauh mungkin. Kau tetap akan berada di kawasan ini, dokter! Kau memilih rawa itu? Silahkan saja, kau benar-benar akan segera bertemu anak mu di neraka!", ucap Carlo menakuti Monica.


"Lihatlah perbuatan mu. Kau membangunkan buaya-buaya itu. Kau akan menjadi makanan lezat mereka", teriak Carlo sambil menunjuk buaya-buaya yang langsung masuk ke rawa-rawa menuju tempat Monica.


Tentu saja Monica sangat ketakutan. Ia tidak mau menjadi makanan buaya-buaya itu.


"Carlo t-olong aku!"


"T-olongggg...


...***...


To be continue