MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
KEJUTAN


Kelopak mata Monica mengerjap-ngerjap beberapa kali. Netranya terasa berat sekali untuk terbuka dengan sempurna.


Namun Monica merasa asing dengan kamarnya kini. Dengan berat gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia berada di tempat tidur berukuran sangat luas. Tubuh Monica tertutup selimut tebal berwarna silver.


Merasa asing dan tidak berada di kamarnya membuat Monica sontak berdiri. Ia pun melihat tubuhnya memakai pakaian asing. Bukan miliknya yang di sediakan Luigi di ruang wardrobe.


"Milik siapa ini?"


Monica memejamkan kembali kedua mata. Mengumpulkan kesadarannya. Mengingat apa yang terjadi padanya. Ia ingat berada di taman. Lalu tiba-tiba merasakan badannya tidak enak. Dan semuanya terlihat gelap. Ia lupa apa yang terjadi setelah itu.


Monica kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar mewah bernuansa silver itu.


Sayup-sayup Monica mendengar suara anak kecil. Seperti nya bersumber dari luar rumah. Netra Monica melihat sebuah pintu, sepertinya menuju balkon. Tanpa membuang waktu, gadis itu menuju ke sana.


Benar saja, ia melihat anak kecil sedang bermain bola dengan riangnya. Kedua netra Monica terbelalak tak percaya apa yang di lihatnya. Berulangkali ia mengucek matanya. Mulutnya menganga lebar tak percaya apa yang di lihatnya.


"Oh Tuhan...


Monica berlari ke luar kamar. Lari sekencang mungkin, bahkan ia hampir terjatuh ketika menuruni tangga lengkung di rumah itu.


"Oh God...


Tiba di bawah ia melihat seorang pelayan sedang menata meja makan.


Pelayan itu melihat Monica yang begitu panik. Berlari.


"Nona sudah bangun?"


Mónica tidak menggubris pertanyaan pelayan tersebut.


"Katakan di mana pintu menuju ke luar. Tempat anak itu bermain", tanya Monica tergesa-gesa.


Mari saya antar nona", jawab pelayan dengan hormat. Monica mengikutinya.


Tiba di luar, gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya diam membisu, air mata pun menetes dengan sendirinya. Kedua tangan Monica spontan menutup mulutnya tidak percaya apa yang di lihatnya dari atas ternyata benar adanya.


"Bibi Erin...bibi satunya sudah bangun", ucap bocah laki-laki yang sedang bermain bola menatap Monica yang berdiri dengan tubuh gemetaran. Beruntung pelayan yang bersamanya sigap menopang tubuhnya.


"Kakak?"


Gadis yang berdiri membelakangi Monica seketika menolehkan wajahnya. Senyum bahagia langsung terlukis di wajah cantik itu.


"E-rin", teriak Monica berlari memeluk adiknya yang sedang menggendong Gabriel. Detik selanjutnya Monica mendekap erat Gabriel. Menciumi wajah putranya bertubi-tubi.


Monica sangat merindukan keduanya. Hampir dua bulan tidak berpisah.


Monica berganti menatap Erinka. "Bagaimana bisa...kita di mana sekarang?", tanya Monica masih blank mengetahui ia di pertemukan kembali dengan Gabriel dan Erinka di tempat yang masih asing baginya.


Erinka menyipitkan matanya menatap aneh kakak nya. "Bukannya kakak yang meminta kami datang kemari seminggu yang lalu? Edgar bilang kakak masih sibuk dengan pekerjaan di luar kota sehingga belum datang. Uhh ternyata, kemarin kakak datang dalam keadaan sakit dan tidak sadarkan diri", ujar Erinka menjelaskan.


"Asisten kekasih kakak. Oh my God kak Monic tidak mungkin lupa. Apa kesibukan kakak bisa melupakan semuanya?".


"Ternyata satu bulan tidak memberi kabar, kakak benar-benar berubah", cicit Erinka sedikit kesal pada kakaknya. "Bahkan kau tidak memberitahuku telah memiliki kekasih", protes Erinka dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Perkataan Erinka jelas membuat Monica terdiam. Ia tidak mengerti apa maksud nya.


Namun bagi Monica yang paling penting saat ini, ia bisa bertemu dengan Gabriel dan Erinka. Ia ingin melepaskan rindu pada keduanya.


Lamunan Monica buyar ketika bocah laki-laki berwajah sangat tampan menarik pakaiannya. "Bibi aku ingin mencium Gabriel", ucapnya memohon pada Monica.


Monica menatap pasat wajah bocah tampan itu, manik hitam legam anak itu mengingatkan ia pada seseorang.


"Bibi Erin ...apa bibi ini tidak sebaik diri mu?"


Erinka tersenyum mendengar pertanyaan polos itu. "Tentu saja bibi Monica baik, Allegri", balas Erinka sambil mengucek rambut bocah itu.


"Tapi dia tidak mengizinkan aku mencium Gabriel. Sebentar lagi aku harus pergi les piano. Daddy akan memarahi ku jika aku terlambat latihan", ucap Allegri mendongakkan wajahnya menatap Erinka dengan permohonan.


Monica tersenyum melihat anak tampan yang menggemaskan itu. "Tentu saja kau boleh mencium putra ku, sayang. Monica berjongkok dan memberikan banyak kesempatan pada Allegri mencium Gabriel yang dengan lucunya menepuk wajah tampan Allegri.


Sesaat Monica tercenung memperhatikan Allegri dan Gabriel. Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya kala melihat seorang pria muda mendekati mereka.


"Tuan Edgar", sapa Erinka menganggukkan kepalanya.


Monica menatap laki-laki itu. Sama sekali ia tidak mengenalnya. "Siapa dia sebenarnya?", batin Monica.


"Selamat pagi nona Monica. Nona Erinka", sapanya ramah setelah meminta pelayan membawa Allegri pergi dan bersiap.


Monica tersenyum tipis pada pemuda yang tidak di kenalnya sama sekali itu.


"Nona Monica...Tuan Stefano ingin bertemu dengan anda sekarang", ujar Edgar menatap Monica.


"Stefano?", gumam Monic dengan wajah terlihat kebingungan.


Erinka lebih aneh lagi melihat wajah kakaknya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu berbisik di telinga Monica. "Kakak ini kenapa? Tidak mungkin kakak juga lupa pada kekasih kakak yang tampan dan baik itu. Jangan katakan kakak mengalami amnesia akut, lupa nama kekasih mu", ketus Erinka merasa bingung dengan tingkah Monica.


"Sebaiknya saya antar nona menemui tuan sekarang, mari ikut saya", ucap Edgar pada Monica.


Sesaat Monica diam tak bergeming. Ia tersadar setelah Erin mengambil Gabriel dari dekapannya. Walaupun sebenarnya enggan berpisah sejenak dengan Gabriel, namun Monica menganggukkan kepalanya memberikan Gabriel pada Erin dan ia mengikuti langkah Edgar.


Mansion itu sangat besar. Hampir sama luasnya dengan mansion Luigi tempat Monica selama ini. Lagi-lagi Monica tidak tahu di mana ia berada sekarang. Monica yakin Erinka tahu. Nanti saja ia bertanya setelah menemui pria asing bernama Stefano.


...***...


To be continue