MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
KEJUTAN II


Edgar mengetuk pintu berukuran besar yang terletak di lantai empat mansion mewah itu. Sepertinya mansion ini terdiri dari beberapa lantai.


Untuk mencapai lantai empat, Edgar mengajak Monica menggunakan lift yang tersedia. Monica tidak banyak bertanya pada pemuda itu. Namun pikirannya berkecamuk dengan berbagai pertanyaan.


"Siapa Stefano? Yang mengaku sebagai kekasihnya. Apa laki-laki itu ada hubungannya dengan Luigi. Karena terakhir kali Monica sadar betul masih berada di taman mansion Luigi Salvatore.


"Masuk!"


Suara berat itu membuyarkan lamunan Monica. Ketika pintu terbuka, seketika aroma maskulin yang sangat di kenal Monica menyeruak memenuhi indera penciuman gadis itu.


"Deg!"


Detak jantung Monica berdegup kencang. Tubuhnya bergidik. Gadis itu berdiri mematung tepat di depan pintu. Situasi itu


membuat otaknya blank.


"Selamat pagi tuan, nona Monica sudah ada", ucap Edgar dengan hormat.


 "Kau pergilah Edgar!"


Suara tegas itu jelas terdengar. Semakin membuat tubuh Monica bergidik. Sekuat tenaga Monica berusaha bersikap setenang mungkin. Namun tidak bisa. Mendadak kepalanya pusing.


"Nona, silahkan masuk", ucap Edgar. Namun Monica tidak sadar juga. Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang menduga-duga.


"Nona Monica...


"Hm... iya?"


"Masuklah. Tuan sudah menunggu anda", ucap pemuda itu sopan.


Monica menganggukkan kepalanya. Sebelum melangkah nampak Monica sesaat memejamkan kedua matanya kemudian membuang nafasnya dengan berat. Ia memegang daun pintu sebagai penopang tubuhnya yang sedikit sempoyongan.


*


Setelah pintu di tutup rapat Edgar. Perlahan Monica melangkahkan kakinya. Manik yang terlihat sayu itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ternyata itu sebuah kamar yang sangat mewah bernuansa navy, di hiasi furniture-furniture mahal.


Semakin melangkah ke dalam, aroma parfum maskulin itu kian tercium begitu lekat memenuhi Indra penciuman gadis itu. Namun tidak ada siapapun di kamar luas itu. Monica memberanikan diri membuka lebar sebuah pintu yang terbuka sedikit.


Ketika pintu itu terbuka sempurna. Spontan tangan Monica bertumpu pada daun pintu kala melihat seorang laki-laki yang sangat di kenalnya, berdiri membelakanginya menatap keluar jendela kaca di kamar itu.


Monica menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Menatap punggung lebar laki-laki itu. Laki-laki itu masih memakai training panjang dan kimono panjang berwarna hitam membalut tubuh atletisnya.


"K-au–"


Mendadak kepala Monica pusing. Sekujur tubuhnya lemas setelah laki-laki itu membalikkan badannya menghadap Monica.


Kedua kaki Monica terasa lumpuh. Hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Gadis itu hampir terjatuh kalau saja laki-laki itu tidak segera berlari menangkapnya.


Monica berulangkali mengerjapkan kedua matanya menatap laki-laki itu, yang spontan mengangkat tubuh lemahnya. Tak percaya. Bagaikan melihat hantu, tapi tidak mungkin karena kini matahari mulai meninggi.


Bahkan Monica memberanikan diri menyentuh wajah laki-laki itu. Ia tidak sedang bermimpi. Sungguh nyata.


"Kenapa kau tega melakukan semua ini pada ku?", lirih Monica ketika duduk di tepi tempat tidur sembari mendongakkan wajahnya menatap Luigi Salvatore yang berdiri menjulang di hadapannya.


"K-au tega membohongi ku. Membuat ku menyalahkan diri atas kematian mu", ucap Monica dengan mata berkaca-kaca menatap lekat wajah laki-laki itu yang juga menatapnya penuh perasaan.


Luigi terlihat baik-baik saja.


"A-ku tidak bermaksud membunuh mu, Lui–"


Monica tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika mulutnya di penuhi bibir kenyal Luigi yang tiba-tiba melu*at bibirnya.


Monica terdiam. Tidak menolak maupun membalas ciuman itu.


Untuk yang pertama, Luigi menciumnya penuh kelembutan, membuat tubuh Monica seketika meremang. Perlahan gadis itu membuka mulutnya dan membalas ciuman Luigi tak kalah panas nya.


 Seakan melepas rindu yang begitu menyiksa, keduanya bergumul di atas ranjang berukuran luas itu.


Tanpa melepaskan tautan bibirnya, jemari Luigi menelusup masuk ke celah kancing baju tidur yang masih membukus tubuh Monica yang nampak kursus.


Kedua manik coklat Monica menatap sayu Luigi yang juga menatapnya. Saling menyelami satu dan lainnya.


Monica perlahan menarik jemari kokoh laki-laki itu yang berada di dadanya. Monica menggelengkan kepalanya.


"Menikah lah dengan ku Monica Dimitrov. Tinggallah di sampingku di rumah ini", ucap Luigi bersungguh-sungguh sembari menatap intens kedua manik gadis itu yang masih berada di bawah tubuhnya.


Jemari kokoh Luigi mengusap lembut wajah putih mulus Monica. Masih nampak jelas lelah di wajah itu dengan kantung mata menebal.


"Aku janji, tidak akan membuat mu meneteskan air mata lagi. Dan aku tidak akan memisahkan kau dan putra mu lagi", ucap Luigi terdengar begitu lembut tepat di depan bibir Monica.


Kalau boleh jujur, penuturan Luigi memberikan gelenyar aneh di sekujur tubuh Monica. Setelah kepergian Silvio ia tidak dekat dengan laki-laki manapun hingga takdirnya mempertemukan ia dan Luigi Salvatore, meskipun dengan cara menyakitkan karena harus berpisah dengan Gabriel putranya.


Monica menyelami netra biru laki-laki itu. Terlihat nyata ketulusan di sana. Jemari tangan Monica terangkat, membelai lembut rahang Luigi.


"Beri aku waktu. Aku belum lama kehilangan suami ku. Aku juga baru bertemu anak ku lagi", ucap Monica pelan.


Keduanya masih bertatapan penuh perasaan.


Luigi menganggukkan kepalanya. Untuk yang pertama kali nya, Monica melihat senyuman di wajah laki-laki itu.


"Aku akan menunggu, saat kau sudah siap memulainya", bisiknya ditelinga Monica.


Monica memeluk erat tubuh atletis laki-laki itu.


"Luigi... bagaimana luka mu, aku akan memeriksa nya sekarang", ucap Monica tiba-tiba, ia baru saja teringat tentang luka yang ia sebabkan beberapa minggu yang lalu.


"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak bermaksud melukai mu–"


"Tapi kau melakukannya", potong Luigi sambil menciumi leher jenjang Monica.


Monica tersenyum mendengarnya seraya mendongakkan wajahnya. Lidah Luigi membuat nya geli.


"Aku dendam padamu. Kau sangat kejam. Bahkan kau membunuh Gretta".


"Kau melarikan diri dari ku! Saat mendengar kau melarikan diri aku sangat marah pada pelayan itu. Aku tidak membunuhnya. Gadis itu tidak apa-apa sekarang. Melayani laki-laki, memang pekerjaan nya", ucap Luigi masih menciumi leher Monica.


"Benarkah? Kau tidak bohong padaku kan, Lui?", tanya Monica spontan bangun dan mendorong tubuh gagah laki-laki itu.


Luigi terlentang di samping nya. Detik berikutnya ia menjadikan paha Monica tempat kepalanya.


Monica membelai rambut hitam lebat laki-laki itu.


"Kenapa kau membohongi ku, pura-pura mati?", tanya Monica menatap wajah Luigi.


Tangan Luigi menarik tengkuk Monica. Kembali me*umat bibir gadis itu. "Apa kau takut kehilangan ku, hem?"


"Masalah ku begitu banyak. Kau memisahkan aku dengan anak ku, Lui. Tapi mengetahui kau mati, jujur membuat ku sedih. Aku tidak bermaksud membuat mu mati. Aku hanya berniat memberi mu pelajaran", ucap Monica.


Luigi mengusap lembut bibir Monica yang membuatnya candu. "Sekarang kau tidak akan berpisah dengan anak mu lagi. Tapi aku ingin kau dan keluarga mu tetap bersama ku di rumah ini, Monica. Kita akan memulai dari awal. Saling mengenal. Apa kamu mau memulai nya, hem?"


Monica terdiam sejenak. Kemudian menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Luigi.


...***...


To be continue


Bab ini panjang chapter nya. Sebenarnya untuk 2 bab, author jadikan 1 biar bacanya puas tidak terpotong².


Tinggalkan banyak komentar ya teman-teman 🙏