MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
ERINKA KUATIR


Erinka sedang menyiram bunga di taman mungil depan rumahnya. Ketika dua orang tetangga mereka menanyakan Monica.


"Nona Erinka, kapan kakak anda pulang? Sekarang musim dingin banyak warga yang menderita sakit dan butuh pengobatan", ucap salah satunya.


Erinka menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya sejak tiga hari kepergian Monica ia belum mendapatkan kabar apapun tentang kakak nya. Mengingat ancaman orang-orang yang membawa Monica, Erinka takut untuk bercerita yang sebenarnya.


"Kakak ku belum memberi kabar kapan akan kembali bibi. Ia harus mengikuti seminar di kota Roma", ucap Erinka berbohong.


"Semoga pekerjaan nona Monica cepat selesai, terlalu jauh jika harus berobat ke desa tetangga", ujar salah satunya.


"Iya bibi", jawab Erinka tersenyum ramah pada keduanya, walaupun sebenarnya senyuman itu sesungguhnya tampak getir. Mengingat belum ada kabar tentang Monica.


*


Monica menatap wajahnya dari pantulan cermin di kamar. Seminggu telah berlalu, Monica tidak melakukan apapun di tempat itu.


Luigi dan Carlo sudah beberapa hari juga tidak nampak di mansion itu. Lebih tepatnya sejak Luigi mencium dirinya, Monica tak melihat keberadaannya lagi.


Saat ini sudah malam. Langit di luar semakin gelap, seharian hujan mengguyur bumi.


Monica beranjak dari duduknya, perlahan ia membuka pintu kamar dan mengintip situasi di luar. Biasanya ada dua penjaga berdiri di sudut koridor. Tapi sekarang tak nampak penjagaan di sana.


Perlahan Monica menutup pintu dan melangkah mendekati tangga lengkung, namun ternyata terdengar derap langkah kaki menaiki tangga dari lantai bawah.


Monica celingak-celinguk mencari tempat persembunyian. Ia tidak terpikir untuk kembali ke kamarnya.


Kakinya menuntun menaiki tangga.


"Oh my God, kenapa aku malah ke sini? Lantai ini milik laki-laki itu. Tidak ada apapun untuk tempat bersembunyi, hanya ada kamar Luigi", batinnya.


Lagi-lagi derap langkah itu terdengar menaiki tangga menunju tempatnya.


"Bagaimana ini?", gumam Monica panik.


Monica pelan-pelan berlari, yang di tuju nya kamar Luigi. "Semoga tidak terkunci", ucapnya. Semoga laki-laki itu tidak pulang malam ini. Dan yang menaiki tangga itu hanya pengawal yang akan berjaga di luar kamar", sambungnya lagi.


Monica menghembuskan nafas lega ketika berada di kamar yang sudah tiga hari selalu di masukin itu. Namun ia tidak memperhatikan sama sekali keadaan di sana. Ternyata sangat luas.


Pendengaran Monica bisa mendengar langkah kaki mendekat di depan pintu.


"Oh my God, jangan bilang ia kembali–"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan bantu aku".


Pikiran Monica menuntunnya membuka lemari. Tanpa pikir panjang gadis itu masuk ke dalam lemari yang di penuhi pakaian Luigi pastinya. Monica menahan nafasnya, ia takut jika ada yang mengetahui keberadaan ia sekarang.


Monica mengatur nafasnya agar teratur. Meskipun jantungnya masih berdegup kencang ketika derap langkah kaki yang di hindarinya berada di kamar itu.


Monic, berusaha mengintip dari celah pintu lemari. Benar saja pemilik mansion telah kembali. Luigi kembali. Laki-laki itu nampak sehat. Monica bisa melihatnya.


Berulangkali gadis itu menelan saliva-nya. Kala Luigi melucuti satu persatu kancing kemejanya. Dan melempar kemeja itu ke sembarang arah. Perut ratanya masih terlilit kain kasa. Nampak bersih. Seperti baru di ganti.


"Apa mungkin ja*angnya yang merawat luka itu beberapa hari ini?", pikir Monica.


Tidak sampai di situ saja, Luigi menjepit handphone miliknya ke bibirnya. Sementara jemari tangannya membuka sabuk yang melingkar di celana jeans yang ia pakai.


"A-pa yang ia lakukan?"


Mendadak tubuh Monica gemetaran. Monica semakin panik ketika laki-laki itu menuju lemari tempatnya bersembunyi.


"Shittt. Apa yang harus aku lakukan sekarang", ucapnya panik sekali yang berakibat fatal karena kepalanya menyentuh gantungan besi di atas kepalanya menimbulkan bunyi berisik.


Jantung Monica berdegup kencang. Jemari tangannya menutup mulut dan hidung yang mengeluarkan nafas menderu kencang.


Monica bisa melihat Luigi curiga. Laki-laki itu menyipitkan matanya menatap tajam ke arah lemari. Dengan spontan ia mengambil pistol yang masih tersemat di pinggangnya.


"Oh Tuhan tolong aku!"


...***...


To be continue