
"Suamiku...
"Aku dan anak mu datang...
"Akan kutemukan pembunuh mu, dan membalas perbuatan mereka pada mu!"
Seorang wanita muda bersimpuh di depan makam, sambil mengendong bayi dalam dekapannya. Wajah pucat wanita itu tidak dapat menutupi kecantikan yang ia miliki.
"Aku akan membalas perbuatan mereka yang telah merenggut kebahagiaan Gabriel anak kita. Bahkan kau tidak sempat bertemu putra mu, Silvio!"
Lima bulan yang lalu Monica Dimitrov, menangis pilu ketika mendapat kabar bahwa suaminya Silvio tewas terbunuh dengan mengenaskan, luka tembak memenuhi sekujur tubuhnya. Enam butir peluru tajam bersarang di kepalanya.
Sangat kejam pembunuh itu!
Kabar kematian Silvio, membuat Monica yang sedang mengandung terguncang hebat, ia harus melahirkan Gabriel meski belum waktunya.
"Aku harus menemukan pembunuh itu. Kematian Silvio selalu menghantuiku", janji Monica dengan tangan terkepal menatap kuburan suaminya.
"Ibu akan berjuang menemukan pembunuh ayah mu Gabriel", ucap Monica dengan suara bergetar.
Ia mengusap wajah anaknya yang berusia tiga bulan itu.
Seakan mengerti akan kesedihan Monica, sang anak bersuara sambil mengangkat kedua tangan mungilnya hendak menyentuh wajah Monica.
Monica tersenyum miris melihat Gabriel. Ia hanya bisa mendekap erat bayi mungil itu. Mencium wajah berisi dan jemari mungilnya.
"Kak Monic, sebaiknya kita pulang hari sudah sore", ucap seorang gadis yang menemani Monica.
Angin sore terasa sangat kencang di dataran tinggi desa tempat tinggal mereka yang berada di pegunungan. Monica tahu cuaca seperti itu tidak baik untuk Gabriel.
Monica masuk ke dalam mobil. Menatap keluar jendela.
"Kita mampir ke toko kue dulu Erinka, semua persediaan di rumah hampir habis".
"Iya kak", jawab Erinka memutar setir mobil menuju arah kota.
Jarak ke kota dari desa mereka sekitar tiga puluh menit. Mengingat hari sudah menjelang sore, Erinka bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Jika hari sudah mulai gelap orang-orang di daerah sana takut berada di luar rumah. Banyak terjadi kejahatan. Bahkan desa yang di kelilingi hutan lebat dan Jurang-jurang yang curam menjadi tempat favorit penjahat untuk bersembunyi di kawasan tersebut.
Setelah membayar semua belanjanya, Monica dan Erinka kembali ke mobil mereka. Erinka merupakan adik Monic, sejak kepergian Silvio Erinka tinggal bersama Monica dan Gabriel. Selama ini Erinka menetap di Rusia. Mengingat kondisi Monica tidak baik-baik saja setelah kepergian suaminya, Erin memutuskan meninggalkan pekerjaannya di Rusia untuk menetap di Italia menemani sang kakak.
Kehadiran Erinka, membuat Monica tidak terlalu merasakan kesepian. Ia di bantu Erin mengurus Gabriel sejak anak itu lahir ke dunia.
*
Mobil yang di kendarai Erinka berhenti di depan rumah bercat orange. Rumah-rumah di perdesaan Italia memang nampak berwarna-warni. Mereka miliki pemikiran sendiri tentang hal itu. Yang pasti dengan warna cerah bisa menghilangkan rasa ngeri ketika berada di sana. Apalagi jarak rumah yang satu dan lainnya berjauhan. Seperti halnya dengan rumah Monica.
Terlihat plang di depan rumah berlantai dua itu.
dr. Monica Dimitrov
Ya Monica berprofesi sebagai seorang dokter umum. Ia kerap membantu masyarakat sekitar untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka.
Orang-orang menyukai Monica dan Silvio yang suka membantu tetangga mereka.
Silvio Belucci, suami Monica di kenal sebagai pengusaha pemilik perkebunan anggur. Ia memboyong istrinya dari Rusia untuk tinggal bersamanya dua tahun yang lalu.
Hidup bahagia dan harmonis, keluarga Silvio di senangi warga Castelmola. Nama desa tempat tinggal mereka.
...***...
Hai haii jumpa di novel ke-13 Emily. Tema kali ini Mafia dengan latar belakang Kepulauan Sisilia di Italia. Semoga kalian suka dan memberikan banyak komentar di setiap bab 🙏