MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
MONICA DIMITROV


Monica Dimitrov, wanita blasteran Italia dan Rusia, berusia 26 tahun. Monica biasa di panggil Monic oleh teman-temannya. Ia berprofesi sebagai dokter yang menetap di sebuah desa kecil Castelmola. Desa kecil di Sisilia.


Monica menyelesaikan pendidikan dokter di negaranya pada usia dua puluh empat tahun. Ia bertemu dengan Silvio ketika sama-sama dalam satu pesawat menuju kota Roma. Sepanjang perjalanan keduanya menghabiskan waktu berbincang-bincang.


Sejak itu, Monica dan Silvio sering berkomunikasi melalui handphone maupun chatting melalui media sosial masing-masing setelah keduanya bertukar nomor handphone di pertemuan pertama. Bagi Monica, Silvio sosok yang baik dan bertanggung jawab.


Monica menerima pinangan Silvio, setelah setahun setengah berhubungan jarak jauh. Sesekali Silvio mengunjunginya. Gadis itu yakin pada niat baik Silvio yang akan menjadi suaminya.


Monica tidak menolak ketika Silvio mengajaknya tinggal bersamanya di kepulauan Sisilia. Tepatnya di desa Castelmola yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Namun Silvio mengenalkan desa indah itu pada Monica melalui internet. Silvio juga kerap membagikan kegiatannya di perkebunan miliknya. Monica benar-benar jatuh hati pada Silvio dan Castelmola. Hingga ia tak ragu sedikitpun pindah ke sana.


Letak desa di pegunungan Sisilia membuatnya jarang dikunjungi orang-orang. Untuk sampai ke desa Castelmola harus melewati jalanan yang terjal dan curam, membuat sebagian orang enggan berkunjung ke sana.


Walaupun Castelmola memberikan pemandangan spektakuler yang sangat indah, tetap saja tidak mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.


Malahan di tempat-tempat tertentu, di jadikan persembunyian para mafia dari kejaran musuh-musuh mereka.


Monica tinggal bersama mendiang suaminya Silvio. Silvio dikenal sebagai pebisnis di desa itu. Ia memiliki perkebunan anggur. Silvio dan Monica saling mencintai dan hidup dalam kebahagiaan.


Namun kebahagiaan itu terenggut, ketika Silvio mati terbunuh oleh orang yang tidak di ketahui identitasnya.


Silvio di temukan tergeletak tak bernyawa di jurang oleh seorang petani. Mayat Silvio sudah mengeras di perkirakan ia meninggal sudah beberapa hari sebelum di temukan.


Tentu saja kabar mengejutkan itu membuat Monica syok. Berhari-hari memikirkan kematian Silvio, membuat Monica yang sedang hamil tua harus rela melahirkan sebelum waktunya.


Setelah kehilangan Silvio, hidup Monica terasa begitu berat. Hingga Erinka memberinya semangat untuk kembali menata hidup bersama Gabriel putra semata wayangnya.


Ya... Erin benar. Sejak kehadiran Gabriel Silvio Belucci, perlahan Monica bisa menerima kematian suaminya. Ia mulai menampakkan dirinya keluar rumah. Bahkan perlahan, Monica bisa tersenyum dan tertawa lagi.


Kini aktifitas Monica kembali seperti sediakala, membuka prakteknya tepat di samping rumahnya. Letak rumah sakit yang jauh membuat tempat praktek Monica ramai di kunjungi tetangga yang ingin memeriksakan kesehatan mereka.


*


"Nona Monica, saya permisi pulang", ucap gadis muda yang bekerja bersama Monica setiap hari.


Monica yang sedang membaca laporan hari ini menghentikan aktifitas nya.


"Iya. Besok jangan terlambat Isabelle".


"Iya nona", jawab gadis itu sambil menyerahkan kunci pada Monica sebelum pulang.


*


Monica masih di ruang kerjanya. Menyelesaikan tugasnya yang belum selesai. Ia tidak perlu kuatir karena tempat prakteknya menyatu dengan rumah. Jadi kapanpun ia lembur tidak perlu kuatir. Ia akan aman berada di sana.


Dengan kesibukan nya, Monica bisa melupakan kematian Silvio yang selalu membayanginya kala rasa sepi menghampiri.


"Kak, sudah malam. Apa kakak akan tidur di sini?"


Suara Erinka membuyarkan aktifitas Monica yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Ia mengangkat wajahnya.


"Sedikit lagi. Apa Gabriel sudah tidur?"


Erinka mendekati meja kerja Monica. "Iya. Keponakan ku sangat lelap tidurnya. Ah semakin hari, Gabriel tumbuh begitu menggemaskan", ucap Erinka tersenyum mengingat wajah lucu Gabriel yang saat ini berusia tiga bulan menuju empat bulan.


"Iya. Semakin hari wajah anakku begitu mirip ayahnya, Erin", ujar Monica menatap langit-langit seraya menyandarkan punggungnya. Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan berat dan terdengar tersengal-sengal. Menandakan begitu berat juga beban pikiran nya, ketika mengingat Silvio.


Seketika wajah Silvio berkelebat di kepala nya. "Ah, Silvio...aku sangat merindukanmu sayang", ucapnya pelan.


...***...


JANGAN RAGU TUK TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA. KALAU SEPI KARYA INI AKAN CEPAT TAMAT.