
Pangeran Surya Kelana merasa sangat sedih sekali melihat fotonya yang sangat keras kepala dan tidak bisa dibujuk olehnya.
Putri Ayuningtyas tetap bersikerasan ingin menjadi istri dari Raja Abiyaksa dan menetap di kerajaan ular hijau sebagai permaisurinya.
"Putriku kenapa kau sangat keras kepala sekali?" tanya Pangeran Surya Kelana yang merasa begitu sedih karena sangat sulit untuk membujuk dan mengendalikan putrinya yang keras kepala.
Ratu Deniz menatap kepada Raja Abiyaksa. Dia kemudian berbicara kepadanya. "Raja Abiyaksa, Kenapa kau menolak untuk menikah dengan Putri Ayuningtyas yang jelas-jelas mencintaimu? Menikah lah dengannya agar kita bisa menjadi saudara dekat. Karena Putri Ayuningtyas melupakan keponakanku." Ratu Deniz berusaha keras untuk membujuk Raja Abiyaksa yang selalu menolak permintaan semua orang yang hadir di sana kecuali Jenderal Anom.
Jenderal Anom merasa sedikit kesal. Marena wanita yang dia cintai malah lebih memilih rajanya daripada dirinya yang jelas-jelas mencintainya.
"Raja Abiyaksa! Kalau Anda menikah dengan Putri Ayuningtyas, maka akan kupastikan aku akan segera mengerahkan seluruh prajurit yang ada di bawah komandoku untuk memberontak! Kau jelas tahu bahwa aku sangat mencintai Putri Ayuningtyas dan ingin menjadikan dia sebagai istriku. Aku mohon kepadamu untuk bisa mewujudkan cintaku kepadanya!" Pangeran Surya Kelana terlihat bingung dengan situasi yang sangat menjengkelkan itu.
Semuanya begitu keras kepala dengan pendirian mereka masing-masing dan tidak ada yang bisa dibengkokkan keinginannya.
Hingga akhirnya tiba-tiba saja sebuah asap tebal berwarna putih nampak di hadapan mereka.
Pangeran Surya Kelana cukup terkejut karena ternyata asap itu adalah kehadiran leluhurnya. Di sana ada juga kedua orang tua Raja Narendra.
Semua abdi dalam istana dan juga dewan istana, langsung bersujud di hadapan mereka untuk menghormati kedatangannya.
Pangeran Surya Kelana langsung mendekati Ayah dan Ibunya dan terlihat begitu bahagia dengan kedatangan mereka.
Pangeran Surya Kelana berharap kedatangan mereka bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah yang sangat memusingkan kepalanya.
"Kenapa kalian dari tadi belum juga selesai untuk berdiskusi?" tanya Raja terdahulu sambil menatap seluruh anggota rapat dengan tatapan serius.
"Amoun, Yang mulia Raja sebelumnya, semuanya sangat sulit untuk dibujuk. Sehingga kami kesulitan untuk bisa mengambil keputusan."
"Benar Yang Mulia! Masing-masing dari mereka memiliki pendirian dan cinta yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kami menjadi bingung untuk mengambil keputusan!" Pangeran Surya Kelana hanya bisa menundukkan kepala karena merasa malu dengan putrinya yang sangat keras kepala sehingga merepotkan semua orang yang ada di aula istana.
Seandainya saja Putri Ayuningtyas bisa dikendalikan dengan baik semua masalah itu akan beres.
Tetapi Putri Ayuningtyas tidak mau menyerah dengan cita-cita dan cintanya sendiri. Dia sejak dulu memang mengagumi dan menyayangi Raja Abiyaksa. Oleh karena itu dia sangat senang sekali ketika leluhurnya mengatakan tentang perjodohan mereka di masa lalu.
"Kakek! Apakah salah kalau aku ingin mewujudkan cita-citamu untuk memiliki pernikahan dengan istana kerajaan ular hijau sesuai dengan instruksi Kakek kemaren?" Putri Ayuningtyas mencari pembelaan dari kakeknya yang terlihat sedang mengelus janggutnya yang berwarna putih dan panjang.
"Perhatikanlah manuskrip yang ada di tanganku ini baik-baik!" Dia kemudian melemparkan manuskrip yang ada di tangannya kepada Raja Abiyaksa.
Raja Abiyaksa awalnya bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh sang leluhur terhadapnya. "Manuskrip apaan ini? Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya Raja Abiyaksa merasa bingung dengan hal itu.
"Bacalah dulu! Apa kau tidak bisa membaca atau kau tidak bisa mendengar apa perintahku?" Raja Abiyaksa berdecih sebal karena apa yang dilakukan oleh leluhur Istana Kerajaan Kucing seperti sedang menjatuhkan harga dirinya di hadapan semua orang yang saat ini sedang tertawa kepadanya.
Dengan perasaan sebal dia pun kemudian membaca manuskrip yang ada di tangannya dan dia terlihat membelalakkan matanya.
"Omong kosong! Aku tidak percaya dengan isi dari manuskrip ini! Pak Tua dari mana kau mendapatkan manuskrip yang penuh dengan kebohongan ini?" leluhur dari istana kerajaan kucing melotot sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Abiyaksa yang tidak mempercayai manuskrip yang tadi dia bawa.
"Dasar kau anak muda ceroboh dan sangat lancang! Bagaimana mungkin kau mengatakan orang tua sepertiku sebagai pembohong? Kurang ajar!" sang leluhur terlihat begitu marah sampai menantang Raja Abiyaksa untuk bertarung dengannya.
Raja Abiyaksa yang selalu percaya diri dengan kemampuannya, dia pun tidak keberatan atau takut untuk menghadapi tantangan tersebut.
"Kalau aku memenangkan pertarungan ini, maka kau harus memenuhi apa yang ada di dalam manuskrip itu dan jangan banyak protes dengan apa yang akan terjadi kedepannya! Paham?" Raja abiyaksa sebenarnya merasa pening kepalanya mendengar ucapan dari leluhur Istana Kerajaan Kucing.
Akan tetapi harga dirinya sebagai seorang ksatria yang terkenal di alam siluman memberontak dan tidak terima kalau dirinya tidak dihargai dan di anggap takut untuk bertarung dengan leluhur Istana Kerajaan Kucing yang dia anggap sebagai orang yang sudah lansia dan pastinya sudah berkurang banyak kekuatan dan kesaktiannya.
Sementara dirinya adalah seorang raja yang kuat dan memiliki ilmu kanuragan yang sakti. Dia yakin bisa memenangkan pertempuran itu tanpa kesulitan.
"Kalau misalkan aku menang apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Raja Abiyaksa dengan penuh percaya diri.
"Tentu saja kau bisa meminta apapun yang kau inginkan. Aku tidak peduli apapun pasti akan kuberikan kepadamu!" lagi apa terlihat begitu gembira mendengar janji yang diberikan oleh leluhur Istana Kerajaan Kucing yang terlihat begitu dihargai dan dihormati oleh keturunannya yang hadir di sana.
Raja Abiyaksa menatap kepada Ratu Deniz. Dia terlihat bahagia sekali karena merasa bahwa itu adalah kesempatannya untuk bisa mendapatkan wanita yang dia cintai yang selama ini sangat sulit untuk dia perjuangkan.
"Kalau aku menang, aku ingin menikah dengan Ratu Deniz! Apakah kau bisa menjanjikan itu padaku?" Ratu Deniz terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh raja abiyaksa yang sangat keterlaluan baginya.
"Lancang sekali! Beraninya kau meminta hal yang tidak mungkin bisa kau dapatkan!" Perdana Menteri istana kerajaan kucing terlihat begitu murka dengan apa yang diminta oleh Raja Abiyaksa ketika dia bisa memenangkan pertandingan tersebut.
Raja Abiyaksa hanya tersenyum penuh kemenangan karena dia merasa bahagia sudah bisa membuat aula Istana Kerajaan Kucing terlihat begitu ramai dan ricuh, karena banyak yang protes soal keinginan dirinya yang ingin mendapatkan Ratu Deniz sebagai istrinya.
Raja Narendra sejak tadi sudah menahan emosi dengan terus mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat erat sekali. Saat ini darahnya terasa sedang mendidih karena amarah dihatinya.